"Masa lalu itu terkadang menyakitkan, sampai kau tahu bagaimana cara mengatasinya."
***
Suara tawa kembali muncul dalam ingatannya, tawa yang begitu nyaring, suara dua anak kecil yang tengah bermain di dekat ayunan. Mereka terlihat sangat bahagia, melepas kebebasan dengan berlarian kecil di dekat bukit.
Angel mengerjapkan mata memandang sekelilingnya yang tak asing saat menyadari ia berada di kamar, kepalanya masih terasa pusing, perlahan ia mulai menyesuaikan diri dengan pandangan disekitar, seorang laki-laki berdiri tepat di hadapannya, memandang dengan wajah datar, tanpa berekpresi.
"Ray!" panggil Angel pertama kali.
"Angel, syukurlah kamu baik-baik saja," sahut Julian yang berada di sampingnya, tapi kenapa pandangan Angel justru mengarah pada Ray yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Julian!" Angel mulai membiasakan diri sesaat setelah sadar.
Ray yang masih berdiri tanpa sepatah katapun mengucapkan kalimat saat Angel sadar, ia memilih diam dengan wajah ketus seperti biasanya. Julian dapat melihat sorot mata tak suka yang ditunjukkan Ray pada Angel.
"Ray yang bawa kamu kesini waktu kamu pingsan tadi," ujar Julian pada Angel.
Angel menatap Ray sambil menyunggingkan senyuman.
"Makasih Ray!"
"Bagus deh kalau lo nggak papa." ucap Ray datar seakan tak peduli.
***
Saat Ray kembali ke kamarnya, lantas ia berjalan menuju ke salah satu meja dan menarik laci kecil yang di dalamnya terdapat sebuah benda berbentuk kotak yang dulu hampir dipecahkan Angel. Dipandangi kotak musik berwarna merah muda yang masih tersegel rapat yang memperlihatkan bagian retak di beberapa bagian, benda kotak itu salah satu benda berharga yang pemilik kunci itu sudah tiada. Sejenak ia kembali teringat akan sosok gadis masa kecilnya, Mika.
Apa barang ini hanya akan menjadi kenangan. Kenangan yang harus gue lupain, kenangan tentang Mika , batin Ray menghela napas panjang sebelum kembali menyimpan kotak itu di laci.
Mika adalah sosok masa lalu yang teramat menyakitkan. Bukan! Dia hanya pergi tanpa ijin terlebih dahulu padanya. sosok yang tak pernah bisa ia lupakan, bahkan sampai sekarang Ray masih memegang janji yang pernah ia buat dengan Mika. Ray hanya takut suatu saat nanti ia akan kembali terpuruk, namun kali ini situasinya berbeda. Ray kembali menerima cahaya dari seseorang, ia merasakan satu kehangatan yang nyaman yang selama ini tak pernah ia rasakan, dan satu cahaya itu berhasil membuatnya tersenyum walau untuk beberapa saat. Gadis menyebalkan yang berhasil menghapus satu ingatan tentang Mika, gadis itu tak lain adalah Angel.
....
06.45 di Kamar Ray.
10 pelayan telah berdiri di kamar Ray dengan wajah ketakutan yang menunjukkan kegelisahan, dan salah satu pelayan mencoba masuk dengan dorongan pelayan di belakang. Baru beberapa menit setelah kepergian pelayan yang masuk tadi, terdengar suara teriakan yang cukup nyaring.
" Cepat keluar, lo... gue PECAT!" teriak Ray dengan posisi masih berada di balik selimut.
Rumor tentang pemecatan pelayan di kediaman keluarga Raveno memang benar, alasan kenapa banyak pelayan yang dipecat hampir setiap hari, tak lain karena ulah Ray.
"Tuan!"
"Keluar! Jangan ganggu gue." teriakan Ray yang begitu keras membuat pelayan itu takut dan langsung keluar dengan menangis sambil merosot ke bawah.
Di kamar Angel telah bersiap untuk berangkat ke sekolah, ia lalu keluar dan tak lupa menutup pintu kamar sambil menggendong tas ransel di pundaknya. Saat ia melewati kamar Ray otomatis ia melihat banyak pelayan berdiri dengan ketakutan, Angel menyerngitkan dahi bingung, sedetik kemudian ia mendengar suara dari kamar Ray yang begitu nyaring.
"LO GUE PECAT, KELUAR SEKARANG!" teriakan Ray sangat jelas di telinga Angel.
Angel mendengus kesal, ternyata alasan kenapa banyak pelayan yang berdiri di depan kamar Ray tak lain kaena Ray dengan kasarnya memecat orang tanpa alasan yang jelas, lebih tepatnya karena membangunkannya.
"Non Angel!" kejut pelayan yang melihat kedatangan Angel di antara mereka. " Saya dipecat oleh tuan Ray," isak pelayan itu memeluk pelayan yang lain.
Angel berdecak kesal dengan ulah Ray. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Ray walau awalnya mendapat pertentangan dengan pelayan akan keselamatan Angel atau mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi, namun Angel hanya tersenyum simpul mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
" Tenang saja, dia nggak akan bisa pecat saya."
Angel mulai menarik napas berat sebelum memutar gagang pintu itu, satu langkah berhasil dilewatinya dan sekarang ia sudah berhasil masuk ke dalam kamar Ray. Walau dalam hati Angel masih ragu kalau ini ide bagus, berurusan dengan singa tidur lebih menakutkan. Ray masih terlelap dengan selimut tebal menyelimuti dirinya dengan posisi telentang. Sekilas Angel melirik jam dinding yang bertengger di dinding, sudah hampir jam 07.00 dan Ray masih terlelap tidur. Angel kembali melangkah lebih dekat, ia berhenti sejenak saat teringat pertama kali masuk ke dalam dan berakhir dengan sebuah ciuman.
"Tenang Angel... lo cuma bangunin cowok pemalas ini," Angel mengedarkan pandangan dan tertuju pada satu benda putih tergeletak di sembarang tempat, ia tersenyum memiliki ide. Diambilnya peluit itu itu lantas ia naik keatas kasur Ray.
Priittt....
Suara peluit yang cukup nyaring dan tepat di depan wajah Ray sontak membuat Ray menggeliat terganggu. Sementara Angel terus melancarkan aksinya untuk membuat Ray bangun.
"BERISIK!"teriak Ray kesal.
Bukannya menghentikan suara peluit itu, Angel terkekeh.
"Berisik! Cepet keluar lo sekarang!" teriak Ray menutup kedua telinga dengan bantal. Angel semakin meniup peluit itu kencang untuk membuat Ray bangun.
"Hei! Bangun, lo mau tidur sampai kapan?" teriak Angel kencang.
Ray mendengus kesal, ditarik tangan Angel secara tiba-tiba dan langsung menindihinya. Kedua pergelangan tangan Ray berhasil mengunci tangan Angel di kedua sisi. Ia menyeringai dengan tatapan mengintimidasi sambil tersenyum licik.
" Lo mau gue cium lagi?"
Angel membulatkan matanya, posisi Ray sangat menakutkan saat menatapnya, benar kata orang berurusan dengan singa tidur sangat beresiko, apalagi singa yang dihadapinya lebih buas.
"Lepas!" ronta Angel berusaha meloloskan diri. Ray semakin menatap tajam kedua mata Angel seakan mengintimidasi.
"Untung lo bukan pelayan disini, kalau enggak gue pecat lo dari tadi." Ketus Ray sembari melepaskan cengkraman tangan Angel.
Ray berhasil bangun dan menoleh kembali kearah Angel yang masih berada di tempat tidurnya.
"Gue udah bangun, sekarang keluar dari kamar gue!" perintah Ray.
Segera Angel bangun dengan tergesa-gesa dan turun dari ranjang Ray. Sebelum ia membuka pintu keluar Ray mencegahnya.
"Tunggu!" cegah Ray membuat Angel berhenti dan membelakanginya.
"Tutup pintunya setelah keluar!" pinta Ray.
"I-iya." Angel menarik gagang pintu dan keluar dengan sedikit takut.
Ia keluar dengan perasaan lega telah keluar dari kandang singa tadi.
"Angel!" panggil Julian berjalan kearahnya.
"Julian?"
"Baru kali ini aku lihat ada yang bisa menaklukkan beruang hitam itu." ujar Julian tersenyum simpul.
"Beruang hitam? Menurutku dia lebih seperti singa tidur." Celoteh Angel membuat Julian terkekeh.
" Kamu tahu, setiap pagi rumah ini selalu kehilangan lima pelayan gara-gara dia." Tukas Julian.
Angel hanya tersenyum mengerti siapa yang dimaksud Julian.
" Kamu kayaknya membawa perubahan besar di rumah ini. Yah, semoga aja beruang itu takluk sama kamu," ujar Julian menyunggingkan senyuman.
"Oh ya, kalian tenang aja. Tidak ada satu pun dari kalian yang akan dipecat hari ini," seru Julian membuat para pelayan itu tersenyum girang dan mengucapkan terimakasih pada Julian. Angel dapat melihat raut wajah yang ditunjukkan Julian memang sangat berbeda dengan Ray, dan ia mengalami perbedaan itu. Julian kembali melempar senyum kearah Angel.
Tak...tak... tak...
Suara dentingan garpu dan sendok beradu dalam satu piring tepat di meja makan di pagi hari.
"Ray, berisik lo makannya, pelan dikit napa!" gumam Julian menggerutu.
Ray hanya berdecak kesal, ia menghentikan suara yang dibuatnya. Pagi-pagi Ray dan Julian sudah berdebat hanya untuk kesalahan kecil. Ray mengalihkan pandangan pada meja disebelahnya.
"Mana cewek berisik itu?" tanya Ray disela-sela makan.
"Angel? Tumben lo nanyain dia?" lirik Julian melihat saudaranya yang terlihat kesal.
"Gue mau buat perhitungan sama cewek itu, seenaknya masuk kamar orang sembarangan," gerutu Ray kesal.
Julian terrkekeh melihat saudaranya yang terlihat cemberut, namun terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk.
"Kenapa ketawa? Memang ada yang lucu?"tanya Ray ketus seperti biasanya.
"Aneh ya, waktu lo dibangunin Angel, lo cepet bangunnya, kayaknya Angel bisa jadi alarm yang tepat buat bangunin lo tiap pagi tanpa harus ada yang dipecat," jelas Julian.
"Maksud lo apa? lo mau nyuruh cewek itu bangunin gue tiap pagi?" tolak Ray.
"Ya, mungkin," jawab Julian datar.
"Cih, gue menolak." Ray bergegas mengambil jasnya dan segera berangkat ke sekolah.
"Gue berangkat dulu!"
"Tolong jaga Angel ya di sekolah." pinta Julian.
"Bodo amat, emang dia anak kecil apa?" kesalnya.
Julian hanya tersenyum menatap kepergiannya.
***
SMA Galaxy.
Seperti biasa, Ray dan kedua sahabatnya Brian dan Max berjalan beriringan menuju ke kelas, dan di sepanjang jalan, banyak para gadis menyapa atau sekedar basa-basi ingin berbicara dengan Ray.
"Hai Ray, pagi!"
"Pagi semua!" Jawab Brian dengan senyuman mengembangnya menjawab setiap sapaan gadis-gadis yang yang ditujukan untuk Ray.
Yah, dari mereka bertiga hanya Brian yang terlihat ramah dan murah senyum.
"Eh Ray, kenapa lo? Lagi dapet, muka suntuk gitu!" sindir Brian.
"Diem lo, atau mulut lo perlu gue sumpelin pake batu," kesal Ray
"Eits ... sabar broo, gue bercanda kali."
Brian melirik jam di tangan kirinya. Seketika ia ingat sesuatu.
"Astagah, gue duluan ya mau latihan. Nanti bebeb Shila bisa marah kalau gue telat." Brian buru- buru pergi meninggalkan kedua temannya.
Angel merasa bosan karena Julian tidak masuk hari ini karena ada urusan pekerjaan di perusahaan di keluarganya. Julian diusianya yang masih 17 tahun telah mendapat kepercayaan sebagai penerus keluarga Raveno dalam hal berbisnis. Mungkin tidak segelintir orang mengalami masih yang sama dengan Julian.
Apalagi saat ini Angel masih belum punya teman di sekolah itu. ia lalu berjalan di koridor sekolahan, pandangannya tertuju pada salah satu ruangan yaitu studio musik, dengan sedikit penasaran
Angel masuk kedalam. Ternyata ruangan itu begitu sepi tak ada orang.
"Wah...keren banget!" Angel terpukau dengan peralatan lengkap di dalamnya mulai dari alat musik seperti piano, gitar, drum, rekaman dan peralatan lainnya yang tak kalah dari studio musik ternama. Angel lalu mengambil salah satu gitar dan duduk di satu kursi yang berada di samping.
sambil memetik gitar itu ia menyanyikan sebuah lagu berjudul "My Angel" ciptaan ayahnya, sembari membayangkan saat bersama ayahnya bernyanyi. Angel sangat menikmati lagu itu.
"Lo denger suara nggak?" tanya seorang gadis berambut pendek kepada laki-laki disebelahnya
"Kayaknya orang lagi nyanyi, suaranya dari klub studio musik kita." Jawab laki-laki itu.
Angel meletakkan gitar itu kembali ke semula, dan saat keluar, ia dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang masuk.
"Lo siapa?" tanya gadis itu terkejut melihat Angel masuk kesana tanpa ijin.
"Aa.. maaf gue nggak sengaja masuk tanpa ijin" Angel menunduk takut.
"Kayaknya gue pernah liat lo, elo Angelkan?" tanya gadis itm menbuat Angel terkejut
"Apa tadi suara lo, suara lo bagus banget, kenalin gua Shila dan ini Dave." Shila mengulurkan tangan tersenyum padanya.
"Angel." Angel menerima uluran tangan gadis itu.
"Lo mau gabung sama klub musik kita nggak, kebetulan tim kita lagi nyari vocalist baru, vocalist lama kita keluar, gimana? Lo setujukan Dave?" Shila meminta pendapat rekan satu timnya.
"Gue sih terserah aja." jawab Dave santai.
"T-tapi gue...??"Angel tak yakin
"Lo tenang aja, gue, Dave, sama Brian akan bimbing lo, gimana?" bujuk Shila sangat antusias.
"Tadi suara lo keren banget, dan lagu yang lo nyanyiin juga, itu lagu lo?" puji Shila
"I-itu lagu ciptaan ayah gue."
"Great, kalau lo mau gabung sama kita, di acara pensi sekolah nanti, kita bakalan pentas," ujar Shila.
"Pentas?" Angel terlihat antusias, ia sendiri memang menyukai musik sejak dulu, tanpa ragu Angel mengiyakan. "Ya, aku mau."
"Yeahhh , akhirnya kita dapat vocalist baru, jadi mulai sekarang lo jadi tim baru kita ." Angel tersenyum senang. Setidaknya ia sudah mulai berinteraksi dengan anak yang lain, dan kelihatannya Shila teman yang baik.
"Pagi sayangku Shilla!!" Brian tiba-tiba masuk ke dalam.