"Aku bilang aku suka apa itu salah. "
❤❤❤
"Dua es krim pak! " Ray menghampiri penjual Es krim yang lewat di sekitar taman komplek.
"Yang rasa apa den? " tanya bapak berkumis tebal dengan handuk kecil tersampir di lehernya.
"Yang enak lah pokoknya pak. "Ray tak ambil pusing. Sesekali ia menoleh ke salah satu kursi panjang dari kejauhan yang saat ini tengah di duduki Angel.
"Buat pacarnya ya den," sindir bapak penjual es krim itu tersenyum melihat seorang gadis dari sebrang.
"Udah deh pak, nggak usah bercanda. Mana pesanan saya?!"
"Ini den, satu es krim special. Apalagi buat aden sama temennya yang cantik itu."
Ray menerima satu es krim di tangannya. Berbentuk hati dengan tiga rasa.
Setelah membayar dengan uang 50.000an dan sisa yang sengaja ia berikan pada bapak penjual es krim.
***
"Nih! " Ray bergabung untuk duduk di meja sebelah Angel. Ia lantas memberikan satu es krim yang dibelinya pada Angel.
"Asik, es krim! " Angel antusias
Ray terkekeh melihat sikap Angel seperti anak kecil yang senang saat mendapatkan es krim. Bahkan Angel nampak begitu rakus menghabiskan es krim tanpa sadar membuat mulutnya belepotan.
"Lo tuh jadi cewek nggak ada manis-manisnya ya. Makan es krim aja sampai belepotan. " jempol tangan Ray sigap membersihkan bibir Angel tanpa merasa jijik.
Angel melotot melihat Ray melakukan hal diluar dugaannya. Ia menoleh heran.
"Kenapa? " Ray bingung mendapat tatapan intimidasi dari Angel.
Angel mencoba bersikap tenang dengam menyibukkan diri menatap sekeliling taman yang saat ini tampak sepi. Pandangan Angel tertuju pada ayunan dari kejauhan.
"Ayunan! " bagai anak yang baru mendapat mainan baru, Angel langsung bangkit dan berlari menuju ayunan yang bersebelahan dengan taman bunga di sebelah.
Mau tak mau Ray mengikuti langkahnya. Angel langsung memposisikan diri duduk di salah satu ayunan sementara Ray masih berada di depannya.
"Lo suka banget ya sama ayunan? " tanya Ray.
"Aku suka, ini sangat menyenangkan. Ray dorongin dong! " perintah Angel.
Ray berjalan ke belakang. Ia menarik tali di masing-masing sisi lalu mendorongnya. Angel terlihat menikmati dan sangat girang. Bahkan ia melupakan es krim yang sudah hampir mencair di tangan kanannya.
Melihat Angel yang begitu riang mengingatkan Ray pada sosok yang selalu ia rindukan selama ini.
Sembari menghabiskan sisa es krim yang masih tersisa. Angel menoleh saat menyadari Ray sejak tadi memperhatikannya.
"Ray! "namun dengan gerak cepat Ray langsung menoleh ke arah lain.
"Lo kayaknya dari tadi ngelihatin gue mulu! " Angel curiga.
Ray berpaling, "Enggak, siapa yang ngelihatin lo. Geer." Ray berdalih.
"Gue lihat sendiri tadi. "
"Gue tuh ngelihatin pemandangan di taman ini. Ngapain ngelihatin elo! " Ray beralasan. Angel mendesah kesal.
"Terserah! "
Setelah menghabiskan es krim di tangannya, Angel kembali berayun dengan lincahnya. Ia benar-benar menikmatinya.
"Lo tuh kaya anak kecil tahu nggak. Sukanya main ayunan! " sindir Ray.
Angel menghentikan laju ayunanya.
"Biarin, gue nggak peduli. Lagian ini sangat menyenangkan, gue seakan bisa melupakan masalah setiap kali main ayunan. "
Ray diam. Ia mengiyakan ucapan Angel, hanya saja ayunan bagi Ray menyimpan kenangan buruk baginya.
"Tapi gue nggak suka ayunan. Tempat yang udah misahin gue sama Mika. " Lirih Ray tertunduk.
Angel diam. Ia menoleh di sebelah, melihat Ray sepertinya tidak bohong soal ini. Ia dapat melihat kesedihan mendalam tentang Ray yang kehilangan gadis kecilnya itu.
Mika— gadis kecil berlesung pipi chubby dengan rambut lurus bergelombang. Mata binarnya seakan menghipnotis siapa saja untuk terus melihatnya. Apalagi saat melihatnya tersenyum. Yah, Angel melihat senyum gadis kecil yang dirindukan Ray selama ini. Senyuman yang sedikit pudar namun tetap saja terlihat manis.
Sosok Mika yang menyimpan banyak misteri. Angel bahkan terkejut
saat tahu, wajahnya begitu mirip dengan Mika—sangat mirip.
***
Sementara itu di tempat lain.
Bugh... Bugh...
Suara pukulan bertubi-tubi dilayangkan pada laki-laki yang kini diikat menggantung di atas tali. Wajahnya terlihat kacau dengan kondisi mata yang masih terbuka. Napas tersengal seakan pasrah dengan nasib yang ia terima saat ini.
Tiga orang bertubuh gempal mengelilinginya, salah satu dari mereka membawa kayu baseball sementara yang lain menarik kerahnya.
"Lihat dia, masih bisa napas juga walau kita pukul berkali-kali.
Haha... "suara gelak tawa menggema di tempat gelap di sudut ruangan.
"To-lo-ng. " suara laki-laki itu terbata-bata dan hampir hilang karena kondisinya yang lemah.
Tap... Tap... Suara langkah kaki mendekat, rupanya sang bos besar datang menghampiri.
"To-lo-ng, jangan sakiti Angel! " lirihnya dengan suara serak.
Laki-laki itu menyeringai, menampilkan seraut wajah dengan deretan gigi putihnya.
Dikeluarkan pisau kecil dari saku kecilnya dan mengarahkan tepat di wajah laki-laki itu yang terlihat ketakutan.
"Ini hanya perintah. Dan saya harus melakukannya! "
"Jangan... Apa yang kau—" suara erangan memilukan terdengar dari mulut laki-laki yang saat ini tak berdaya.
"Bereskan semuanya! " perintah laki-laki itu pada anak buahnya.
***
"Aww! " rintih Angel saat lututnya mencium tanah sewaktu ia tersandung batu.
Ray dengan sigap langsung menghampirinya. "Angel! "
Ray melihat lutut Angel berdarah.
"Kenapa perasaan gue jadi nggak enak ya?" Angel terlihat cemas.
"Apa yang lo khawatirin. Nih, khawatirin luka lo! " Ray mengalihkan pandangan menatap lutut Angel yang sedikit mengeluarkan darah segar.
"Ayah! " Tanpa sadar, Angel memanggil nama ayahnya.