"Gue kasih tahu ya, bukan gue yang bawa Angel, tapi Romi, salah satu orang kepercayaan dari keluarga William." ungkap Leon.
.....
"Romi?! "
Ray terdiam, mencerna ucapan dari Leon—bagaimana bisa Angel berurusan dengan keluarga William, terutama laki-laki yang baru saja disebut oleh Leon barusan.
Romi, adalah orang kepercayaan dari keluarga William, sebenarnya untuk usia, dia jauh lebih muda dari Yudha dan hampir setara dengan Ray kalau dilihat dari wajahnya.
Usianya baru menginjak 26 tahun dan telah bekerja di keluarga William lama—dialah pengasuh sekaligus pengawal pribadi dari Mika saat masih kecil dulu jauh sebelum Mika meninggal. Bagi Mika, Romi adalah sosok kakak yang selalu ada untuknya. Saat kesepian, sosok Romilah yang pertama kali menghiburnya, mengajaknya bermain dan kadang membawa pergi jalan-jalan.
"Oh ya, dan satu lagi, Ray!"
"Kayaknya emang lo belum menyadari sesuatu? " Leon menyeringai.
Leon melangkah pelan melewatinya dan berhenti tepat disamping Ray. "Siapa Angel sebenarnya! " Leon sengaja menyenggol bahunya pelan dan pergi begitu saja.
Max dan Brian langsung menghampiri Ray yang mematung.
" Ray! " ucap mereka serentak.
Brian yang masih tersulut emosi ingin sekali membalas perlakuan Leon pada Ray tadi, tapi Max mencegahnya.
"Jangan macam-macam, Brian.
Udah! " Max menahan Brian saat ingin bertindak.
"Ray, lo baik-baik aja. Tadi si Leon ngomong apaan? " Brian penasaran.
"Bukan apa-apa. "ucap Ray dengan wajah datar tanpa ekpresi. Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan keduanya
Cafe Laverita
Malam itu juga, setelah menyelesaikan kasus Brian dan Leon. Kini ketiga sahabat itu memilih pergi ke salah satu Cafe yang cukup terkenal dekat tempat dengan area balapan motor tadi.
"Eh, sialan gue serius nih. Tuh lihat cewek cantik yang gue temui di kelas 2A, namanya Jasmine, anaknya sih kelihatan baik-baik. " Brian begitu antusiasnya memerlihatkan foto dari ponselnya pada Max yang hanya diam mendengar penjelasan Brian tak ada faedahnya, selain gadis..
"Atau ini Max, namanya Amanda. Anak sastra banget nih. Kesukaan lo!"
Rupanya, Brian ingin mengenalkan beberapa anak gadis di sekolah untuk Max—cowok itu memang tak banyak bicara sejak awal.
"Gue nggak minat, buat lo aja! "
"Aelah Max. Tuh lihat. Ini cantik... Terus ini... " Max jengah dengan sikap Brian yang sok mengenalkan gadis padanya.
"Serius ini cantik! "
"Cantikan mana, gadis ini sama Shila? " Goda Max sembari menyesapi minuman dinginnya.
"Oh ya jelas Shila dong. Gimana sih lo? "
"Jadi sebelum Shila tahu soal ini. Mendingan lo hapusin tuh semua foto para gadis di Hape lo! " sarannya.
"Eh, nggak bisa gitu dong. Gue udah capek-capek cari, main hapus aja, gimana Ray, mungkin ada yang lo suka? " Brian menoleh ke arah Ray yang sejak tadi diam memainkan sedotan minumannya.
Tak ada sahutan membuat Brian dan Max saling berpandangan heran mengenai sahabatnya itu.
"Ray! "
"Ray, lo baik-baik aja? "
Nggak... Nggak mungkin. Fokus Ray, itu jelas nggak mungkin, Angel suka sama Leon. batin Ray sejak tadi bergemurung mengabaikan panggilan dua sahabatnya itu—bahkan untuk pembahasan yang mereka ributkan barusan.
"Ngelamun dia! " ujar Brian.
"Eh Angel! " Begitu nama Angel dipanggil sambil melambaikan tangan di belakang Ray, membuat Ray sontak terkejut dan menoleh ke belakang.
"Angel! "Ray menoleh ke belakang. Namun, tak ada siapapun disana.
Brian langsung terkekeh melihat sikap Ray yang begitu terkejut kalau saja Angel benar-benar ada disini.
"Sialan lo! " geram Ray.
"Ya, abis dari tadi kita ngomong. Lo diem aja. Nggak biasanya." Brian menaruh curiga.
"Gue lagi banyak pikiran."
"Soal Angel? Semangat banget tadi waktu nama Angel dipanggil.
Cieee... " sindir Brian frontal. Max hanya menyungging senyuman.
"Udah deh. Rese kalian! "
"Gue nggak Ray. Tuh Brian, salahin dia! " Max membela diri.
"Kok gue sih! " protesnya.
Brian tertawa keras, beruntung cafe itu sekarang sepi, jadi ketiganya bisa leluasa mengobrol cukup lama.
***
Leon masuk ke kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ia menatap langit-langit kamar sesekali mengedip pelan
"Masa iya sih, dia? "
"Angel! "
Leon mengembuskan napas panjang, sembari tangan ia letakkan di atas kepalanya.
"Hahaha... Rasain tuh. Jatuh sendirikan. Wekk! "
Suara anak gadis dari ingatan Leon muncul saat ia memejamkan mata. Lebih tepatnya saat ia berumur 7 tahun. Kejadian itu bermula saat Leon dan kedua temannya berniat mengerjai seorang anak dari kelasnya yang bernama Mika.
Mika. Yah, gadis bernama Mika adalah musuh bebuyutannya dan bahkan tak jarang mereka sering bertengkar karena masalah sepele. Bagi Leon, saat ia di sekolah hampir semua anak tunduk dan takut padanya, ia bertindak sesuka hati layaknya penguasa di sekolah. Sampai suatu ketika ada anak baru di sekilahnya bernama Mika, gadis itu merubah segalanya.
Keberaniannya, ketidaktakutanya membuat Leon kesal pada gadis itu.
Bahkan beberapa kali mereka adu tempat yang akan dipakainya untuk main, seperti kejadian di taman saat Leon dan beberapa temannya mengusir Mika dan temannya.
Tapi bukan hanya itu saja, pernah Leon menjatuhkan sebuah boneka Mika ke danau tanpa sengaja dan membuat gadis itu marah padanya. Saat itulah Leon beranggapan kalau dirinya sangat keterlaluan waktu itu. Awalnya hanya ingin bercanda malah berujung kebencian dari gadis itu.
Kalau diingat-ingat lagi. Sungguh, itu sangat lucu. Mereka masih polos saat masih kecil. Sejak kejadian itu Leon benar-benar merasa bersalah dan ingin minta maaf dengan Mika.
Tapi...
Ternyata hari dimana ia bertengkar Mika adalah hari terakhir dirinya bertemu denga gadis itu karena esok harinya, gadis itu memutuskan untuk pergi ke luar negeri bersama orang tuanya.
Dan kejadian nahas itu terjadi. Leon waktu itu juga tak sengaja menonton berita televisi yang menayangkan kecelakaan dimana pesawat yang sama ditumpangi keluarga Mika.
Leon tak percaya, bagaimana mungkin Mika sudah meninggal—padahal baru kemarin ia bertengkar dengannya.
Hari itu, Leon ditemani salah satu sopir berniat pergi menghadiri pemakaman. Namun, ia enggan untuk mendekat dan memilih memandangnya dari kejauhan. Tampak di tempat yang sama, pandangan Leon menangkap siluet dua anak lain menggunakan jas berdiri tak jauh dari tempatnya—tampaknya mereka juga enggan mendekat seperti dirinya dan memilih melihat dari kejauhan.
Hufft, Leon melentangkan tangannya di atas kasur. Kedua matanya terbuka.
"Kalau benar apa yang dikatakan kakek soal gadis itu, gue harus lebih menyelidikinya sendiri siapa sebenarnya Angel , dan hubungannya dengan Mika. "