Chapter 21: Khawatir

1118 Kata
"Kamu adalah bagian dari bintang itu." Langkah Angel perlahan mundur dan tanpa disadari ia menabrak tubuh tegap di belakang. "Angel?" ..... "Angel!" Bariton suara dari belakang mengejutkannya, Angel memutar tubuhnya dengan cepat. "Ju-julian?" "Kamu ngapain di luar?" "Aku...aku cuma cari udara segar aja," ujar Angel sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Julian mengamati jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 10 lebih. " Udah malam, kita balik yuk!" Angel hanya mengangguk mengiyakan. Langkah Angel melambat sesekali menoleh ke belakang, bayangan dua anak itu sudah hilang dari pandangannya. ..... Di lain tempat Ray yang masih menunggu dari luar, tak kunjung mendapatkan hasil atau memang mereka sudah pulang? Ray mendesah pelan, dan saat rasa kebosanannya melanda, ia memilih untuk pulang ke rumah. "JULIAN!" Suara lembut itu menghipnotisnya, Ray menoleh ke depan. Tampak dua orang baru saja keluar dari rumah tersebut. Sorot tajam dari kedua mata Ray dapat dilihat saat melihat keduanya masuk ke dalam mobil. Dari jauh ia terus mengamatinya. * Ray menghempaskan tubuhnya di sofa dengan pandangan menatap langit-langit di kamar bernuansa hitam-putih. Bayangannya kali ini terus tertuju pada sosok gadis yang sering muncul di kepalanya. Gadis itu yang selalu membuatnya kesal. Gadis itu yang selalu merubah moodnya secara tidak langsung Dan Gadis itu .... Yang telah memberi warna dalam hidupnya sekarang. Membuatnya tersenyum sekaligus rasa nyaman—tapi justru ia lebih menyukai saat dimana gadis itu marah padanya. Ada gelenyar aneh masuk dan menempatkan diri secara tidak langsung. Ray memegang dadanya yang selalu sesak tatkala melihat gadis itu bersama orang lain. Ia benci Kenapa harus ada saingan? Ray sangat membenci itu, apalagi dengan saudaranya. Ray juga tahu Julian menaruh hati padanya—dan sebagai saudara, itu tidak dibenarkan. Ia menyayangi Julian begitu pula dengan gadis itu. Dan sekarang pertanyaannya, bolehkan ia merebut gadis itu darinya, menjadi lawan dari saudaranya sendiri? Bolehkan?. "Angel!" setiap kali Ray mengucapkan nama itu, dadanya terus bergemurung. Sesak! Ia merasakan perasaannya semakin membuatmu tersiksa. *** 06.35 WIB, di Ruang Makan. Angel, Julian, dan Ray menempati meja makan bersama, seperti biasa sebelum berangkat mereka sarapan terlebih dahulu. Kali ini Angel duduk tepat di depan Ray bersebelahan dengan Julian di sampingnya. Saat ia mengambil roti tawar di depannya, dengan gerakan cepat tangan Ray mendekatkan selai strawberry untuknya dengan tatapan mata Ray teralih ke tempat lain. Awalnya Angel tak terlalu mempedulikan dan menganggap—mungkin Ray tak sengaja menyenggol atau apalah, tapi untuk kedua kalinya Ray justru memberikan segelas s**u putih untuknya, padahal gelas di depannya masih ada. Sementara Julian saja bingung dengan sikap Ray. "Badan lo kan kecil, jadi lo butuh nutrisi yang cukup...ini buat lo!" ucapan Ray membuat Angel melongo heran menatap sikap Ray yang aneh pagi ini. "T-tapi ini kan punya lo?" "Gue udah kenyang, awas kalau nggak dihabisin." Glup, Angel menelan ludah payah. Sejak kapan Ray jadi sesinis itu kalau ia tak menghabiskan s**u pemberiannya, lagi pula di depan mejanya sudah ada segelas s**u yang bahkan belum dijamahnya. "Lo tuh makannya dikit banget sih, mana kenyang kalau cuma sarapan satu roti?" Ray mengambil dua roti tawar sekaligus dan mengoleskan selai Strawberry dengan cepat dan langsung menangkupnya jadi satu lalu meletakkan di piring Angel. Angel hanya menatap bingung dengan sikap Ray yang aneh pagi ini. Julian yang sejak tadi diam mulai bersuara. "Ya kali Ray, lo mau buat Angel sakit perut dengan dua gelas s**u sama dua roti sekaligus. Aneh lo!" protes Julian menggelengkan kepalanya. "Lo nggak lihat, nih cewek kerempeng kaya kurang nutrisi. Dikira entar keluarga kita nggak ngasih makan apa," cetus Ray tak mau kalah. "Tapi Ray, kira-kira lo... nyuruh Angel minum dua gelas s**u sekaligus." "Angel aja nggak papa, kenapa lo yang marah!" "Ya, tapi Ray—?" "Udah-udah kenapa kalian yang ribut sih? Nggak papa Julian, aku bakal minum dua gelas ini kok," ujar Angel mengambil segelas s**u dan meminumnya, selanjutnya segelas s**u yang diberikan Ray tadi dengan cepat. Ray tersenyum puas melihat Angel meminum s**u pemberiannya, sementara Julian hanya menghela napas panjang dan membiarkannya. Selanjutnya mereka bergegas menuju ke sekolah. Kali ini seperti biasa, Angel berada di mobil Julian, sementara Ray dengan motor ninja hitamnya. SMA Galaxy. Pelajaran olahraga JEDUK... Bola tepat mengenai kepala Angel saat tak sengaja ia berusaha menangkap bola yang dilempar ke arahnya hingga membuat ia meringis kesakitan. Dengan gerakan cepat Ray yang juga berada di satu lokasi tak jauh dari sana langsung berlari menghampiri orang yang menjadi dalang pelemparan bola tadi. "LO GIMANA SIH, HATI-HATI DONG!" bentak Ray mengeratkan kerah baju laki-laki yang melempar bola ke arah Angel tadi. "Maaf kak... aku nggak sengaja..." "LO BISA BIKIN ORANG CELAKA TAHU NGGAK?" Angel yang masih memegang kepalanya akibat benturan dengan bola tadi menatap aneh ke arah Ray. Ia melihat Ray marah hanya karena dirinya terkena bola yang tak disengaja. Aneh! "Ray!" "Ma-maaf kak..." laki-laki itu sangat takut saat berhadapan dengan Ray yang saat ini marah. "Angel lo nggak papakan?" Shila datang menghampirinya. "Iya, gue nggak papa kok." Ucapan Angel membuat Ray sedikit lega dan melepaskan cengkraman tangan dari kerah laki-laki di depannya. Shila membantu Angel berdiri dan mereka berjalan meninggalkan lapangan. Sementara Ray hanya bisa menatap kepergiannya tanpa berucap sepatah katapun, apa sikapnya belum bisa membuktikan kalau dirinya khawatir atau memang Angel tak melihat dari sisi itu. Oh serumit inikah hubungannya? Ray mendesah pelan berusaha acuh membiarkan Angel pergi begitu saja dari hadapannya. Pemandangan yang selanjutnya dilihat Ray adalah ketika melihat Julian begitu khawatir berlari menuju ke UKS melihat Angel. Yah, Ray ada disana—lebih tepatnya berada diantara orang-orang yang khawatir dengan gadis itu. Ada Julian dan dua teman sekelas Angel yang menemaninya disana, dan jangan lupakan Ray yang bersandar dengan posisi menyilangkan kedua tangan di d**a yang tak jauh dari tempat Angel kini duduk, diam-diam ia melirik ke arah Angel yang saat ini mendapat perhatian ekstra dari Julian. "Lain kali kamu harus hati-hati ya?" nasihat Julian mengulas senyuman. "Makasih Julian." Ray mendengus kesal. Terimakasih? Kenapa harus Julian yang mendapat ucapan terimakasih dari Angel. Hey! Siapa yang menolong pertama tadi? Harusnya ia yang mendapatkan ucapan dari Angel. "Sama-sama," jawab Ray lirih. Semua tatapan menuju ke arah Ray seketika, menatapnya heran. Bukankah ucapan terimakasih ditunjukkan untuk Julian, kenapa Ray yang menjawabnya? Sontak saja mereka bingung. "Ray, sejak kapan lo ada disini?" tanya Julian yang baru menyadari keberadaan Ray di dalam ruangan yang sama. "Gue ada disini dari tadi, lo nya aja yang nggak lihat." Ketusnya. Julian menyerngit bingung. "Lo khawatir sama Angel?" Skakmat... Ray diam. Julian menatap tajam seakan mengintimidasi. Wajah Ray tidak bisa disembunyikan lagi, terlihat sangat jelas, ia khawatir. Kalau tidak—untuk apa Ray sejak tadi berdiri hanya untuk melihat keadaan Angel. Tapi rasa gengsi yang cukup besar membuatnya selalu sinis pada siapapun termasuk saudaranya. "Ngapain gue khawatir... gue cuma—" "Ray, terimakasih tadi, tapi lo nggak perlu semarah itu. Gue nggak papa kok, jadi lo nggak perlu khawatir," ungkap Angel mengulas senyum tipis. Kamu tahu alasan jantung ini berdetak kencang sekarang? Itu karena ada senyuman manis yang membuatnya terpacu cukup kuat dan membuat dadanya bergemurung, ia akui satu hal. Gadis ini membuatnya khawatir. Ray berjalan mendekat ke ranjang tempat Angel kini duduk manis disana. Telunjuk tangannya mengarah tepat di tengah kening Angel lantas menyentuhnya cukup keras. "Cewek ceroboh!" ucap Ray.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN