Apa yang paling indah. Bintang di langit atau malam penuh bintang?
Lalu apa yang kau rasakan saat mata ini terpejam dan mengucapkan satu nama.
Satu untuk yang pertama
Dua untuk yang terakhir.
Lalu bagaimana yang ketiga?
Kau akan tahu nanti...
❤❤❤
"Malam ini indah ya Ray! " ungkap Angel duduk di ayunan bersamaan dengan Ray yang duduk di sebelahnya.
Ray diam. Ia menikmati acara menonton ribuan bintang di angkasa malam ini. Memang benar. Sangat indah. Ray mengakuinya.
Angel menggerakkan kakinya perlahan sampai ia terayun dengan bebas. Udara malam ini terasa sejuk saat angin malam menerpa kulitnya.
Angel kembali menoleh mendapati laki-laki di sebelahnya sangat terfokus pada langit malam.
"Ray, apa lo percaya sama bintang jatuh? " tanyanya tiba-tiba.
Ray menoleh. " Bintang jatuh? Lo masih percaya kaya begituan? " ucapnya meremehkan.
"Aku juga nggak percaya. Tapi aku punya satu kisah tentang satu bintang. " ungkapnya. "Cerita ini dulu pernah diceritakan ayah waktu gue masih kecil. "
Ray kembali menoleh menatap Angel yang tampak serius.
"Ayah menamainya bintang kesepian."
"Bintang kesepian? " Ray menaikkan sebelah alisnya.
"Satu bintang yang jauh dari bintang lain. Tapi yang paling bersinar dari yang lain. " lanjutnya.
"Ayah bilang, jangan pernah takut pada kegelapan. Karena saat ketakutan itu datang, lihatlah ke atas. Dia ada disana. "
"Dia? " Ray bingung.
"Bintang yang kesepian itu. Waktu gue kejebak di gudang dulu. Gue pikir nggak ada yang bisa nemuin gue. Dan saat gue udah nyerah. Gue lihat satu cahaya. Dia bersinar dan---" Angel menggantung kata-katanya.
"Dan? " Ray ingin tahu kelanjutannya.
"Gue nggak takut lagi. " Angel mengulas senyum tipis.
Ray tersenyum. Ia tahu maksud dari cerita Angel. Bintang yang kesepian. Ia tahu siapa itu.
"Apa lo ingin terus bersama sang bintang itu? " tanya Ray
"Enggak."
"Kenapa? "
"Karena bintang itu sangat keras kepala dan KASAR. " Angel tersenyum meremehkan Ray di depannya.
"Lo bilang apa tadi? Kasar?" Ray tak terima. "Nyesel gue ngomong sama lo. "
"Dih, ngambek! " Cibir Angel.
"Tapi ada satu hal yang gue tahu soal bintang itu selain dia kesepian. "
"Apaan? "
"Dia hangat. " spontan ucapan Angel membuat Ray terperangah.
"Hanya sifatnya aja yang kasar. Tapi gue tau alasan kenapa dia sekasar itu. Sama seperti sang bintang, dia kesepian. " Angel berbicara panjang lebar sambil memandang langit malam. Tanpa sadar Ray telah bangkit dari ayunan dan berjalan ke belakang.
Satu dekapan kembali diterimanya. Namun kali ini dilakukannya tanpa kebetulan. Ray mengalungkan kedua tangan mendekap gadis itu. Angel.
"Angel. Maukah kamu menjadi teman bintang yang kesepian itu? " lirihnya.
Angel terkejut dibuatnya. Dekapan yang dirasakan sangat nyaman.
"Angel! "
Bibir Angel membeku dan entah kenapa sangat sulit untuk berbicara saat ini. Ray melakukan nya lagi.
"Ray! "
"Aku ingin bintang yang kesepian itu kembali menemukan kebahagiaan. Maukah kamu mewujudkannya? "
Angel ingin berdiri, namun Ray seperti mencegahkanya untuk begerak.
"Tetaplah seperti ini. Aku suka! "
***
Hari berikutnya.
Seorang laki-laki dengan motor ninja merahnya berhenti tepat di depan rumah dengan bertuliskan nama WILLIAM yang tertera jelas di depan gerbang tadi.
Laki-laki itu lalu membuka helmnya dan masuk ke dalam. Beberapa pelayan yang dilewatinya menaruh hormat seakan tahu siapa tamunya kali ini.
"Tuan Leon, selamat datang! " sapa kepala di rumah itu.
"Apa kakek ada di dalam Beni? " tanya Leon dengan gaya santainya.
"Tuan sudah menunggu sejak tadi di ruangannya. " jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, saya akan menemuinya sekarang, " sahut Leon mulai menaiki tangga ke atas.
Tok tok tok
Pintu diketuk beberapa kali sampai ada panggilan dari dalam menyuruhnya masuk.
"Masuk! "
Leon masuk ke ruangan itu, nampak seorang laki-laki paruh baya duduk di kursi rodanya. Ia lalu memutar tubuhnya menghadap Leon.
"Leon! " panggilnya
"Selamat siang kek! " sapa balik Leon ramah.
Dengan dibantu Yudha mendorong kursi rodanya, kakek Willy mendekat. "Akhirnya kamu kembali juga. "
Leon tersenyum simpul. "Sesuai pemintaan kakek. "
Kakek Willy tersenyum. Ia sudah menganggap Leon layaknya anak kandungnya sendiri. Ayahnya bekerja untuknya dan merupakan orang kepercayaannya.
Pemilik nama lengkap Leonidas Hans Aprilio, atau saat kecil ia dipanggil dengan nama Hans.
Pertemuan mereka untuk membicarakan sesuatu yang penting terkait seorang gadis yang sangat mirip dengan cucu kakek Willy.
" Kakek yakin? " Leon ragu. "Dia Mika? "
"Mungkin aku belum bisa memastikan kebenarannya, itulah kenapa aku menyuruhmu kesini. Aku memintamu untuk menyelidikinya. " pinta Kakek Willy.
"Memastikan gadis ini adalah Mika, begitu? " Leon memastikannya kembali
"Ada satu hal yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Dan kami sudah menanyai orang yang terkait anak itu." Yudha yang sejak tadi diam mulai bersuara
"Saya harus mendekati gadis itu, begitu? " Leon ragu.
"Jangan khawatir Leon. Sebentar lagi kamu akan satu sekolah dengan mereka nanti. " lanjut Yudha
Leon mengambil foto yang diberikan Yudha padanya. Foto seorang gadis. Gadis yang pernah ia lihat saat bersama Ray.
"Dia? " mata Leon melotot.
"Gadis ini? Apa kalian yakin? " Leon masih ragu.
Sulit untuk Leon mencerna di otaknya. Gadis yang harus ia selidiki tak lain adalah gadis yang bersama Ray dulu. Gadis yang bernama Angel.