"Bawa dia masuk ke dalam! " perintah laki-laki dengan setelan jas hitam mulai memasuki salah satu ruangan.
Seorang laki-laki diseret dengan kasar oleh dua penjaga.
"Saya sudah membawanya kemari tuan. "
"Kerja bagus Yudha. Sekarang suruh mereka semua keluar dari ruangan ini, kecuali laki-laki itu! "
"Baik tuan. "
Dengan satu isyarat, semua pengawal yang berada di dalam langsung keluar--dan kini hanya tersisa tiga orang di dalamnya.
Sosok laki-laki paruh baya yang saat ini tengah duduk membelakangi mereka mulai memutar kursi kebesarannya menampakan wajahnya.
"Siapa anda? Kenapa saya dibawa kesini? " tanya Ardiandra bingung.
"Katakan Yudha, kejadian yang sebenarnya. "
"Baik tuan. "
Yudha berjalan mendekati Ardiandra dengan gaya angkuhnya.
"Dimana anak itu? "
"Anak? " tanyanya bingung.
"Anak yang anda selamatkan dulu! "
"Apa maksud anda, saya tidak mengerti! "
"Anak yang bernama Angel. Dimana dia? "
Seketika wajah Ardiandra pucat.
"Anak itu sudah meninggal karena kecelakaan. "
"Anda jangan macam-macam. " bentak Yudha geram.
"Saya sudah katakan yang sebenarnya, Angel sudah meninggal. Anakku sudah meninggal. "
"Angel adalah satu-satunya harta berharga yang pernah saya miliki. Kehadirannya di dunia ini adalah anugrah. Wajahnya yang polos, Sifatnya yang periang. Dia bercita-cita menjadi dokter kalau besar nanti, keinginan yang tak akan pernah dia capai sampai saat ini. Karena anak saya sudah meninggal. Angel...."
"Maafkan Ayah!! "
"Apa dia berkata jujur Yudha? "
"Dia sedang menceritakan tentang anaknya yang bernama Angel, Tuan. "
Yudha melangkah mendekatinya lantas menepuk bahu Ardiandra sekilas.
"Kalau Angel sudah meninggal. Siapa gadis itu?? Yang pernah anda selamatkan dulu! "
"Dia--"
*
"Ray!"
"Berisik!!"
"Sampai kapan tangan gue lo pegang?" tanpa sadar Ray masih menggenggam jemari tangan Angel yang baru saja ia hansaplast.
"Sampai lo---" dengan gerakan cepat, Ray langsung melepaskan. Ia kikuk.
Drrrtttt....
Getaran handphone mengangetkan keduanya. Suara itu berasal dari meja di dekat Angel duduk, dan dengan gerakan cepat Angel langsung mengambilnya.
"Halo! "
"Ayah! Tumben Ayah nelpon Angel malam-malam. Ada apa? "
"Angel, ada sesuatu yang ingin Ayah katakan padamu. Ini penting!"
"Penting? Kenapa suara Ayah serak, Ayah sakit? "
"Besok, temui Ayah di Stasion. Ayah tunggu disana! "
"Stasion? Apa Ayah datang kesini?kenapa Ayah nggak bilang sama Angel." Angel begitu sumringah.
"Ayah ingin memberimu kejutan sayang! "
"Pasti Ayah mau beri kejutan karena sebentar lagi Ulang tahun kak Angel! "
Ray yang masih berada di sampingnnya memincingkan mata heran saat Angel menyebut seseorang dengan nama yang sama.
"Kak Angel? "
"Besok Angel pasti akan temui Ayah. "
Setelah mengakhiri obrolan mereka di telepon, Angel langsung mematikan.
"Kenapa Ayah nggak nggak ngasih tau aku kalau dia datang! "
"Angel! " panggil Ray yang sejak tadi
gelisah.
Angel menoleh ke arah Ray yang masih di posisi yang sama.
"Tadi gue denger lo nyebut
kak Angel? "
"Oh... Iya. "
"Siapa dia? "
"Kakak gue. "
"Nama kalian sama? "
"Iya, lucukan. Ayah yang memberi nama Angel setelah kak Angel meninggal."
"Meninggal? "
Angel mengangguk. " Kak Angel meninggal karena kecelakaan. "
Ray masih tak mengerti maksud yang diucapkan Angel, apa ini lelucon malam? Angel punya kakak bernama Angel? Ia masih dibuat bingung.
"Pasti lo bingung ya?
"Gue juga, sampai sekarang Ayah nggak pernah ngasih tahu alasan kenapa gue diberi nama Angel. "
"Memang nama lo sebelumnya siapa? " Ray mengernyit
Angel menggelengkan kepala. "Gue nggak tahu. "
"Nama lo sendiri nggak tahu, cewek aneh! " cibir Ray.
"Heh? Gue emang nggak tahu nama asli gue, tapi yang jelas nama gue sekarang Angel! " Angel mengembungkan pipi kesal.
"Pantes gue bilang cewek aneh. Nama sendiri aja lupa. "
"Kalau bukan karena gue hilang ingatan, gue pasti udah tahu siapa nama gue!" Angel menghentikan ucapannya sebentar "Gue juga pengen tahu siapa nama asli gue. "
"Gue tahu. Cewek G-I-L-A!"
"RAYYY!!! Ih lo tuh bisa nggak sih, nggak becanda disituasi kaya gini. "
"Siapa yang becanda, gue serius! "
"Gue nyesel cerita sama lo! " Angel cemberut.
Ray tertawa meremehkan, namun di balik itu. Ray sengaja menyembunyikan satu perasaan khusus untuknya. Dan soal identitas asli siapa Angel--justru itu yang membuat Ray bingung.
Angel? Siapa dia sebenarnya?
***
Keesokan harinya di sekolah.
"BRIAAANNN!!! ITU BAKSO GUE JANGAN DIAMBIL!! " teriak Shila kesal saat acara makan siangnya diganggu dengan kedatangan makhluk super nyebelin yang seenak jidat duduk diantara Shila dan Angel--siapa lagi kalau bukan Brian.
Yah, saat ini mereka tengah berkumpul di satu meja memanjang yag tentu saja dengan keusilan Brian yang muncul secara tiba-tiba dan langsung mencomot satu bakso yang akan dimakan Shila--gimana nggak marah?
"Cuma satu! "elak Brian melawan.
"Satu di sisa bakso gue yang terakhir !"
"Jangan marah dong. Nanti cantiknya hilang lho! "goda centil Brian mencolek dagu Shila.
"Aishhh!! Nggak usah gombal, gue nggak mempan!"
"Digombalin nggak mau. Yaudah gue gombalin Angel aja. "
"Dih! "
"Tuhkan cemburu! "
"Siapa yang cemburu!"
"Tuh pipinya merah! "
"Apaan sih? Nggak ada hubungannya."
"Jelas ada Shila sayang, seorang perempuan yang menunjukkan pipinya memerah, itu artinya---"
"Itu artinya gue eneg sama lo! " potong Shila bangkit dari meja dan pergi.
"Ehh, Kok pergi! Shila jangan marah dong! " Brian mengejar Shila yang terlihat marah padanya.
Angel dan Dave yang sejak tadi diantara mereka seakan seperti sang figuran yang muncul ditengah pemeran utama yang sedang bertengkar.
"Udah biasa kali Ngel, mereka itu udah kaya kucing sama tikus. Tiap hari kerjaaannya berantem. "
Angel malah tertawa kecil. "Habis lucu aja, kok bisa sih Shila semarah itu sama Brian? "
"Bukan marah, tapi ya emang sifat Shila yang pemarah. Gue aja pernah kena marah gara-gara telat latihan." Ujar Dave tersenyum kecil melihat sifat yang dimiliki satu sahabatnya itu.
"Dan lo juga harus tahu. Keluarga Shila dan Brian itu udah akrab, jadi lo pasti tahu udah berapa lama mereka kenal, bahkan sebelum gue kenal mereka berdua. "
"Oh, gitu yaa!"
"Oh ya Ngel, gue masih penasaran. Apa hubungan lo sama keluarga Raveno? Mereka nganggap lo special gitu. "
"Soal itu---cuma kebetulan aja kok. "
"Soalnya. Dari semua gadis di sekolah ini, sangat sulit mendekati mereka, kalau bukan karena status kaya Queen yang keluarganya bersahabat dekat dengan keluarga Raveno akan susah."
"Mungkin hanya perasaan lo aja." Angel terlihat gugup.
Pandangan Angel sengaja beralih dengan menyeruput segelas es jeruk di mejanya dengan cepat. Bersamaan saat ia menoleh ke arah lain. Sosok yang seaharusnya ingin ia hindari kini menoleh tepat padanya.
"Uhuh... Uhuk... "
"Hati-hati Angel kalau lagi minum! "
Siapa lagi kalau bukan pandangan mematikan yang selalu di arahkan padanya. Sang pangeran nomer satu di sekolah Galaksi. Ray.
Angel berusaha menyibukkan diri dengan bermain handphonenya, namun sial. Justru Ray malah berjalan mendekatinya tanpa Angel sadari.
"Angel! " panggil Ray mengejutkan beberapa anak yang tengah duduk di sekitarnya.
"Angel! "bisik Dave menyenggol siku Angel yang tak merespon.
"Cewek Gila! "
Uhukkk....
Hampir saja Angel tesedak untuk kedua kalinya saat Ray memanggil seenaknya saja padanya.
"Gue bukan cewek gila! " respon Angel marah.
"Dari tadi gue panggil nggak noleh . Ikut gue! "titahnya.
"Ikut lo? " Angel memincingkan mata heran.
"Kalau gue jelasin disini bakal panjang urusannya. Ikut gue sebentar! "dengan gerakan gesit, Ray langsung merampas paksa tangan kiri Angel untuk bangkit dan mengikutinya.
"Tung-tunggu.... Ray!!! "