"Ayo Angel! " Leon menarik tangan Angel dan membawanya keluar.
***
Di dalam mobil
"Makasih! " lirih Angel tanpa menoleh pada Leon yang saat ini menyetir.
Leon menoleh sekilas, mendengar gadis itu akhirnya bersuara. Ia mengulas senyum tipis, "Lo bilang apa? " Leon sengaja tak mendengar.
"Makasih, udah nolongin gue? "
"No problem, lagian ya. Gimana bisa elo berurusan sama Romi? "
"Romi? " Angel menoleh tak tahu.
"Laki-laki tadi--yang udah bawa lo ke rumah itu. Gue peringatin! Elo harus hati-hati sama dia! "
"Apa dia jahat? "
"Bukan jahat. Tapi menyebalkan. "
"Sama dong kaya lo! " sindirnya Angel.
Leon terkesiap, "Gue?! "
Leon tak terima. " Eh, gimana bisa lo bilang gue menyebalkan. Gue kan udah nolongin lo! "
Leon berdecak kesal saat gadis di sebelahnya malah memandang keluar jendela. " Angel! "
Angel bungkam.
Ck, Leon yang masih menyetir tiba-tiba menghentikan laju mobilnya, ia sengaja menepikannya di salah salah satu taman di sekitar tempat itu.
Ciiitt, Mobil itu menepi dengan sedikit paksaan. Angel tersentak dan hampir limbung ke depan kalau saja ia tak menahan tubuhnya. Ia menoleh kesal ada laki-laki di sebelahnya.
"Leon hati-hati dong, lo mau kita celaka apa." teriak Angel.
"Gue itu paling nggak suka dicuekin. "
"Aish! "
"Yaudah gue turun disini aja, makasih! " Angel lantas keluar dari mobil. Namun, saat ia hendak menarik gagang pintu mobil, pintu itu tak berhasil dibukanya.
"Kok nggak bisa di dibuka? "Angel terkejut, kembali ia menoleh ke arah Leon yang terlihat santai bersandar di kursi.
"Leon! "
"Apa! "
"Bukain pintunya! "
"Lo merintah gue? "
"Leon, plis. Bukain pintunya!?"
Leon tak menjawab lagi. Ia sengaja menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan Angel yang terus berusaha membuka pintu mobil itu--walaupun itu sia-sia.
"Leon! "
"Lo tuh jadi cewek berisik banget sih? Lo pikir gue b**o apa ngelepasin lo gitu aja! "
"Apa mau lo? "
"Gue udah dapat perintah, dan perintah itu harus gue laksanakan! "
"Perintah?!" Angel bingung maksud ucapannya. "Maksud lo?"
"Jadi lebih baik lo nurut sama gue! " Leon menoleh sekilas lalu kembali melajukan mobilnya.
"Gue ada tempat yang cocok buat kita bicara. "
Angel tak bisa berbuat apa-apa kecuali menurut. Ternyata diluat dugaan--laki-laki di sampingnya bukan orang baik, dia memiliki tempramental keras yang susah dilawan.
Mobil Toyota 86 yang saat ini dikendarai Leon melaju dengan kecepatan sedang. Kedua insan di dalam saling terdiam. Angel memilih memalingkan wajah keluar jendela mobil--mungkin bisa dibilang pemandangan luar mobil lebih menenangkan daripada harus berhadapan dengan cowok kasar di sebelahnya.
***
Ray masih mencari keberadaan Angel. Di segala tempat yang ia yakini sebagai tempat keberadaan Angel. Instingnya mengatakan Angel saat ini dalam bahaya. Ia begitu takut pada gadis itu--takut dikalau Angel mengalami sesuatu yang buruk.
Motor Ray menyalip dengan sangat lincah melewati celah sempit di jalanan raya. Bahkan di beberapa kesempatan Ray menerobos lampu merah dan hampir membuat pengemudi lain marah dengan aksinya yang nekat itu.
Saat melewati tikungan tajam di jalanan yang sedikit sepi. Pandangan mata Ray menangkap sesuatu saat melewati mobil merah dari arah berlawanan. Sosok gadis di dalam mobil yang sangat dikenalinya.
"Angel! "
Dengam gesit, ia terpaksa mengerem motornya dan langsung berbelok ke belakang untuk mengejar mobil merah itu.
Ciiiiiiittttt....
Ray mencari mati dengan berhenti tepat di depan mobil itu. Beruntung sang pengendara mobil segera mengerem dan menimbulkan decitan yang cukup keras.
"s**t! "Leon mengupat kesal. Sementara Angel hampir terjungkal ke depan.
"Cari mati lo! " Leon dengan kasar langsung turun dari mobilnya.
Angel berkedip sebentar lantas memandang sang pengendara yang saat ini di hadapannya. Ia kenal dengan motor hitam itu. "Ray! "
Ray membuka helm dengan sorot tajamnya. Leon terkesiap melihat siapa yang menghadangnya. Ray--laki-laki yang cukup menyebalkan dan hampir beberapa kali terlibat masalah dengannya.
"Oh, jadi ini elo? Udah bosen hidup makanya mau mati? " geram Leon berjalan mendekatinya.
Ray masih belum bersuara, namun dari iris matanya jelas terlihat aura kejam dari kedua matanya yang menunjukkan ketidaksukaan.
"Turunin Angel! " perintahnya dengan nada pelan namun memaksa.
Angel keluar dari mobil tersebut dan mendapati Ray ada di depannya.
"Ray! " lirihnya pelan.
Tanpa berucap, Ray langsung berjalan dengan sedikit menyenggol bahu Leon untuk menghampiri Angel di belakang. Satu tarikan berhasil di dapatnya.
"Ayo pulang! "
Angel tak bersuara, cengkraman tangan Ray begitu kuat di pergelangannya. Melewati Leon di depan. Namun tanpa disangka saat itu juga Leon mencengkram balik tangan sebelah Angel yang longgar.
"Siapa bilang lo bisa bawa Angel dari gue! " Leon tak rela gadis itu pergi bersama Ray.
Ray menoleh, menatap kesal sambil berdecak. "Lepasin Angel! "
"Kalau gue nggak mau? " Leon tersenyum menantang.
"Gue bilang lepasin! " Ray sedikit mengancam.
"Gue yang pertama bawa Angel. Dan ini tanggung jawab gue! " Leon sedikit menarik tangan Angel untuk mendekat.
Ray tak mau kalah, ia menarik cukup keras hingga tubuh Angel bagaikan tarik ulur di antara kedua laki-laki itu.
"Aw, udah cukup! Lepasin tangan gue! " Angel kesakitan dengan kedua tangannya yang menjadi bahan rebutan.
"Lepasin sekarang Leon! "
"Gue nggak mau. Lo yang harus lepasin!" Leon menyeringai.
Ck, Ray kembali berdecak. Salah satu dari mereka harus mengalah apalagi saat Ray melihat kondisi Angel yang tak nyaman dengan tarikan kedua laki-laki itu padanya.
Terpaksa Ray yang pertama kali melepaskan tangan Angel. Namun sedetik kemudian, ia langsung menghadiahi bogem ke arah wajah Leon dengan sangat keras hingga laki-laki itu tersungkur jatuh ke aspal jalanan. Kemudian ia menarik pinggang Angel untuk mendekat.
"Berani lo ganggu Angel. Lo berurusan sama gue. Leon! "
Leon menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Cukup keras juga, pikir Leon.
Ray berhasil membawa Angel untuk ikut padanya. "Naik! " perintahnya.
Angel menurut, ia naik ke atas motor ninja hitam itu. Kemudian pergi meninggalkan Leon yang masih terkapar lemas di aspal.. "Sialan! Awas lo Ray! "
***
"Pegangan yang kuat! " Ray mempercepat tarikan stater yang hampir menunjukkan garis spidometer bernilai 90km/jam.
Angel tak protes, ia menuruti perintahnya. Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Dekapan dari kedua tangan Angel yang merangkul pinggangnya membuat Ray merasa nyaman. Ia merasa tangan kecil milik Angel mampu menhantarkan kehangatan yang tak dapat ia bayangkan selama ini. Ia nyaman dengan posisinya sekarang.