Malam harinya...
Ray kembali menatap langit-langit dengan pencahayaan minim. Tangannya terangkat seakan meraih satu cahaya lampu yang berpijar di depan matanya saat ini.
"Dasar cewek ceroboh. "
Tiga kata yang cukup membuat ia kembali mengulas senyum di bibirnya. Entah apa yang ia rasakan antara senang atau memang ada perasaan lain pada gadis itu.
....
Sementara Angel yang saat ini tengah membolak-balikan buku pelajaran tampak serius sampai tak mendengar getar handphone yang tergeletak di sebelahnya.
Beruntung cahaya dari layar handphone yang tajam mengalihkannya.
Dengan gerakan cepat, Angel langsung meraih handphone itu.
RAY.
Nama yang tertera di layar saat ini sangat jelas, Ray mengirimkan satu pesan untuknya. Angel memincingkan mata heran—untuk apa Ray mengirimkan pesan malam-malam?.
Satu pesan belum terbaca
Udah baikan?
Angel heran. Untuk pertama kalinya dalam sejarah ia berada di rumah ini, Ray—menghubunginya. lebih tepat mengirimkan pesan untuknya.
1 menit Angel mencerna kalimat yang tertulis di layarnya, apakah mimpi? Ray mengirimkan pesan bertulis "Udah baikan?"
Demi apa? Ray mungkin kepentok pintu kamar mandi lagi saat ini—tapi itu tidak mungkin.
Tangan Angel mulai mengetik satu pesan untuk jawaban darinya.
Iya
Singkat, jelas dan padat. Tinggal tekan tombol send semua selesai— tapi sekali lagi, Angel mengurungkan niat untuk membalas pesan yang hanya bertulis iya untuk Ray.
Satu pesan berhasil terhapus, ia kembali mengetik pesan lain.
Jangan khawatir!
Ia ragu dan kembali menghapusnya.
Gue baik-baik aja.
Satu anggukan setuju untuk jawaban kali ini, kemudian ia tekan send—dan ya, pesan telah terkirim.
Ting
Suara pesan masuk lagi, Ray membalas.
Selamat malam!
What? Jawaban apa ini? Apa Ray sedang bercanda sekarang. Angel menghela napas dan meletakkan kembali handphonenya.
Selang beberapa detik, suara itu kembali terdengar. Angel langsung membukanya.
Marah?
Angel menyerngit heran. Apa maksud Ray kali ini, dengan jari-jari yang lincah Angel membalas pesan tersebut.
Lo Ray kan?
Menurut lo?
Sejak kapan lo
ngirim pesan ke gue, nggak biasanya.
Sejak hari ini.
Lo pasti lagi becanda.
Enggk
Angel is typing...
Ray menunggu balasan apa yang diberikan untuknya, namun 1 menit ia menunggu, Angel tak membalasnya.
Angel, apa lo udah tidur?
Saat Ray ingin mengirim pesan itu, giliran ia yang ragu dan langsung menghapusnya. Kemudian Ray beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju balkon yang menghubungkan ke luar kamarnya. Desiran angin malam dengan udara segar membuat pikirannya tenang, tempat yang paling ia sukai di tempat itu. Sebuah Ayunan kursi panjang yang selalu menemaninya menikmati semmilir angin malam. Beruntung langit kali ini sangat terang bertabur bintang, ia mulai menempatkan bokongnya duduk di atas ayunan itu sambil menyilangkan kedua tangan di d**a, sesekali ia menganyunkan ayunan itu perlahan sembari menutup matanya.
Berlawanan saat Ray menutup matanya, iris mata Julian mulai memancarkan satu sinar untuk terbuka, dipandangnya langit malam dari jendela kamar dengan satu remang cahaya di dalamnya.
Drtttt....
Suara getar handphone membuat Julian menoleh seketika, lantas ia berjalan dengan malas mengambil handphone yang tergeletak di kasurnya.
Satu pesan belum terbaca.
JANGAN PURA-PURA LUPA,
LO HARUS TANGGUNG JAWAB. PENGECUT!!
Akhir-akhir ini Julian sering mendapat teror di handphonenya. Sejak kejadian kotak tanpa pemilik itu, kini pesan misterius menghantuinya. Ia enggan untuk meminta bantuan orang, ia tahu satu hal—alasan kenapa pesan itu ditujukan untuknya—lebih tepatnya akan kejadian 2 tahun yang lalu.
***
Minggu di Pagi hari...
Pukul 06.00 WIB, Angel telah siap dengan celana training panjang hitam dan kaos pendek merah mudanya, hari ini ia ada janji dengan Julian akan melakukan lari pagi keliling komplek, saat langkah kakinya berjalan melewati kamar Ray, ia berhenti sejenak. Ada perasaan penasaran yang tersembunyi untuk sekedar mencari tahu apa yang dilakukan Ray sepagi ini. Mungkin Ray masih tertidur lelap di ranjangnya.
Angel juga belum melihat Julian keluar, selama ia menunggu. Rasa penasaran akan satu kamar yang bertulis dengan sangat jelas "BEWARE" yang ditempel di depan pintu. Otomatis saja kejadian tak terduga yang pernah dilakukan Angel dulu mulai terbayang di kepalanya.
"Ngapain gue ngurusin dia? Nggak penting!" batinnya.
" Apa Ray gue ajak lari pagi aja kali ya?"
"T-tapi, dia pasti nolak. NGGAK PENTING! Gue yakin dia pasti ngomong itu."
"Palingan juga, tuh cowok masih tidur pules, udah kaya beruang aja..."
Suara langkah dari belakang mendekati Angel saat ia mendumel sendiri di depan kamar Ray.
"Daripada ngajak Ray ... mendingan gue lari pagi sama—"
"Sama siapa?"
DEG
Suara serak khas terdengar dari belakang, ia menyadari satu hal lewat suara itu. Jelas itu bukan suara Julian—lebih tepatnya...
"Ray!" Angel memutar tubuhnya ke belakang. Sosok jangkung kini berdiri tepat di depannya.
"Pa-pagi..." Angel mengulas senyum paksa ke arahnya.
"Lo mau kemana?" tanya Ray sambil bersedekap.
"Gue...gue mau—"
"Ray!" suara Julian terdengar dari belakang dan menghampiri mereka.
"Tumben lo udah bangun, mau ikut lari pagi sama kita?"
"Ray mana mau, pasti dia—"
"Siapa bilang gue nggak mau, lagian gue juga bosan di rumah," Sela Ray.
Angel memincingkan mata heran. Sangat tidak biasanya sikap Ray jadi berubah.
"Yaudah...kita bertiga lari pagi bareng aja, Nggak papa kan Angel?" tanya Julian.
"Aku sih—"
" Kalau lo keberatan, lo nggak usah ikut," ketus Ray.
"Aishh."
***
Taman komplek.
Mereka bertiga memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk di salah satu kursi panjang di taman komplek. Ada yang berbeda dengan posisi Angel saat ini—bisa dibayangkan saat ini ia duduk di antara Julian dan Ray—lebih tepatnya ia berada di tengah keduanya. Ray dengan gaya sok acuh sementara Julian hanya bersikap biasa, sesekali menyunggingkan senyuman.
"Angel, kamu haus nggak? Aku beliin minum ya?" tawar Julian.
"Nggak usah Julian—" belum sempat ia menolak, Julian langsung berlari menuju ke toko di seberang.
Dan sekarang, sepeninggalan Julian pergi. Kini hanya ada dua insan yang saling membisu di satu tempat berukuran panjang—dan dalam keadaan sepi, hanya gemerisik dedaunan dan kadang ada suara anak tertawa yang sedang bermain tak jauh dari tepatnya kini.
Canggung.
Itulah yang dirasakan Angel saat ini, bahkan untuk menoleh ke arah Ray yang begitu acuh padanya—sampai satu suara terdengar di sampingnya.
"Angel!"
Angel menoleh saat Ray memanggilnya.
"Apa yang lo suka dari Julian?" tanyanya tanpa menoleh sedikitpun pada Angel.
"Kenapa lo tanya itu? Jelas gue suka sama Julian karena dia baik, dia juga peduli sama gue dan— "
"Kalau gue jadi Julian, apa lo juga bakal suka sama gue?"
DEG
Kedua mata Angel kini menangkap sinyal mata dari Ray. Ada satu pancaran yang diam-diam mampu melelehkan setiap detak jantung—apalagi saat Ray mengatakan itu di depannya.
Hening...
Hanya desiran angin yang menerpa wajah mereka saat keduanya menatap satu sama lain. Lima menit dan saat keduanya menyadari satu hal, segera mereka langsung memalingkan wajah ke sudut lain.
"Kayaknya gue harus nyusul Julian deh!" Angel bangkit dan beranjak pergi.
Belum sempat ia melangkahkan kakinya, sebuah tangan hangat mencegahnya. "Tunggu!"
Angel menoleh, tangan Ray menariknya dari belakang. "Ray?"
BRUUK...
Suara tangis seorang anak kecil mengagetkan keduanya, tak jauh dari tempat mereka, seorang anak gadis menangis karena terjatuh dari sepeda—rupanya gadis kecil itu tengah belajar sepeda karena bersamaan seorang anak laki-laki seusinya menghampirinya.
"Jangan menangis Mia!"
"Lutut aku sakit Vino...lihat, berdarah..." isaknya memperlihatkan goresan dengan darah segar di atasnya.
Dengan gerakan cepat anak kecil yang bernama Vino itu meniup lutut gadis kecil itu.
Flash
"Mika!" teriaknya Ray panik.
Mika meringis kesakitan saat melihat luka goresan yang cukup dalam sampai mengeluarkan darah segar di lututnya.
"Aw sakit!"
"Kamu nggak papa?" Ray mengambil sapu tangan di saku celana dan membalutkan di lutut Mika yang berdarah.
"Udah mendingan?"tanya Ray
"Sedikit" anggukan kepalanya menandakan dia baik baik saja. Ia tertawa simpul.
Flash
Kejadian itu sama persis dengan apa yang dilihatnya sekarang, dua anak kecil itu mengingatkannya pada Mika, sahabatnya.
"Mika!"
Angel menoleh saat Ray memanggil nama Mika saat menatap ke arah dua anak kecil itu.
Angel juga masih merasakan jemari Ray yang masih menggenggam tangannya erat. Ray yang masih menatap dua anak kecil itu tanpa sadar menitihkan air mata.
"Ray?"
"Ray!"
Ray terdiam dengan mata mengarah pada dua anak kecil tadi beranjak pergi—yang membuat Ray tak bisa membendung perasaannya, saat ia melihat anak kecil itu melakukan apa yang pernah dilakukannya dulu saat Mika jatuh—membalutkan luka dengan sapu tangan.
"Mereka pasti saling menyayangi satu sama lain, melihat temannya jatuh dan—"
"Nggak ada takdir yang bisa memperkirakan apakah kedua anak itu akan bersama atau berpisah," potong Ray kemudian.
Angel mengernyit bingung dengan ucapan Ray. "Maksud lo?"
"Mungkin, saat dewasa. Anak itu akan kehilangan sahabatnya...mereka berpisah."
"Itu nggak mungkin, apa alasan mereka berpisah?"
"Kematian."
Seketika lidah Angel membisu saat Ray membicarakan kematian.
"Tidak ada yang tahu takdir apa yang membawa mereka nanti."
Angel tertawa kecil, apa maksud Ray tiba-tiba berubah jadi seserius ini. "Hey Ray, lo nggak boleh ngomong gitu, seakan lo tahu segalanya..."
Ray menoleh. "Karena gue pernah ngalami. Apa itu kehilangan—dan itu sangat menyakitkan."
Angel mengerti maksud dari ucapannya kali ini. "Lo masih belum bisa melupakannya?"
"Lo harus tahu satu hal, setiap orang itu punya takdir masing-masing. Alasan kenapa Mika pergi, pasti Tuhan punya rencana...yang mungkin lo sendiri akan tahu nanti."
"Kalau itu lo, apa yang akan lo lakuin saat di posisi gue?"
Angel menghela napas pendek. "Gue? gue mungkin—"
"RAY...ANGEL!!!" teriak Julian berlari ke arah mereka dengan membawa kantong putih berisikan minuman.
Julian memberikan botol air mineral untuk Angel. "Nih buat lo!"
"Makasih Julian."
"Kalian ngapain pegangan tangan?" Julian heran
DEG.
Angel menayadari satu hal, bahkan saat Julian telah kembali, tangan hangat Ray masih melekat dengan jemarinya.
"Memangnya kenapa?" ketus Ray sinis. " Gue nggak boleh pegangan tangan sama Angel?"
"I-tu...tadi gue—"
"Tangan gue dingin, dan beruntung tangan Angel hangat," tukas Ray sinis.
Julian memincingkan heran, lantas tersenyum. "Gue kira apaan... ini buat lo!" Julian mengulurkan botol itu pada Ray.
"Thanks..."
***
Bukan tentang kehilangan, ini lebih dari itu.
Angel merasakan kehangatan tangan Ray yang masih melekat, bahkan saat ia membasuh tangan di wastafel. Walau air yang keluar dingin, tapi aliran kehangatan itu masih ada. Apalagi saat Angel mengingat percakapan dengannya tadi pagi.
Angel mendesah pasrah. bagaimana bisa tatapan Ray membuatnya pilu. Sebegitu kejamkan takdir yang dialami Ray hingga membuatnya kehilangan sahabatnya.
Mika,
Nama itu memang asing baginya, tapi ada satu hal yang membuatnya bingung. Ia selalu melihat sosok anak kecil tersenyum padanya, dia Mika—padahal Angel belum pernah melihat sebelumnya.
"Mika?"
Rasa penasaran tentang gadis itu memunculkan satu ingatan tentang dirinya.
Flash
"Selamat ulang tahun ....selamat ulang tahun...."
"Selamat ulang tahun sayang..." bayangan seorang anak yang dicium kedua orang tuanya.
Flash
"Arghhhh...."
PYARR...
Tanpa sengaja, saat keseimbangan Angel terhuyun, siku tangannya menyenggol gelas di meja tepat di belakangnya hingga menimbulkan bunyi nyaring sampai terdengar di kamar Ray.
"Angel!" Ray yang tengah duduk sambil membaca buku terkejut dengan suara nyaring di sebelah kamarnya.
Sinyal merah langsung merespon, dan seketika Ray bangkit dari tempat duduknya.
........
BRAK...
"ANGEL!!!"
"Ray?"
Ray langsung menghampirinya." Lo ngapain sih?"
"G-gue nggak sengaja." Angel membereskan pecahan gelas di lantai.
"Udah..udah....biarin aja," cegah Ray.
"Aww..." satu tetes darah mengalir dari telunjuk Angel membasahi lantai.
"Gue bilang juga apa, ngeyel banget sih... " Ray langsung menarik tangan Angel yang berdarah.
"Sini ikut gue!" Ray menuntun Angel untuk duduk di tepi ranjang Angel di dalam kamar.
"Naikin ke atas!" pintanya.
"Apanya?"
"Tangan lo, biar darahnya nggak keluar lagi."
Angel hanya menurut kali ini, ia bingung dengan sikap Ray yang begitu khawatir padanya. Sementara Ray mencari kotak obat di kamar itu, dan dengan mudahnya Ray langsung tahu dimana letak kotak obat di kamar itu, bergegas ia kembali mendekati Angel.
"Susah ya dibilangin, makanya lo tuh harus hati-hati. Udah dua kali lo ngalamin kejadian ini. Dasar cewek ceroboh!" geram Ray.
"Maaf."
CTAK
"Aww... Ray sakit, kebiasan banget sih. Suka jitakin kepala gue." gerutunya kesal.
Satu hansaplash membalut jari telunjuknya.
"Lihat ini!"
Angel heran.
"Luka di tangan lo, ini lebih berharga sekarang."
DEG