"Angel! " panggil Ray sebelum Angel melangkah masuk ke dalam rumah saat keduanya sudah sampai di teras depan.
Angel berhenti sesaat setelah namanya disebut. Namun, saat ia memutar tubuhnya, dekapan dari belakang lebih dulu ia terima secara sepihak. Kedua tangan Ray memeluk erat tubuh mungil itu.
"Jangan pernah lakukan ini lagi. Lo tahu, gue sangat takut! " ungkap Ray akhirnya memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
"Ray! " Angel tak berkutik sedikitpun.
Dekapan yang ia terima semakin erat dan hampir membuatnya merintih kesakitan. Beruntung di sekelilinh mereka tak ada siapapun termasuk penjaga atau pelayan yang lewat.
***
Sementara itu, Julian yang mendapat kabar kalau Angel sudah ditemukan turut senang, segera ia bergegas keluar dari rumah, bermaksud segera menemui gadis itu—langkah Julian sedikit terburu-buru untuk segera keluar. Pasti mereka ada disini, pikirnya.
Namun, saat Julian membuka pintu, pemandangan yang ia terima justru kebalikannya. Julian, dengan tatapan nanarnya melihat Ray memeluk Angel di depannya langsung.
" Ray! "
Sedetik kemudian, Julian memilih mundur, lidahnya kelu untuk sekadar berucap atau mengatakan sesuatu. Dari kejauhan ia hanya bisa melihat pemandangan. yang menyesakkan mata. Ray dan Angel—apakah mereka memang menjalin satu hubungan khusus? Harusnya Julian suka apalagi melihat Ray yang perlahan mulai bisa diatur dan kembali ceria seperti dulu lagi.
Tapi—perasaan apakah ini sehingga membuat hatinya begitu sakit walau hanya melihat mereka berpelukan?
Julian tidak boleh egois dan mementingkan diri sendiri. Bagaimanapun Ray lebih dari segalanya. Haruskan ia iri dengan saudaranya sendiri?
***
Drrttt... Drtt...
Suara ponsel di atas kasur mengalihkan pandangan Julian yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengambil benda pipi itu dan langsung menggeser tombol hijau di layar.
"Halo!"
"Hello My Prince, ntar malem kita pergi yuk! " ajak Queen dengan suara nada sedikit manja.
Julian menghela napas singkat, membiarkan gadis itu menelponnya untulk beberapa saat walau ia sendiri sangat malas untuk meladeninya.
"Kita bisa makan malam, nonton film atau—" belum sempat Queen menyelesaikan kalimatnya, telepon mereka terputus secara sepihak. Yah, Julian menutupnya begitu saja.
"Ihh, kok dimatiin sih. Kesel! " gerutu Queen dari jauh.
....
"Lain kali, kalau mau pergi. Beritahu orang rumah biar semua nggak khawatir! " omel Ray dengan nada marah.
Angel bingung, bukannya sebelumnya ia izin dulu saat mau pergi—dan Ray juga mengiyakan waktu itu.
"T-tapi Ray, gue kan udah—"
"Apa? Mau protes? Ini perintah. Lo pikir lo siapa yang berhak ngatur di rumah ini? Rumah ini bukan rumah lo. Jadi mulai sekarang ikutin peraturan di rumah ini! " ketus Ray marah-marah.
Angel melongo bingung, kenapa jadi Ray yang marah, bahkan pembelaannya tadi dibantah telak olehnya. Dan apa maksud Ray barusan. Peraturan? Sejak kapan di rumah ini banyak aturan? Angel sendiri saja bingung.
"Peraturan pertama, kalau mau pergi harus izin terlebih dahulu. "
"Tadi gue udah izin, Ray. " bela Angel pada diri sendiri.
"Ssstt diam. Siapa bilang lo boleh protes sama pemilik rumah. Gue belum selesai ngomong. " potong Ray begitu saja.
Angel terpaksa menurut sambil menarik napas panjang. Ia pasrah saat mendapat omelan panjang lebar dari laki-laki di depannya.
"Jangan pernah bikin gue khawatir! "
"Gue nggak—" Angel kembali protes, namun Ray langsung menutup mulutnya.
"Peraturan kedua, jangan pernah deketin cowok yang nggak lo kenal. Terutama soal Leon. "
Angel semakin kesal. Ini sih peraturan yang memang sengaja dibuat Ray untuknya. Semua berisi larangan. Tak boleh inilah, itulah. Memangnya dia siapa seenaknya mengatur hidup orang.
"Lo ngerti? "
Angel kembali mendesah, "Iya! " percuma saja kalau protes kalau pada akhirnya ia akan kalah dengan bantahan Ray yang berkuasa.
"Lo nggak bisa seenaknya gitu dong Ray. Membuat peraturan atas nama keluarga Raveno. " Julian muncul dari tangga dengan posisi santainya sambil memasukkan tangan di saku celana.
Julian mendekat. "Peraturan yang justru membuat Angel merasa nggak nyaman. "
"Julian! " lirih Angel melihat kedatangan laki-laki mendekat.
Ray berdecak melihat kedatangan Julian yang selalu menghancurkan rencananya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Seluruh orang rumah panik buat nyariin kamu tadi." Julian tersenyum sebentar sembari mengusap lembut rambut Sharen.
Sharen bersemu saat tangan Julian menyentuh kepalanya. Tanpa sadar Ray yang berdiri diantara keduanya merasa diabaikan begitu saja.
Ray berdehem, menegaskan mereka dirinya ada di antara mereka. Sambil bersedekap, Ray menunjukkan rasa ketidaksukaanya dengan sikap Julian pada Angel.
"Untung aja Ray cepet nemuin kamu, sejak tadi dia khawatir banget. Apalagi waktu kamu hilang. Sampai-sampai—"
"Julian! " potong Ray sebelum laki-laki di depannya membocorkan pada Angel tentang kekhawatirannya.
"Kamu lihat sendirikan? " Sindir Julian membuat Angel terkekeh.
"Iya, aku tahu kok. "
***
Malam itu, Angel terlihat gelisah. Bukan masalah karena kejadian yang membawanya pergi ke rumah keluarga Wiliam. Melainkan kekhawatiran soal Ayahnya—sampai sekarang ia tak ada kabar darinya.
Beberapa kali Angel berusaha menelpon, namun tak ada jawaban. Ponselnya mati.
"Ayah! " lirih Angel gelisah. Ia duduk di tepi ranjang. Tak lagi memainkan ponsel dan membiarkannya begitu saja di atas kasur.
Sesekali menarik napas panjang, Angel lantas merebahkan diri di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar bernuansa putih tersebut.
Masalah Ayahnya yang tak ada kabar dan kini Angel baru saja mendapat kejutan diluar dugaannya terkait siapa dirinya sebenarnya.
Mika. Nama itu kembali ia ingat lagi. Mungkin sudah berulang kali ia menyebut nama itu. Angel bangun dan berjalan menuju laci mejanya, mengeluarkan satu benda yang sengaka ia taruh disana—sebuah kalung dengan bandul kunci.
Angel mengamati betul kalung miliknya, berusaha pula ia mencoba mengingat siapa orang yang dulu memberikan kalung ini padanya.
Aku pegang kuncinya, kamu pegang kotaknya. Nanti kalau kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama. Kalimat itu terus saja terngiang di kepalanya. Ia ingat ada seseorang yang mengucapkan kalimat itu—tapi pertanyaannya, siapa orang itu. Dalam bayangan Angel pun. Orang yang mengucapkan itu terlihat masih anak-anak, itu artinya memang ada kejadian saat ia masih kecil.
Sementara itu tak jauh beda, di kamar Ray. Kali ini ia kembali menatap kotak kunci di hadapannya. Sesekali mengingat satu kenangan saat bersama gadisnya—Mika.
"Mika, apa lo bisa denger gue sekarang? " Ray bertanya pada diri sendiri seolah ia tengah berbicara dengan Mika.
"Mungkin, gue harus mulai melupakan lo, termasuk kenangan kit dulu. Lo pasti udah tenang disana, dan gue harap lo juga bahagia
disana. "
Drttt... Drtt...
Lamunan Ray dikejutkan dengan suara getar ponsel di atas nakas. Segera tangannya berpindah alih meletakkan kotak dan mengambil ponselnya.
"Ya, kenapa Max? " rupanya salah satu sahabatnya, Max yang menelpon.
"APA? lo yakin, oke gue kesana sekarang! " Ray mematikan ponselnya kemudian ia mengambil jaket di atas kursi.
Dilihat dari sikap Ray yang tergesa-gesa pasti ada sesuatu yang terjadi saat Max menelponnya tadi.
Arena Balapan Motor.
Bugh... Bugh...
Pukulan demi pukulan terus dihantamkan laki-lakiyang saat ini tengah berkelahi satu lawan satu. Suara sorakan terus bersautan mengingat kedua orang yang berkelahi adalah lawan yang tangguh.
Dan diantara penonton yang bersorak—Max, cowok itu tampak begitu gelisah menyaksikan sahabatnya, Brian berkelahi dengan Leon. Itulah kenapa tadi ia sengaja menelpon Ray untuk segera datang. Hanya Ray yang bisa menghentikan aksi gila Brian dan Leon.
Huuu, sorakan kembali diberikan pada mereka berdua. Kondisi Brian nampak lebih parah dari Leon karena memang pada dasarnya Brian tidak terlalu jago dalam urusan bela diri apalagi lawannya si Leon, yang jelas-jelas memiliki tubuh lebih tinggi darinya.
Selang beberapa menit, motor Ray telah sampai, bergegas ia langsung menerobos masuk ke dalam arena.
"Ray, gawat! " Max datang menghampiri.
"Iya, gue tahu. " tanpa diduga-duga, Ray maju ke depan menghampiri keduanya diikuti Max dari belakang.
Ray langsung menarik tangan Leon dan 'bugh' satu pukulan ia layangkan tepat mengenai wajah Leon hingga membuatnya tersungkur. Sementara Max berhasil menahan Brian untuk tidak gegabah.
"Yan, udah! " tahan Max.
Leon mendecih, "Apa-apaan lo? " makinya tak terima. Ia tak ada urusan dengan Ray sekarang.
"Hentikan Leon! "
Leon terkekeh, ia lantas bangkit dengan sedikit merapikan jaketnya yang kotor saat ia jatuh ke tanah tadi.
"Mau jadi pahlawan lo? " protes Leon.
"Nggak usah ikut campur, ini masalah gue sama temen cupu lo itu. "
"b******k lo, Leon! " Brian tak terima mendapat tuduhan cupu yang dilontarkan Leon padanya.
"Apa lo nggak ada kerjaan, cari gara-gara disini? " celetuk Ray.
"Lo pikir gue yang mulai duluan? Tanya sama temen lo itu, dia yang cari gara-gara duluan sama gue! " protesnya.
Ray menatap Brian, "Bukan gue Ray. Tuh cowok emang kurang ajar. Habisin aja tuh anak! "
Seketika suasana yang tadinya koar-koar dengan sahutan demi sahutan kini berubah menjadi sepi, beberaa menyayangkan adapula yang memilih pergi menghindar.
"Gue lagi nggak mau gara-gara sama lo, jadi hentikan ini! " pinta Ray.
"Ray, kok lo ngalah sih? Tuh cowok perlu dikasih pelajaran!" protes Brian membela diri.
"Diam, Brian!" seketika itu juga Brian diam tanpa berani berucap lagi.
Baru beberapa langkah Ray berjalan, dari belakang Leon bersuara.
"Gue punya satu rahasia soal Angel! " begitu nama 'Angel' disebut, langkah Ray seketika terhenti tanpa menoleh ke belakang.
"Yang pasti akan bikin lo terkejut! " Leon berjalan mendekati Ray yang mematung. Ia mengeliligi Ray dan terhenti tepat disampingnya.
"Lo nggak pengen tahu Ray, siapa Angel sebenarnya? " Leon terus berusaha memanasi.
Awalnya Ray sengaja tak menghiraukan, namun ini berhubungan dengan Angel—bagaimana bisa ia tidak khawatir?
Angel, sesaat setelah namanya ia sebut. Leon kembali bersuara.
"Tapi gue nggak mau lo tahu secepat ini, nggak seru. Tapi gue kasih petunjuk—" Leon menggantungkan kalimat.
"Lo tahu, kenapa gue bisa bersama Angel tadi siang? Lo pikir gue yag udah bawa Angel? "
"Gue kasih tahu ya, bukan gue yang bawa Angel, tapi Romi, salah satu orang kepercayaan dari keluarga William." ungkap Leon.
Mata Ray terperangah, antara percaya atau tidak dengan ucapan Leon padanya.
Romi, sekali lagi ia ingat nama itu—memang terdengar tak asing dan ini juga berhubungan dengan keluarga William."
"Romi?" Ray mengulang nama itu.