Chapter 26: Rival

1079 Kata
 "Leon! " *** Laki-laki berjaket hitam itu akhirnya membuka penutup kepalanya. Dan benar.  Dialah Leon.  Si pembuat masalah yang merupakan musuh masa lalu Ray.  Laki-laki itu telah kembali ke Indonesia. Sebelumnya, pemilik nama lengkap Leonidas Aprilo itu berada di Jerman untuk melanjutkan studinya. Keterkejutan juga dirasakan Max dan juga Brian.  Mereka juga mengenal siapa Leon.  "Leon! " Brian menatap Max dengan pandangan khawatir.  "Leon! " Shila yang juga mengenal laki-laki itu ikut terkejut.  Angel menoleh,  " Siapa Leon? " "Bisa dibilang,  Ray dan Leon pernah terlibat konflik di masa lalu. " "Leon dan Ray? " Angel kembali menoleh ke arah laki-lki berjaket hitam denvan pandangan tak tahu menahu.  "Apa kabar Ray! " sapa Leon sambil menaikkan sudut bibirnya tersenyum sinis pada Ray. Remasan tangan Ray semakin menguat saat Leon mendekatinya.  "Gue pikir setelah gue pergi.  Kemampuan lo jauh lebih berkembang.  Tapi nyatanya, gue salah. " "Bahkan sekarang lo jauh lebih lemah dari yang gue bayangin. " Ray masih bisa menahan emosi saat ucapan yang dilontarkan Leon terasa sesak dan hampir membuat darah di kepalanya mendidih.  "Oh ya satu lagi.  Apa lo masih menunggu gadis itu.  Yang udah jelas MATI. " BUG Sempurna!  Kepalan tangan yang ia pendam sedari tadi telah lolos dan berhasil mendarat di pipi laki-laki banyak omong di depannya.  "Sekali lagi lo bilang kalau Mika udah meninggal.  Gue habisin lo sekarang juga. " emosi Ray memuncak.  Leon menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya,  sambil meringis dengan senyum sinis.  "Lo masih kaya dulu," ungkap Leon bangkit.  "Pengecut! " "LEON! " satu pukulan kembali akan dilayangkan dan kali ini dengan penuh emosi.  Beruntung,  kedua temannya dengan cepat mencegah perbuatan Ray yang hampir kalap malam ini.  "Udah Ray.  Cukup! " "Lepasin gue! " Ray meronta "Percuma lo ngeladenin orang kaya dia," imbuh Brian.  Leon menyeringai.  "Lo takut?  Dasar pengecut! " "Leon! " Ray kembali berbalik. Namum tiba -tiba sesuatu tak terduga terjadi.  PLAK Satu tamparan sukses mendarat di pipi Leon dengan sangat keras.  Siapa lagi kalau bukan tangan kecil yang cukup membuat Leon berhenti mengoceh.  Tangan Angel. "Bisa nggak, ngomong sesuatu yang sopan. Apa ini cara kamu buat bikin orang lain marah? " cercah Angel. Semua yang berada disana tak terkecuali Ray juga ikut terkejut.  Sosok laki-laki bernama Leon menatap geram ke arah gadis itu.  "Emang lo siapa?  Ngapain lo ikut campur? " bentaknya.  "Gue-gue Ang---" Belum sempat Angel menyelesaikan kalimatnya,  Ray lebih dulu menariknya.  "Jangan pernah berani buat bentak Angel. " bela Ray.  Leon semakin dibuat terkejut sekaligus tak percaya.  Apa maksudnya ini?  Siapa gadis ini dan kenapa Ray malah membelanya.  "Karna yang boleh bentak Angel.  Itu hanya gue! " Leon berdecak kesal.  Kedua mata mereka saling bertemu dengan menunjukkan iris mata hitamnya.  "Ayo Angel! " satu tarikan berhasil membuat Angel luluh dengan gandengan dari tangan Ray.  "s**t! " Leon mengupat. " Dasar anak haram! " lirihnya.  Emosi Ray kembali memuncak.  Kali ini ucapan Leon benar-benar menguras emosinya.  Ia terpaksa melepas tangan Angel dan langsung menarik kerah Leon.  Satu tonjokan kembali dilayangkan dan kali ini lebih brutal. "LO BILANG APA TADI? " "Anak Haram! " "b******k! " satu pukulan dan kali ini cukup keras dan hampir membuat leon kewalahan.  Beberapa anak mencoba melerai termasuk kedua teman Ray yang mencoba menarik Ray untuk menghentikan perkelahiannya kali ini.  "Udah Ray.  Cukup! " Tapi percuma.  Bukannya kapok,  Leon semakin gencar membuat Ray marah.  Ia sangat suka berurusan dengan Ray apalagi saat membuatnya marah.  "Ray udah! " Kini Angel mencoba menghentikan aksi Ray yang memukuli Leon yang kini wajahnya penuh memar dan mengeluarkan darah di bagian mulutnya.  PLAK Saat tangan Ray kembali melayangkan pukulan untuk Leon,  Angel berusaha mencegah.  Namun nahas,  tangan Ray justru mengenai wajahnya tepatnya di matanya.  "Angel! " kejut Shila.  Angel meringis menahan sakit karena pukulan tadi sangat keras.  "Kamu nggak papa kan? " "Iy-ya. " Ray menoleh. Karena ulahnya tadi justru melukai Angel.  "Angel! " teriaknya keras.  Ia menghentikan pukulannya dan kini fokus kepada Angel yang saat ini masih menahan karena pukulan tadi.  "Angel! " Ray berlari dengan cepat ke arahnya,  namun keduluan Shila yang membantunya.  "Kita pulang aja yuk! " "Gue nggak papa kok." "Angel!" dengan tangan gemetar,  Ray merasa bersalah dengan apa yang diperbuatnya justru melukai orang lain. "Lo nggak papa? " " Iya,  aku---" "Lo sih Ray.  Udah tahu ada Angel.  Jadi ginikan. " Shila kesal.  "Kita pulang aja ya Ngel? " pinta Shila.  "Biar gue yang antar! " Ray mengintrupsi. "Kita satu rumah.  Jadi mendingan gue yang bawa dia pulang.  Ayo Angel! "Ray menarik tangannya dengan sedikit memaksa.  Tangan Angel kini berada di genggaman tangannya.  Sangat lembut.  Dari jauh Leon yang sudah tertolong dengan bantuan teman-temannya.  Ia melihat Ray berjalan pergi dengan gadis itu.  "Siapa dia? " tanyanya. Salah satu teman membisikan sesuatu di telinganya dan membuat Leon menyeringai.  "Jadi sekarang bukan Mika? " *** Ray menghentikan motornya di salah satu supermarket terdekat.  Ia langsung memakirkan motor di tepian jalan.  "Lo tunggu disini! " Ray langsung berlari ke seberang.  Dengam terpaksa,  Angel harus menunggu sambil menjaga motornya.  Sesekali ia memegang matanya yang masih sakit akibat pukulan tadi.  Jalanan yang sepi ditambah suasana sunyi dan hanya segelintir orang lalu lalang lewat. Pandangan Angel tertuju pada tempat tak jauh dari tempatnya berdiri.  Sebuah ayunan.  Angel langsung berjalan mendekat. Ia langsung memposisikan bokongnya di dudukan ayunan sambil sesekali mengayun pelan menunggu Ray.  .... Sementara Ray baru saja ke luar dan mendapati Angel tak ada di motornya "Angel, kemana dia? " Ray memgedarkan pandangan di sekitarnya, dan ketemu!  Ia melihat Angel duduk di ayunan.  Tunggu... Ayunan Ray kembali mendengar suara tawa yang selalu ada di mimpinya.  Suara anak kecil mengajaknya pergi. Gadis berlesung pipi dengan gaun putih,  tak lupa mahkota bunga yang menghiasi kepalanya.  "Angel! " langkah Ray mengantarkannya untuk mendekati tempat itu.  "Ray kenapa sangat lama,  aku sudah menunggumu dari tadi. " Bayangan kali ini yang dilihat Ray adalah gadis itu,  gadis kecil berlesung pipi dengan rambut lurusnya tengah cemberut sambil berayun.  "Mika! " Ray berusaha menyadarkan diri sendiri.  Ia mengedip untuk kembali melihat apa yang sebenarnya nyata sekarang.  "Angel! " Angel menoleh saat namanya dipanggil.  "Eh,  lo udah datang.  Beli apaan sih?  Lama banget? " keluhnya memanyunkan bibir.  Angel tepat berdiri di hadapannya.  Namun melihat Ray yang masih tak berkedip bahkan terbengong  membuat Angel berusaha menyadarkan laki-laki itu.  "Ray! " Ray masih terbengong.  "Ray! " suara Angel lebih keras lagi.  "Ray,  lo melamun? " GREP Sebuah tangan tiba-tiba menarik pinggangnya dan langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukannya. Satu demi satu senyawa dari tubuhnya mengalir. Menjadikan satu perasaan menyeruak tepat ke dalam hatinya. Angel hanya bisa pasrah dengan kondisinya sekarang--- dan bahkan ia merasa apa yang dirasakannya sangatkah nyaman.  Hingga tanpa sadar Angel membalas pelukan itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN