Chapter 19 : Perasaan Ray

1784 Kata
"Kebenaran itu pasti akan terbongkar. Kita lihat saja nanti." *** Hari sebelumnya. "MY PRINCEEEEEE!!!! Teriakan Queen dari telepon membuat Julian sedikit menjauhkan handphone dari telinganya,  diikuti suara isak tangis dari jauh, bisa dipastikan saat ini Queen sedang menangis sekarang. Julian mendesah pasrah. "Ada apa Queen ?" Hiks...hiks...hiks... Julian sama sekali tak terpengaruh dengan tangisannya, hal ini sering terjadi. Kalau bukan masalah sepele seperti kehilangan barang kesayangannya mungkin ini cara Queen merengek meminta Julian menemaninya. "My Princeee....hiks...hiks..." "Ray...Ray..." "Kenapa dengan Ray?" "Dia ninggalin aku sendirian sekarang di jalan....Ray jahat!!" isaknya membuat Julian memutar bola mata jengah. Bisa dibayangkan sekarang di depannya kini banyak berkas menumpuk yang harus ia urus dan ditandatangani dan sekarang jam menunjukkan pukul 15.00 WIB—Queen menelpon disaat yang tidak tepat. "Kamu diapain sama Ray?" tanyanya malas. "Tadi sepulang sekolah Ray ngajak pulang bareng, aku pikir Ray bener-bener tulus jadi aku mau," jelas Queen dengan nada manja. "Yah, aku akan minta orang buat jemput kamu sekarang!" "T-tapi aku mau dijemp— " Tut...tut....tut.... Panggilan terputus. Julian sengaja memutus secara sepihak, ia terlalu lelah untuk meladeni Queen sekarang. Dengan malas Julian menelpon orang suruhan untuk menjemput Queen sekarang. Masalahnya sekarang adalah ia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang dengan berkas tumpukan menggunung di meja. "Hufft." ..... 07.14 WIB, Pagi hari. Ray bersiap-siap dengan seragam sekolah pagi ini sambil merapikan dasi yang ia pakai di depan cermin. Sengaja ia membiarkan rambutnya hanya tersisir sembarang tapi tetap menimbulkan kesan tampan apalagi saat Ray tersenyum. Ray tersenyum simpul mengingat kejadian malam kemarin saat menonton TV. Ia memang sengaja menyuruh Angel menemaninya, tapi kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ibarat orang yang memiliki sandaran untuk berpijak, Ray mendapatkan sandaran manis malam itu. Hanya bertahan 15 menit itu cukup membuat Ray merasa nyaman, ia tahu semua perasaaannya hanya berpihak pada satu jalur itu artinya sangat mustahil untuk membuat sebuah hubungan yang lebih jauh—dan ingatkan satu hal, Ray masih memiliki janji dengan Mika. Satu janji yang harus ia jaga seterusnya. Sementara itu di kamar sebelah, Angel juga telah bersiap dengan tas gendongnya, tak lupa buku pelajaran untuk hari ini sembari menatap dirinya di cermin, rambut ia biarkan terkuncir menyamping dengan menyisakan sebagian anak rambut yang jatuh menutupi pipinya lantas keluar dari kamarnya. Ceklek... Keduanya keluar bersamaan saat menutup pintu kamar masing-masing dan melempar pandangan ke sisi yang sama. Hanya lemparan senyuman yang ditunjukkan Ray begitu pula Angel, kemudian mereka turun menuju ke ruang makan. ..... "Pagi Angel!" sapa Julian yang lebih dulu duduk di kursinya. "Pagi!" Satu roti dengan selai strawberry ia ambil dengan segelas s**u yang tersaji di depannya. Ray yang awalnya tersenyum kembali menunjukkan sifat juteknya, hanya sekali ia melirik ke arah mata Angel yang tertunduk sengaja membuang muka untuk tak menatapnya. "Oh ya Angel... nanti malam kamu ikut aku ya?" tanya Julian Uhuukk... Ray yang masih menelan roti selai kejunya tersedak saat Julian mengajaknya pergi malam hari. "Nanti malam?" "Aku mau ngenalin kamu sama Oma,"Ujar Julian. "Oma?" "Iya...kamu pasti penasarankan siapa Oma?" Angel menyadari satu hal, saat Julian membicarakan tentang Oma, sorot mata Ray berubah. "Apa Ray ikut?" Angel bertanya lagi. "Ray??!!" Julian menoleh pada Ray. "Yah... mungkin dia...." "Gue nggak ikut." Tolak Ray mengakhiri sarapan hari ini, bergegas ia mengambil tas dan bangkit dari tempatnya duduk. Angel mendongak melihat ke arah Ray yang sepertinya tak suka saat membicarakan Omanya. Dapat dilihat sorot matanya tadi, sementara Julian hanya memandang biasa seakan hal ini sering mereka alami. Angel berkesimpulan kalau kedua saudara ini memang memiliki masalah internal di keluarga mereka. "Kamu mau kan Angel?" tawar Julian menoleh ke arahnya lagi. Mata angel masih berpusat pada kepergian Ray yang semakin menjauh, bahkan saat Julian memanggilnya tak ada sahutan. "Angel?" Julian menoleh ke tempat yang dilihat Angel. "Angel?" panggilnya kembali dan barulah Angel tersadar kalau dirinya dipanggil. "Ju-julian...tadi kamu ngomong apa?" Julian tersenyum simpul. " Kamu khawatir sama Ray?" "Enggak kok..." Angel membuang muka dan segera melanjutkan sarapan yang masih tersisa di piring. Walau Angel bersikeras berusaha menutupi perasaan peduli pada Ray, Julian dapat melihat sorot mata Angel saat melihat Ray. Sangat berbeda. .... Ray menuju ke motor ninja hitamnya yang terparkir di halaman depan. "Pagi tuan Ray!" sapa sopir yang berada di dekatnya sambil mengelap mobil di sebelah. "Pagi!" sapa Ray ketus. Ray mengambil helm dan jaket abu-abunya. Kemudian menyalakan motor kesaayangannya itu. Si sisi lain ia melihat Angel bersama Julian yang akan masuk ke dalam mobil putih milik Julian. Ckk...Ray berdecak dengan kedua mata yang susah ditebak lalu menutup helmnya sampai bawah dan segera melajukan motornya dengan dengan cepat melewati mobil Julian. *** SMA Galaxy Pusat dari bintang sang cassanova di sekolah ini, Ray Javier yang saat ini mengenakan seragam basket kebanggaan SMA Galaxy, corak putih dengan semberet warna hijau mampu menghipnotis siapapun yang sekarang menontonnya bertanding di lapangan basket bersama anggota tim lainnya. berhubung akan diadakan pertandingan basket lusa depan, tim basket mereka harus berlatih cukup keras selain menjaga stamina dan kekompakan sesama tim. Namun saat ini justru latihan basket yang harusnya dapat dinikmati oleh penonton, yang terlihat justru Ray seperti bermain sendiri, ia mendribel dan memasukkan bola itu beruntun tanpa mengoper ke rekan timnya. Sorot matanya masih tajam. Anggota tim yang lain hanya bisa diam—tapi Max menyadari perubahan itu, saat Ray melakukan tindakan seenaknya seperti sekarang ini artinya Ray memiliki masalah. Sampai istirahat di sesi pertama berjalan, hanya Max yang menghampiri Ray dengan dua botol minuman di tangannya. Satu diberikan untuk Ray. "Thank." Max memposisikam bokongnya duduk di sebelah Ray yang meneguk botol air putih pemberiannya. "Ray!" Ray menoleh jengah. " Hmm?" "Hari ini lo kenapa?" "Gue emang kenapa?" tanya dirinya balik. "Sikap lo." "Biasa aja." Pandangan Ray menangkap sosok gadis yang berjalan bersama Shila dari jauh. Siapa lagi kalau bukan Angel, namun sedetik kemudian muncul sosok lain yang menghampirinya. Julian. Sebenarnya Ray merasa kesal saat Julian menghampirinya—apalagi saat tadi pagi. Secara personal Julian mengajak Angel pergi ke tempat Oma. Mendengar kata Oma membuat d**a Ray sesak, wanita paruh baya yang sudah menghancurkan kehidupan dan kebahagiaannya selama ini, membuatnya harus berpisah dengan ibu kandungnya dalam waktu yang lama—bayangkan saja berapa tahun ia tak bertemu ibu kandungnya. Ia hanya bisa melihat bingkai foto di dalam kamarnya, walau terkadang saat ia berulang tahun. Selalu ada bingkisan besar yang ditujukan padanya dengan bertulis : " SELAMAT ULANG TAHUN RAY" Rasa benci sekaligus iri karena Omanya tak pernah menganggapnya sebagai cucunya. Ia seperti orang asing di rumahnya sendiri, layaknya tahanan yang kadang memberontak, bukan tanpa alasan—karena justru Ray sering melampiaskan kekesalannya pada siapapun itu. "MY PRINCE!!!!" teriak Queen langsung menghampiri Julian dan bergelayut manja padanya. "Aku lapar, makan yuk?"rengek Queen Julian yang merasa risih apalagi saat ini ada Angel dan Shila di depannya, sementara Queen menempel layaknya prangko yang baru saja dipasang. "Queen..." Julian berusaha melepaskan cengkraman tangannya yang selalu menempel itu. "Kita makan yuk!" ajak Queen lagi. Julian mendesah pelan. "Kamu nggak lihat aku sibuk." "Julian pliss!!...." mata Queen berkaca-kaca, namun sikap Queen tak menyurutkan Julian untuk membantu Angel dan Shila menyebar brosur di mading. "Nggak bisa Queen, kamu bisa pergi dulu sama temen-temen kamu," tolak Julian. Dari jauh Ray hanya bisa mendecak kesal, beruntung pertandingan hanya berlangsung 15 menit saja hari ini—dan anggota yang lain telah kembali untuk berganti seragam karena sebentar lagi bel masuk berdering. Queen terus membujuk Julian untuk pergi bersamanya, dan mau tidak mau Julian akhirnya menyerah karena Queen menariknya pergi meninggalkan Angel dan Shila yang masih berdiam di depan mereka. "Tuh cewek lengket banget sih sama Julian," Seru Shila. "Apa Queen dan Julian itu punya hubungan?" tanya Angel penasaran. Shila tersenyum. "Kamu lihat sendirikan?" Jujur, ada perasaan kecewa yang ditunjukkan Angel saat melihat Julian pergi. "Yuk Angel!" panggil Shila membuat Angel tersentak kaget. "Oh...iya." Mereka berdua tiba di mading sekolah di depan, Angel menempel brosur diantara tumpukan brosur yang lain. "Aku tempel disana dulu ya." Shila pergi menjauh namun masih di satu lokasi yang sama. Brosur yang mereka tempel tak lain adalah acara pensi sekolah yang akan diadakan sebentar lagi—dan tentu saja sebentar lagi pula band yang dinaungi Shila dan kawan-kawan yang menamai mereka The Frost juga akan tampil, jadi Shila sangat antusias. Angel masih memikirkan kejadian tadi saat Julian yang sebelumnya mau membantunya lebih memilih pergi dengan Queen. Angel mendesah pelan, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam pertama berakhir. Ia kembali menempel brosur itu di sana, tak disangka saat tangannya menempel kertas, sebuah tangan lain ikut menyentuh brosur itu. Angel menoleh ke samping dan mendapati Ray yang melakukannya dan melempar senyum padanya. "Ray?" Angel terdiam saat raut Ray berubah serius namun tetap saja wajahnya memancarkan kelembutan apalagi sekarang brosur di tangan Angel ia ambil alih. Padahal dapat dilihat Ray sama sekali belum berganti seragam, ia masih mengenakan kaos basket sehabis latihan. Canggung. Selalu ditunjukkan Angel saat berdekatan dengan Ray, walau ia sering bertemu di rumah maupun di sekolah tapi tetap saja sikap Ray yang cenderung berubah-ubah membuat Angel selalu bingung. "Makasih." Hanya kalimat itu yang terlontar dari bibir manis Angel saat Ray membantunya menempel brosur-brsur itu. "Angel!" Ray menoleh dan mendapati Angel masih tertunduk. Ray memposisikan bersandar di dinding sambil terus mengamati wajah Angel yang tak meliriknya sama sekali. "Ange!" Ray kembali memanggilnya. Ray mendesah pelan. Angel mengacuhkannya. "Angel!" satu tarikan tangan Ray membuat Angel tersentak kaget. "Ada apa?" "Bisa nggak bisa jangan acuhin gue?" gerutu Ray. "Maaf." "Jangan hanya bilang maaf." "Bukan gitu maksudnya Ray, gue...gue...." Angel menggigit bibir bawahnya sembari melirik Ray yang terus melihat ke arahnya. "Gue...hanya masih bingung." "Apa yang lo bingungin?" "Soalnya setiap kali sikap lo baik, gue jadi aneh. Gue ngerasa asing dan...gue lebih suka lo yang dulu, walau nyebelin tapi gue kenal siapa lo," ujar Angel. Ray mengedipkan matanya pelan. " Memangnya kenapa kalau gue bersikap baik sama lo? Jadi maunya gue selalu kasar sama lo, gitu?" "Mungkin itu lebih baik." Angel menatapnya serius. " Buka poni lo!"perintah Ray. "Kenapa?" "Lo bilang lo lebih suka gue yang kasar, jadi...." Ctak.... "Awww...sakit Ray!" Angel mengelus keningnya yang baru saja dijitak Ray dengan satu jari tangannya. Ray terkekeh melihat Angel yang kesal. "Inikan yang lo mau?" "Tapi nggak gini juga kali." "Gimana sih lo, gue baikin nggak mau, gue kasarin nggak mau," gerutunya "Tapi nggak harus jitak kepala gue, sakit tahu!" "Yaudah sini?" "Apa?" Ray menarik pinggang Angel untuk lebih mendekat, lantas Ray menyibakkan poni yang menutupi kening Angel, ada sedikit bekas kemerahan disana karna ulahnya. Tanpa disadari wajah Ray mendekat dan meniup bekas kemerahan itu pelan. Jangan tanya bagaimana perasaan Angel sekarang, ia melotot dengan pipi memerah. "Udah mendingan?" DEG... Ray memiringkan wajahnya melihat Angel sama sekali tak berkedip di depannya, ia tersenyum melihat wajah Angel bersemu merah karenanya. Segera Angel memutar tubuhnya membelakangi Ray, ia benar-benar malu sekarang. Saat Ray akan menyentuh bahu Angel, suara panggilan Shila mengagetkannya. "Angel...Ray!!" Ray yang salah tingkah berusaha sebaik mungkin untuk bersikap wajar seperti biasanya. "Udah selesai, kita balik ke kelas yuk!" ajaknya menarik tangan Angel pergi. "Gue duluan ya Ray!" ucap Shila beranjak pergi meningalkan Ray yang masih membisu disana. Perasaan ini muncul secara perlahan, masuk dan menyebar ke seluruh tubuh. Ibarat terkena racun mematikan, setiap kali sel racun itu masuk ke dalam tubuh sang penderita, ia akan bertahan disana yang mungkin akan membuat si penderita merasa sakit atau malah....mati karena sakit itu. Ray merasakan satu hati yang kini kembali tumbuh. Sepersekian detik selalu wajahnya yang muncul, bahkan saat ia mulai akan beranjak tidur. Satu senyuman yang selalu membuatnya merasa tenang dan damai. Satu nama yang mungkin harus ia lupakan sejenak lalu mengganti nama lain di hatinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN