Chapter 24: Bintang itu (1)

786 Kata
Tidak peduli sebesar apa kamu mencari. Dia akan datang Kembali ke sisi yang seharusnya. "Ih, balikin boneka aku Hans! " teriak Mika mencoba merebut kembali boneka beruang yang diambil Hans saat berada di Taman.  Bukannya mengembalikan,  Hans malah mencoba menggoda Mika dengan menaikkan setinggi-tingginya boneka beruang di tangannya. "Ambil dong, gitu aja nggak bisa! " "Hans balikin! " berusaha Mika berjingkat berusaha meraih boneka itu, namun tiba-tiba Hans melempar boneka itu jatuh ke danau di dekatnya dan menenggelamkan hampir separuh kaki boneka tadi. "Boneka aku! " Hans tertawa meremehkan,  ia tak peduli dengan apa yang dilakukan justru membuat Mika semakin kesal padanya.  Dengan wajah cemberut,  Mika yang nampak menitihkan air mata mendorong tubuh Hans hingga jatuh ke tanah, kemudian Mika memilih pergi meninggalkan taman tanpa mengambil boneka yang dilempar Hans tadi.  Ia benar-benar marah padanya.  Hans yang masih tersungkur di tanah hanya bisa melihat kepergiannya dengan sedikit rasa sesal dengan apa yang telah di lakukannya memang keterlaluan.  .... Mika menangis di belakang pohon besar sambil memeluk lututnya. Saat itu datang Ray membawa mahkota bunga dan memasangkan tepat di kepala Mika yang menangis. "Jangan menangis! " "Kamu lebih cantik kalau tersenyum. " Mika mengenal suara itu,  suara sahabatnya, Ray yang selalu menghiburnya.  Mika melihat Ray duduk di sampingnya sambil tersenyum lalu menghapus air mata di pelupuk Mika yang basah.  Kemudian Ray merogoh kantong celananya dan mengeluarkan uang receh 5000 berjumlah dua di dalamnya.  "Apa uang segini bisa beli boneka ?" tanya Ray polos.  Mika menggelengkan kepala tak tahu.  Ray menghela napas panjang.  "Harusnya tadi aku mecahin si Moci. " "Moci? " Mika tak tahu.  "Celengan Ayam yang diberikan Mama waktu ulang tahun aku,  kata Mama,  aku harus rajin menabung,  nggak boleh jajan sembarangan, " ungkap Ray.  Mendengar ucapan Ray membuat Mika kembali tertawa.  "Kenapa kamu tertawa? " tanya Ray bingung.  "Nggak papa.  Sekarang aku udah nggak sedih lagi,  dan kamu nggak perlu pecahin Moci kamu," ujar Mika.  Mika mengambil mahkota bunga yang di sematkan Ray di atas kepalanya tadi.  "Ini kamu yang buat? " "Jelek ya?  Tadinya aku mau ngasih mawar.  Tapi waktu aku ambil,  tangan aku kena durinya.  Jadi aku cuma kasih bunga kecil di atasnya.  "Ini cantik.  Makasih Ray. " Ray tampak puas dengan hasilnya tadi,  bahkan ia sempat menyembunyikan jarinya yang saat ini di hansaplast karena memetik mawar yang ternyata penuh duri.  *** Hari sebelumnya Ray berjalan-jalan disalah satu pertokoan. Matanya tertuju pada salah satu toko yang menjual barang-barang antik disana.  Pandangannya tertarik pada salah satu benda yang dijual di dalam. Sebuah kalung bertulis nama 'Angel' di sana.   "Angel! " Saat itu juga Ray teringat akan sosok gadis itu. "Ada yang bisa saya bantu? " seorang penjual datang mendekat.  "Boleh saya lihat kalung itu!?" Penjual itu mengambil kalung yang ditunjuk oleh Ray.  Ia memandang kalung itu kembali sambil tersenyum.  "Mau memberi hadiah untuk pacar? " tanya Penjual sedikit mengoda.  "Bu-bukan,  dia bukan pacar saya. " Ray tampak malu-malu.  "Mungkin hari ini belum,  tapi tidak ada yang tahu besok. " pelayan itu terus menggodanya. "Gadis itu pasti beruntung mendapat hadiah kalung secantik itu. " "Hanya namanya yang sama." ....... *** Di atap sekolah.  Ray menarik Angel menuju ke salah satu atap sekolah yang dirasa cukup sepi untuk keduanya.  Dengan gaya angkuh seperti biasa,  Ray kini mendorong tubuh Angel ke tembok.  "Mau apa sih lo.  Gue sibuk Ray, kalau mau ngajak ribut jangan sekarang! " geramnya.  "Siapa yang ngajak ribut,  gue mau ngasih sesuatu," Ujarnya.  Angel tertawa,  seorang Ray ingin memberinya sesuatu, mana mungkin? "Jangan becanda deh,  gue mau balik ke kelas lagi! " Angel merusaha menghindar.  Namun saat Angel menghindar,  Ray justru kembali menarik tangannya.  "Gue nggak becanda! " Angel memincingkan mata heran,  apa ini Ray.  Ray yang dikenalnya?  Kenapa tiba-tiba sikapnya jadi baik.  Angel memeriksa dahi Ray dengan sebelah tangannya untuk memastikan "Nggak panas! " Angel lantas memeriksa kepalanya sebagai pembanding. "Jangan-jangan Ray kepentok pintu lagi! " Angel bermonolog sendiri.  "Udah? " ujar Ray kemudian.  "Gue juga nggak mau berdebat sama lo.  Capek ngurusin cewek cerewet yang selalu negatif sama gue. " "Siapa? " "Elo! " "Ehhh! " "Ssttt...  Berisik. " Ray menegurnya.  Dari bawah Julian yang baru saja berjalan bersama anak-anak yang lain tak sengaja pandangannya tertuju pada sosok yang dikenalinya bersama di sana.  "Angel! " "Ray! " Julian menatap bingung ke arah keduanya,  untuk apa mereka bersama,  di atap sekolah. Dan apa yang mereka bicarakan di sana.  "Jul--kita duluan ya! " serimu temannya pamit lebih dulu. "Oh yaa... " Tatapan Julian kembali mencari sosok itu. Mereka masih disana.  Julian terus mengamati dari bawah.  "Malam nanti, gue tunggu di lapangan basket belakang rumah.  Awas kalau nggak datang! " sesaat setelah mengucapkan kata itu,  Ray pergi.  Angel hanya melongo mendengar permintaan aneh Ray tadi.  Apa maksudnya meminta nanti malam menemuinya?  Lalu untuk apa tadi dia menarik dan membawanya kesini hanya untuk bilang itu?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN