Chapter 20 : Ingatan itu

1157 Kata
"Aku terpejam dan merasakan kehadiran kamu nyata." --------------------------------------------------- 10 tahun yang lalu Sebuah pesta besar digelar di kediaman keluarga Raveno, dan saat itu selutuh jajaran dan juga tamu undangan yang hadir cukup banyak. Ria Atmawijaya Raveno, perempuan berusia 55 tahun ini sangat menjunjung tinggi kedisiplinan dan juga memiliki loyalitas tinggi. Siapa yang tak kenal dengan keluarga Raveno yang cukup disegani. Bahkan tak jarang kesuksesan yang diraih keluarga Raveno selalu ada campur tangan oleh perempuan ini. Sifatnya mungkin keras dan tidak bersahabat, tapi ketahuilah Oma Ria tidak seperti yang kalian pikirkan. Mengenai hubungan dengan cucunya sendiri, Ray dan Julian—memang ada perbedaan tentang kasih sayang yang diterima keduanya. Adil mungkin tidak, karena Oma Ria sangat membedakan mereka. Di sisi lain, hanya Julian yang mendapatkan hak sebagai cucu yang sah dibanding Ray, hanya dia yang bisa mengikuti perjamuan setiap kali keluarganya mengadakan pertemuan besar. Pernah sekali Ray ikut di petemuan keluarga sewaktu berumur 15 tahun, namun sebuah kejadian mengharuskannya untuk tidak datang lagi di acara keluarga lagi. Oma Ria sangat marah besar dengan apa yang dilakukan Ray dan sejak saat itu Ray tidak diperkenangkan untuk mengikuti pertemuan dengan keluarga besarnya. Egois memang, tapi itulah cara keluarga Raveno dalam mendisiplinkan anggota keluarganya. * Ray menatap dirinya di cermin seorang diri, matanya menyiratkan sebuah kedukaan, bukan tentang kehilangan kali ini--tapi lebih karena perasaan tak suka saat melihat dua orang memilih pergi meninggalkannya. Ray, hanya bisa menatap mereka dari atas dengan sorot mata tajamnya. Drtttt...drttt... Suara getaran handphone mengalihkan pandangannya, Ray menoleh ke arah kasur tempat suara itu  berdering. Dengan malas ia berjalan dan mengambilnya. Tertulis nama Brian di layar. "Ya." "Oi Ray, di mana lo? Anak-anak udah pada nungguin dari tadi. " "Ya...15 menit lagi gue sampai sana." dengan malas Ray menutup teleponnya secara sepihak. Beberapa menit kemudian, Ray yang sudah siap dengan jaket hitamnya bergegas pergi ke tempat di mana Brian dan Max sudah menunggu untuk melakukan adu balap mobil. ..... Di kediaman keluarga besar Raveno. Mobil jaguar hitam berhenti tepat di depan halaman yang langsung disambut hangat oleh penjaga di sana. Julian turun dari mobil disusul Angel dari pintu yang berlawanan. Tampak Angel yang baru pertama kali menginjaki rumah besar nan megah milik keluarga Raveno--dan inilah rumah utama keluarga Raveno. Dapat dilihat halaman yang begitu luas dengan ditumbungi rumput hijau yang terawat. Ornament air mancur menambah keistimewaan dari rumah berlantai tiga ini. Baru saja Julian dan Angel melangkah masuk ke dalam, berjejer dengan rapinya para pelayan yang menaruh hormat pada kedatangan  mereka. Sementara Angel hanya bisa mengekori Julian dari belakang dengan tangan yang terus digenggam Julian selama mereka masuk ke dalam. Satu pemandangan yang tersuguh di depan membuat Angel berhenti berkedip, furniture khas eropa dengan sentuhan vintage mendominasi ruang tamu yang mereka masuki sekarang. Dalam hati Angel terkagum melihat rumah semewah ini, bahkan bisa dibilang dua kali lipat dari rumah yang saat ini ia tempati. "Ayo Angel!" Julian menyadarkan Angel yang sedari tadi melamun. "Aku akan kenalin kamu sama Oma." Tarikan tangan Julian membawa Angel masuk lebih dalam, tepatnya di ruangan tempat Omanya beristirahat. Langkahnya terhenti saat menoleh ke arah luar tepat di belakang rumah yang saat itu terbuka dan menyuguhkan kolam renang yang sangat luas. Mata Angel berkedip pelan menoleh ke sana, entah perasaan apa yang membuat ia tertarik dengan pemandangan luar disana. Flash Suara tawa dua anak kecil yang tengah berlarian membayanginya. Angel melihat bayangan dua anak itu seakan sangat nyata dilihatnya. "Ray!" DEG Anak dengan lesung pipi dan rambut tergerai panjang itu memanggil anak laki-laki yang bersamanya dengan panggilan'Ray' Flash "Angel!" panggil Julian membuyarkan lamunannya. "Kamu kenapa?" Angel menoleh dan mendapati Julian memanggilnya, sementara bayangan yang ia lihat  hilang secara tiba-tiba. "Eng-enggak ada apa-apa kok." Julian mebgerutkan wajahnya curiga, ia penasaran dengan apa yang dilihat Angel. "Kenapa kamu melihat ke arah luar, apa yang kamu lihat?" tanya Julian kemudian. "Nggak ada kok... cuman pemandangan di luar kelihatannya indah..." Angel begitu canggung kali ini. "Aku pikir ada apa. yaudah yuk!" Angel tertegun memandang kembali halaman luar yang baru saja dilihatnya, sangat jelas dan nyata tentang dua anak kecil yang bermain bersama di sana. "Ray? Kenapa anak itu memanggil nama Ray?" batin Angel penasaran. *** Suara sorakan menggema di sepanjang jalan yang saat ini sedang sepi, dua mobil bersiap akan melakukan adu balap. Di sisi kanan ada Ray yang tampak percaya diri sementara lawannya telah siap melawannya. Suara deru mobil menandakan akan dimulainya pertandingan malam ini. "Lo harus hati-hati Ray...Joni bukan lawan sembarangan," ujar Brian. "Hati-hati Ray," timpal Max. Bremm...bremm... Dua kandidat peserta malam ini untuk bertanding, Ray dan Joni. Sorakan demi sorakan meneriaki setiap nama pendukung mereka masing-masing. Ray dengan mobil sport hitamnya, sementara Joni dengan mobil sport hijaunya. Pertandingan yang berlangsung 30 menit itu di pihak Ray dengan pendukung yang terus menyemangatinya. Ray juga tampak sangat santai dengan lawan kali ini. Alasan ia datang kesini untuk bersenang-senang--tidak lebih dari itu. Satu gadis maju ke tengah pertandingan dengan membawa bendera, pertanda pertandingan keduanya akan berlangsung. Dalam hitungan tiga, mobil mereka melaju dengan kecepatan penuh dan saling menyalip. .... "ARGHHH SIAL!!!" Joni menggebrak stir kemudi dengan emosi saat ia kalah taruhan dengan Ray yang berhasil memenangkan pertandingan malam ini. Ia berdecak kesal sembari meremas kedua tangan dengan geram. Sementara Ray sangat antusias merayakan satu kemenangan bersama teman-temannya yang menyoraki dan mendukungnya. Jam menunjukkan pukul 22.30 malam saat Ray melirik jam tangan yang bertengker di pergelangan tangan kirinya. "Apa mereka udah balik?" Batin Ray. Ray mendesah pelan, mungkin sudah waktunya ia juga harus kembali. "Gue balik duluan ya," pamit Ray pada teman-temannya. "Lho tumben lo mau pulang, bukannya Julian nggak ada di rumah?" tanya salah satu temannya. "Justru itu, kalau dia tahu gue balapan liar—bisa kenapa marah gue." Ray menuju ke mobilnya dan melaju pergi. Mobil yang ditumpangi Ray bukannya menuju ke rumah tetapi malah berbalik arah menuju ke lokasi lain. Ia sengaja berhenti di seberang jalan dan mengamati rumah mewah di depannya. Di sisi lain Angel yang saat ini masih penasaran dengan bayangan yang muncul di depannya ingin memastikan secara langsung dengan pergi ke halaman luar yang berdekatan langsung dengan kolam renang. Ia ingin tahu apakah bayangan yang muncul tadi adalah bagian dari masa lalunya atau tidak. Angel mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru sudut bahkan sampai ke taman yang bisa dijangkaunya. Kedua anak kecil yang bermain bersama sangat tidak asing baginya, dan ia merasa sangat mengenal mereka. Flash Suara tawa anak kecil kembali didengarnya—dan kali ini sangat dekat, saat angel menoleh sosok anak perempuan berdiri di depannya. Anak itu melempar senyum ke arahnya lantas menunjuk ke salah satu tempat yang tak lain adalah 'Ayunan'. Sementara anak laki-laki yang seusia anak perempuan itu menangis dengan memeluk kedua lututnya di atas ayunan tempatnya duduk. "Ray jangan menangis, aku ada disini!" suara anak perempuan itu mendekat dan mencoba menghiburnya, namun si anak laki-laki yang menangis itu tak merespon apapun. Flash Lembaran demi lembaran terpampang jelas di depannya seperti panel layar televisi yang memutar satu kisah. Tanpa disadari bulir mata Angel yang melihat semua itu terjatuh, ia bahkan tak mengira dirinya menangis sekarang. Ray, nama itu sangat jelas didengarnya—dan ia berpendapat anak yang menangis itu adalah Ray. "Ray!" lirih Angel berucap. Langkah Angel perlahan mundur dan tanpa disadari ia menabrak tubuh tegap di belakang. "Angel?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN