Happy reading
Seorang dengan pakaian casualnya tengah duduk menunggu seseorang di dalam stasion. Ia melirik jam tangannya yang bertengker di pergelangan tangannya. Pukul 13.45, Gadis itu celingukan mencari seseorang.
"Kenapa Ayah lama. " gumamnya sembari menghela napas panjang.
Hampir 20 menit, ia menunggu namun tak jmkunjung ada orang yang mendekat. Ah mungkin Ayahnya kejebak macet di jalan, pikirnya.
Sambil bersenandung ria dengan headset yang terpasang di kedua telinga. Ia memejamkan matanya mengikuti alunan lagu itu.
Gadis itu menghela napas panjang. Ia kembali melirik jam tangannya. Kembali pandangannya mengedar ke penjuru arah. Hanya ada orang berlalu lalang melewatinya dengan koper besar.
30 menit berlalu, orang yang ditunggu tak kunjung datang. Malahan datang segerombolan orang berpakaian casual hitam mendekatinya.
"Nona Angel! " kejut Angel menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
Angel heran, ia melirik di sebelahnya. Mungkin saja mereka salah memanggilnya. Namun tak ada satupun orang di sebelahnya. Kursi di sampingnya kosong.
"Anda memanggil saya? " Angel menunjuk dirinya.
"Bisa ikut dengan saya Nona. " pintanya
Dengan gerakan cepat, Angel langsung berdiri sambil mengambil tasnya dan memeluknya. Ia melangkah mundur dan was was dengan mereka yang terlihat mencurigakan.
"Saya mendapat tugas untuk membawa Nona! " kata orang itu.
Angel semakin yakin orang-orang ini pasti jahat dan mau menculiknya.
"Ka-lian Siapa? " ucapnya gugup.
"Lebih baik Nona ikut kami. " paksanya.
Angel menolak dengan berjalan mundur. Ia tak kenal mereka. Dan mereka pasti orang jahat, pikir Angel.
"Maaf, mungkin Anda salah orang. Saya tidak kenal siapa kalian. "
"Kalau Nona tidak mau ikut kami. Terpaksa--" Salah seorang laki-laki memberi isyarat pada yang lain dan langsung mendapat anggukan dari anak buahnya. Mereka mengepung Angel.
"Tolo--" belum sempat ia berteriak mulut Angel telah dibungkam.
"Umm.. Mmmm." berusaha Angel meronta. Ia lantas menggigit tangan yang laki-laki itu hingga terpekik kesakitan. Saat itulah bagi Angel untuk kabur.
"Kejar Nona! " teriak laki-laki itu pada bawahannya.
Angel berlari sekuat tenaga. Dengan gesit ia melewati orang-orang yang menghalanginya. "Permisi...Permisi!"
Angel menoleh sekilas ke belakang. Laki-laki itu masih mengejarnya. Ia tak punya pilihan lain. Diambilnya handphone di saku celananya dan menghubungi siapa saja.
"Julian... Julian! " Angel memencet tombol call untuk memanggilnya.
"Julian angkat! "
Tut tut tut
Telepon yang anda tuju sedang diluar jangkauan, silahkan....
"Arghhh" Angel frustasi.
Laki-laki itu masih mengejarnya.
"Gue nelpon siapa sekarang. Ray! " seketika nama itu muncul dalam pikirannya. Mau tak mau ia harus minta bantuan pada laki-laki itu. Terpaksa.
Hampir saja ia berhasil menekan tombol call. Namun bersamaan kakinya malah tersandung dan handphone itu jatuh ke lantai.
"Aww" Angel memegangi lututnya yang mencium lantai dengan keras. Berusaha ia menjangkau handphonenya namun sial. Laki-laki di belakangnya berhasil lebih dulu menangkapnya.
"Lepasin! Lepasin! "
Beruntungnya nomer Ray aktif. Saat Ray mengangkat handphonenya tampak nama Angel tertera di layar handphonenya. "Angel, ngapain dia nelpon gue? "
Ray menggeser tombol hijau di layar handphonenya. "Hallo! "
"Eummmt....mmmt. " suara parau dari dalam telepon membuat Ray tersentak kaget. Ia kenal suara itu.
"Angel! "
"Angel lo dimana sekarang? " Ray berubah menjadi cemas.
"Angel! "
Tut tut tut...
Handphone terputus saat laki-laki itu menekan tombol End di handphone Angel.
Di seberang Ray semakin khawatir. Ia hanya mendengar suara Angel seperti minta bantuan padanya. Diraihnya jaket dan kunci motornya, Ray langsung meninggakkan basecamp tempat Brian dan Max berkumpul disana.
"Mau kemana lo Ray? " Brian yang daat ini tengah bercengkrama dengan Max langsung berdiri menghampiri Ray
"Gue harus pergi!" jawabnya lugas.
"Kelihatannya lo buru-buru.
Ada apa? " Max melihat gelagat Ray yang tak biasa.
"Gue harus pergi. Ada urusan sebentar! "
"Nggak biasanya lo sekhawatir ini. Apa terjadi sesuatu? " Max mencurigainya.
"Sorry banget. Gue harus pergi. Kalau Julian datang. Bilang gue ada urusan. Oke., bye! " Ray meninggalkan kedua temannya dan keluar dari tempat itu.
"Kenapa Ray? " Brian menoleh pada Max.
"Gue juga nggak tahu. "
Brumm brum brum...
Motor ninja hitam milik Ray melaju dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kalang kabut, seluruh otaknya dipenuhi oleh Angel dan Angel.
2 jam yang lalu.
"Mau kemana lo? Rapi banget? " celetuk Ray melihat Angel tampak rapi tak seperti biasanya.
"Mau ketemu Ayah di stasion. Bye Ray. Gue pergi dulu! " Angel mengambil tas dan beranjak pergi
....
Jarum spidometer milik Ray semakin bertambah seiring ia memutar stang kemudi. Ia bahkan tak peduli bahaya yang bisa mengancamnya kalau ia semakin mempercepat laju motornya.
Sesampainya di stasion, Ray langsung masuk ke dalam mencari di setiap penjuru akan keberadaan Angel.
"Angel! " teriaknya.
"Angel! " Ray frustasi, ia sudah berkeliling namun tak menemukan keberadaanya.
"Arghhhh" Ray nemukul tangannya di tembok di sebelah hingga membuat memar di beberapa jemari tangannya.
Ray tak pantang menyerah, ia kembali memutar mencari keberadaan Angel. Dan kini tepat di tempat duduk yang baru saja ditempati Angel. Ia duduk disitu sebentar sambil mengatur napasnya yang kelelahan karena harus berlarian kesana kemari.
Krak, sebuah benda terinjak kaki Ray saat ia memposisikan pantatnya di kursi panjang itu. Pandangan Ray langsung dibuat terkejut dengan barang berwarna putih berbentuk bandul kelinci yang sangat dikenalinya.
"Inikan punya Angel? " sensor motoriknya langsung bangkit untuk kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Kembali ia mencoba menghubungi handphone milik Angel. Namun tak ada jawaban. Ray semakin dibuat khawatir.
Terpaksa ia mencoba mencari tahu lewat orang-orang yang mungkin bisa diminta informasi mengenai gadis itu.
"Tadi dia duduk disana, lalu saya tidak liat lagi. "
"Saya melihat seorang gadis berlari kesana! " setiap orang yang ditanyainya memberi informasi padanya.
"Terimakasih! " Ray lantas berlari menuju tempat yang dimaksud. Namun sialnya tak ada Angel disana. Gadis itu menghilang dari pandangannya.
"Angel, dimana lo sekarang! "
to be continued