Chapter 29 : Leon

863 Kata
14.35 WIB, Perumahan Cempaka di kawasan Jakarta. Mobil Mercedes Benz hitam berhenti di depan perumahan mewah dengan gerbang hitam yang kira-kira tingginya hampir 10 meter.  Bahkan lebih tinggi dari gerbang utama rumah keluarga Raveno.  Nuansa klasik tertata dengan sangat apik dengan perpaduan gaya mediterania. Angel masih terperangah melihat bangunan tinggi bertingkat tiga,  kalau ia tidak salah kira.  Bertuliskan nama besar Wiliam yang dilihatnya di gerbang depan tadi.  Pintu mobil terbuka. Angel telah disambut beberapa pelayan yang berjajar rapi disana. Ia masih bingung mereka semua tertunduk saat dirinya keluar.  "Selamat datang Nona! " "No-nona? " Angel menunjuk dirinya sendiri,  apa maksud kata 'Nona' ditujukkan untuk dirinya? Ah itu tidak mungkin,  pikirnya. Kini Angel tak lagi memberontak saat dirinya dibawa masuk ke dalam dengan pengawalan ketat di samping dan bahkan di belakangnya.  Angel kembali terperangah melihat isi di dalamnya yang jauh lebih besar dari kediaman keluarga Raveno. "Mari ikut saya Nona.  Ada yang ingin saya tunjukkan sesuatu." ujar Romi yang berjalan di sampingnya.  Angel terus mengikuti laki-laki berjas yang bahkan ia sendiri tak mengenalnya--namun sekilas Angel seakan pernah melihat laki-laki ini.  "Tunggu,  sebelumnya apakah kita pernah bertemu.  Wajah anda seakan tak asing,  atau mungkin kita--" "Di sekolah.  Kita pernah bertemu Nona. Apa Nona tidak mengenali saya? " Angel mencoba mengingat.  "Lalu kenapa Anda membawa saya kesini? " "Sebentar lagi Nona akan tahu,  alasan saya membawa Nona kesini. " Angel hanya menurut,  ia kembali menatap ornamen sekitar yang begitu mewah dan tertata dengan apiknya.  Beberapa foto terpajang dengan sangat rapi.  Romi berhenti di sebuah foto besar seorang gadis di dalamnya. "Nona lihat  foto disana! Anak kecil dalam foto tersebut meninggal karena kecelakaan. " ungkapnya.  "Kecelakaan? "Angel terkesiap.  "Apa nona belum menyadarinya? " Laki-laki itu menoleh ke belakang.  Pandangan Angel memperlihatkan kebingungan.  Apa maksud dari ucapannya. "Nona lihat baik-baik,  foto anak itu. " Angel terdiam sejenak. Diamati betul foto di depannya.  Sekilas ia melihat hanya foto seorang anak kecil berambut panjang memakai gaun putih yang sangat cantik.  Apalagi saat anak itu tersenyum. "Siapa anak itu? "tanyanya.  "Namanya Mika. Cucu keluarga William, " jawabnya Entah mengapa saat nama Mika keluar.  d**a Angel terasa sesak, seperti ada semacam dorongan yang menekannya sangat kuat.  "Mi-mika? " bahkan untuk mengeja namanya pun sulit.  "Mika? " Angel mengulang nama itu.  Bayangan Angel tertuju pada kejadian  saat dirinya masih kecil.  Saat tengah bermain bersama kakaknya.  Keduanya terlihat bahagia.  Mulai dari bermain petak umpet,  lari-larian dan bahkan saat bermain ayunan.  "Sekarang,  aku kakak kamu.  Dan kamu jadi adik aku,  kita adalah saudara. " "Kakak! " lirih anak kecil berbando pink mengulas senyum tipis. "Kalau ada yang jahatin kamu.  Ntar bilang aja.   Biar aku yang balas." anak kecil itu kemudian tertawa melihat layaknya superhero yang melindunginya ... Kejadian itu sangat melekat di benaknya,  terutama ingatan seorang kakak yang selalu hadir dan memberi ketenangan.  Sosok kakak yang selalu membuatnya tersenyum dan tertawa.  Kakaknyalah teman sekaligus saudara yang ia punya.  "Tolong Nona lihat baik-baik foto di sana. " Romi menoleh.  Membuyarkan lamunan Angel.  "Kak Angel! " Angel menoleh sebentar kemudian kembali berpaling menatap bingkai itu. Sedetik kemudian Ia menyadari satu hal yang membuatnya syok.  Anak kecil dalam bingkai itu adalah Dirinya? *** Suara siulan terdengar dari atas. Mata Leon menangkap seseorang yang sangat dikenalinya berada di rumah ini.  "Gadis itu? " Disisi lain.  Kekhawatiran Ray menjadi.  Ia masih berupaya mencari keberadaan Angel dibantu beberapa anak buah suruhannya ikut membantu.  Julian yang mendengar kabar Angel menghilang juga tak kalah cemasnya.  "Kalian menemukannya? "tanya Julian di balik telepon genggamnya.  Suara helaan napas panjang mengisyaratkan kekecewaan dari balik telepon Julian.  Ray juga bisa menangkap kekecewaan itu.  "Mereka nggak nemuin Angel?"tanyanya.  Julian menggeleng.  Ia terlihat frustasi. "Angel,  lo dimana sekarang? " Ray kembali mengeluarkan bandul kelinci dari balik jaketnya.  Bandul ini sangat jelas milik Angel.  Tidak mungkin ia salah.  *** "Mikaela Alviandra William,  nama yang diberikan Nyonya Amanda saat bayinya lahir. " ungkap Romi Angel melangkah mengamati sebuah foto dua sepasang suami istri dengan anak mereka,  Mika.  Mika,  nama itu mengingatkan pada sosok yang selama ini ditunggu Ray.  Mungkinkah mereka orang yang sama.  "Gadis kecil di atas kursi roda. Apakah dia kakak Nona? " tanya Romi  dengan masih menatap lurus ke depan.  "Dia kakak saya. " "Siapa namanya? " .... "Angel! " panggil seseorang dari belakang. "Wah... Wah... Wah,  ternyata kita bisa ketemu lagi ya disini? " Leon mendekatinya.  "Romi,  kamu sedikit kasar padanya,  seenggaknya buat gadis ini nyaman. " Angel juga heran,  bagaimana bisa ia bertemu Leon di situasi saat ini.  "Kok lo ada disini? " tanyanya.  "Oh,  disini memang tempat tinggal gue." "Tempat tinggal? " Angel terkesiap.  "Yah,  bisa dibilang tempat tinggal sementara sebelum gue dapat apartement dari Kakek! " Leon lebih mendekat,  ia membisikan sesuatu. "Gue bisa bantu lo keluar dari sini? " "Tapi lo harus ikuti permainan gue." Angel tertegun menatap cowok di hadapannya.  Keduanya sempat bertemu pertama di area balap saat bersama Ray dulu.  "Maksud lo apa? " "Ikut permainan gue,  lo bisa selamat! " Angel ragu.  Tapi mau tak mau ia harus menerima bantuan Leon kali ini.  Leon lantas mengambil handphone dn berpura-pura menelpon seseorang.  "Hallo,  Kakek! " "Baik,  saya akan membawanya ke sana! " setelah menelpon,  Ia menutul teleponnya.  "Ada perintah dari Kakek! Saya yang bertanggung jawab pada padis ini! Ucap Leon berusaha meyakinkan Romi.  "Ayo Angel! " Leon menarik tangan Angel dan membawanya keluar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN