Aku akan datang, dimana kita pernah bertemu.
Malam nanti, gue tunggu di lapangan basket belakang rumah. Awas kalau nggak datang! "
***
Ray menatap lekat kalung yang saat ini ada di tangannya. Ia tersenyum sebentar. Dengan gerakan cepat, saat menyadari kehadiran kedua temannya datang, segera ia sembunyikan kalung itu di saku celananya. Namun tak sadar Brian melihatnya sekilas.
Brian menepuk bahu Ray pelan, " Apaan tuh? "
"Bukan apa-apa. " wajah Ray terlihat gugup.
"Cie, kayaknya special tuh! " sindir Brian. Wajah Ray memerah.
"Apaan sih lo, kalau mau makan, makan aja! " Ray berdecak kesal.
Max memilih duduk di samping Ray. Ia tak besuara menanggapi ocehan kedua temannya.
"Oh ya Ray, nanti malam lo mau ikut nggak? Lumayan, kali ini dua kali lipat. " Brian berbisik pelan.
"Malam ini? "
"Si Aga itu nggak akan bisa ngalahin lo, jadi lo bisa menang malam ini." Brian sangat yakin.
"Ini kesempatan bagus Ray, lo bisa menangin secara mutlak. Nggak akan ada yang bisa ngalahin lo! "
Ray masih menimba-nimba tawaran Brian. Malam ini ada pertandingan balapan motor tapi disisi lain, ia harus ingat janji yang diucapkan pada Angel tadi.
"Jam berapa? "
"Kalau nggak salah sih, dari jam 8 sampai selesai! "
"Gue akan datang! "
"Wih, keren lo! " puji Brian.
Max memandang wajah Ray yang masih ragu, seperti paksaan sepihak.
"Emang Julian ngijinin lo! " sanggah Max bersuara.
"Kalau perlu Julian kita bawa aja! " usul Brian asal.
Plakk
"Gila lo, mau mati! " dengan hantaman keras telapak tangan Ray mendarat di kepalanya.
Brian meringis sesaat sambil memegangi kepalanya yang nyeri akibat ulah tak bertanggung jawab dari sahabatnya.
"Atau--- gimana kalau kita ajak cewek-cewek? " Brian terus saja mendapat usulan, tapi kali ini cukup diterima oleh mereka.
"Maksud lo, Shila? " tanya Max.
"Sama Angel juga! "
Gluk... Ray tersedak saat nama Angel keluar dari mulut Brian, yang benar saja. Gadis itu akan melihatnya balapan motor? "Jangan becanda dong, Kenapa harus bawa Angel segala? "
"Biar tambah serulah Ray! "
"Adanya lo yang keenakan," kilah Max
"Gue nggak setuju kalau bawa dia! " bergegas Ray menghabiskan minuman di meja, kemudian ia melangkah meninggalkan meja mereka.
"Gue balik dulu ke kelas! "
Max dan Brian saling berpandang heran.
"Gue nggak salah denger? "
"Ray balik kelas? "
***
"Angel! "
Julian langsung berlari ke arahnya. Angel menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggilnya.
"Julian! Ada apa? "
"Kamu dari mana?"
"Tadi aku nggak sengaja liat kamu sama Ray. Dia nggak gangguin kamu lagi kan? " Julian sedikit cemas dengan gadis itu.
Angel menggeleng kepalanya,
" Enggak kok, barusan Ray cuma nyampein sesuatu aja sama aku. "
"Nyampein apa? "
"Ahh... Nggak penting kok. Jangan khawatir, Ray nggak akan macam-macam sama aku. "
Gadis itu kembali tersenyum menunjukkan semangat yang selalu membuat Julian yang awalnya khawatir kini kembali tenang.
"Kalau Ray macam-macam. Langsung beritahu aku ya? "
Sapuan lembut dari tangan Julian seketika merayap dengan cepat dan tanpa sadar selalu membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Iya. " setelah mengatakan itu, Julian tersenyum sebelum membiarkan gadis itu pergi dari hadapannya.
Julian menatap Angel dengan nanar, seperti tak rela membiarkan gadis itu pergi dari hadapannya. Ia tersenyum getir sebelum melangkah pergi.
***
Balapan motor, sesuatu yang sangat ditunggu Ray sejak peristiwa kekalahannya dulu. Namun kali ini sebuah keberuntungan besar berpihak padanya. Dan malam ini, malam yang bersamaan saat Ray mengajak Angel untuk bertemu. Tidak mungkin membatalkannya begitu sajakan?
Malam harinya
Suara gempuran motor beradu di tempat itu, ditambah sorakan dari penonton menyemangati kedua pemain yang saat ini berada di garis start, dua motor merah dan hitam menarik perhatian seluruh penonton yang hadir kali ini, kedua pengendara menutupi wajahnya dengan helm. Namun sangat jelas siapa salah satu dari mereka.
"RAY! "
Teriakan dukungan untuk Ray terus berdatangan, dua laki-laki yang tak lain Brian dan Max begitu antusias.
Kilatan bola mata pengendara itu seakan menandangan pertarungan yang sebenarnya akan terjadi di arena ini, sementara pengendara motor merah menatap ke arah lawannya dengan senyum licik.
Sebelum aba-aba dimulai, Kedua pengendara itu bersiap-siap. Suara sorakan di belakang terus saja menggema.
....
"Shila, ngapain kita kesini sih? " keluh Angel tak terlalu suka dengan pemandangan yang saat ini mereka liat. Pertandingan motor.
Angel menghela napas panjang, ia terpaksa ikut ajakan Shila.
"Itu mereka! " Shila menunjuk ke arah Brian dan Max dari jauh.
"Brian sama Max? " Angel heran, kenapa mereka juga ada disana?
Tunggu, mungkinkah Ray juga ada disini? Angel dan Shila menghampiri mereka.
"Gimana pertandingannya? " tanya Shila antusias.
"Sebentar lagi mulai. Kita liat aja! "
Suara sorakan meneriaki nama mereka. Tak terkecuali nama Ray yang juga di dengar oleh Angel.
"Ray? "
"Dia ada disana!" Brian menunjuk pengendara hitam dengan helm hijau yang bersiap untuk bertanding.
"Ray ada disini? " kejut Angel tak percaya, pasalnya saat ia akan pergi ke belakang rumah tadi, tak sengaja Angel melihat Ray pergi dengan memakai jaket kebanggaannya berwarna hitam.
Sementara itu, dua pengendara itu siap, seorang gadis berjalan di depan mereka membawa kain, dan dalam sekali lempar, kedua motor ninja itu melesat dengan kecepatan tinggi.
Suara teriakan dari belakang ikut menyoraki mereka. Namun entah kenapa berbeda saat Angel yang tau kalau Ray ikut balapan. Ia merasa takut.
"Ray! "
Kedua motor hitam milik Ray dan merah saling menyalip tak mau kalah, bahkan kali ini bisa dibilang mereka imbang. Hampir saja Ray kewalahan dengan lawannya kali ini.
"Sial! " Ray mempercepat laju motornya. Ternyata lawannya memang tangguh.
Bayangan Angel kembali muncul, ia ingat janjinya tadi, kalung yang ia simpan di saku jaketnya masih tersimpan baik di sana.
"Angel, tunggu gue! " Ray harus secepatnya mengakhiri pertandingan ini dan harus penuhi janjinya. Ia harus menang hari ini.
Ray semakin menaikkan laju motornya, dan kali ini hampir melewati batas maksimal. Ray kaget saat mendadak motor dari lawannya mengambil posisi merapat di sebelah kanan dan menghimpitnya. Belum sempat ia berpikir, pengendara motor itu menendang kuat badan motor milik Ray hingga membuatnya oleng. Berusaha Ray mencoba menstabilkan motornya dengan memperlambat kecepatannya dan lebih nenilih untuk berhenti sejenak.
"b******k! " Ray mengupat, bisa-bisanya laki-laki tadi bermain curang.
Beruntung Ray bisa menepi sebelum motornya oleng dan jatuh ke aspal.
Sementara itu di garis finish, semua tampak berdebar menunggu siapa yang menang untuk pertandingan kali ini. Dan dari arah jauh, sebuah motor sudah muncul, sorakan kembali berseruan.
"Ray! "
"Bukan Ray! " Max menyadari motor datang datang bukan milik Ray.
"Kemana Ray? " Brian menunggu kedatangan Ray. Dan yak, ia muncul setelahnya.
"Itu Ray! "teriak Brian
Pertandingan dimenangkan oleh pihak lawan dengan motor ninja merahnya. Semua sorakan mengarah pada si pemenang. Saat setelah Ray menepikan motornya, ia langsung turun dari motornya dan menghampiri laki-laki yang berbuat curang padanya.
Dengan satu tarikan tangan yang mengarah ke kerah jaket pengendara itu, Ray terbawa emosi.
"b******k. Lo main curangkan? " Ray masih mengepal tangannya, bersiap memukulkan satu kepalan untuk pengendara yang masih memakai helm di depannya.
"Buka helm lo! "
Semua langsung terkejut melihat aksi nekat Ray yang terkesan emosional itu. Dengan gerakan pelan, pengendara motor itu membuka helmnya.
"Well, masih lemah kaya dulu. Ray! "
DEG
Seketika desiran darah Ray membeku melihat orang yang di hadapannya. Begitupula dengan Brian dan Max yang sama terkejutnya.
"Gue udah bilang. Sampai kapanpun. Lo nggak akan bisa ngalahin gue! " ucapnya sombong.
Suasana panas kembali menyelimuti keduanya. Hawa dingin akan masa lalu kembali menyeruak menimbulkan benih kebencian yang semakin dalam.
"Leon! "