Chapter 18 : Identitas

1032 Kata
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kedua insan yang saat ini duduk bersebelahan tampak tersenyum—senyuman manis ditunjukkan Queen untuk Ray, tapi berbeda dengan dengan pemuda yang saat ini menyetir, Ray hanya mengulas senyum...senyum licik. "Ray, gimana kalau kita makan siang dulu. Oh ya gue tahu tempat yang paling romantis," ujar Queen begitu bersemangat. "Lo mau makan?" tanya Ray "Kalau sama lo sih, apa aja mau deh!" Queen mencuri mata pada Ray. Mobil itu masih melaju, hanya saja bukan menuju ke restoran atau tempat makan, justru mobil itu melaju ke arah lain melewati jalanan sepi. Awalnya Queen tak terlalu mempedulikannya, namun saat ia menoleh ke arah jendela mobil, ia merasa bingung— kenapa Ray malah pergi ke jalan lain bukannya mengantarnya pulang dan bahkan rumahnya sudah terlewat tadi. "Ray, kita mau kemana?" Tanya Queen bingung. "Pulang." "Tapi rumah gue bukan lewat jalan sini." Queen menoleh ke arah Ray bingung. "Kita akan pulang—ke tempat yang pantas buat lo." Seringai yang ditunjukkan Ray berubah menjadi tajam. Queen bingung apa maksud ucapan Ray. "Maksud lo. Kita mau kemana, Ray!" wajah Queen memucat, ia mencoba membuka pintu mobil namun sial. Ia terkunci dari dalam. Queen kembali menoleh "Gue mau pulang!" Ciittttt... Mobil yang ditumpangi keduanya berhenti di tepi jalan yang sepi. "Turun!" perintah Ray ketus. "Hah?!" kejut Queen. "Lo nggak denger, gue suruh lo turun!" Ray terpaksa mengulang kalimatnya lagi. "T-tapi Ray...ini dimana?" wajah Queen bingung. "Menurut lo dimana?" Queen melirik ke sekeliling yang dipenuhi pohon lebat dan sialnya lagi, tempat itu sangat sepi— mungkin keberuntungan kalau ada kendaraan lewat disana dan Queen akan selamat. "Turun!" "Ray!!" Rengek Queen berusaha membujuknya. "TURUN SEKARANG!!" tegasnya. "Gue nggak tahu ini dimana." "Lo b***k ya, TURUN DARI MOBIL GUE SEKARANG!!" Ray memutar bola mata jengah, makluk satu ini sangat susah untuk diperintah, dengan terpaksa ia harus melakukan sesuatu yang kasar. Ray turun dari mobil dan berputar menuju ke arah Queen, lantas  membukakan pintu samping Queen kasar dan menarik tangan Queen turun secara paksa. "RAY!!" berusaha Queen membujuk Ray untuk tidak meninggalkannya sendiri. "Ray!" tepisan tangan Ray yang kasar membuat Queen hanya bisa pasrah. Seharusnya ia tahu dari awal, mendadak sikap Ray berubah itu pasti ada sesuatu. "Telpon Julian, Suruh dia datang buat jemput lo." "Kenapa lo ninggalin gue sendirian," Queen terisak. "Menurut lo." Ketus Ray langsung kembali masuk ke dalam mobil setelah mengeluarkan Queen di tengah jalan lantas segera menyalakan mobilnya untuk pergi begitu saja meninggalkan Queen di sana. "RAYYY!!!!!" teriakan Queen sama sekali tak digubrisknya. Mobil itu meninggalkan Queen. "AARGHHH..." * Malam hari di ruang tamu. Layar televisi sedang menayangkan film kesukaan Ray yaitu Tom & Jerry. Sembari ia duduk di sofa panjang dan melipat kedua kaki di atas, Ray tampak menikmatinya sesekali ia tertawa nyaring saat adegan Tom yang mengejar Jerry begitu lucu. Angel yang saat itu hanya lewat di sampingnya langsung mendapat panggilan Ray dari jauh. "Ehh, sini!!" Angel menoleh dan menghampiri Ray. "Ada apa?" Angel menyerngit heran. "Ambilin gue minum dong!" perintahnya. "Ambil aja sendiri."ketus Angel. "Ayolah, gue haus banget nih," rengeknya memohon. "Argghh..." terpaksa Angel berjalan menuju dapur yang jaraknya lumayan jauh untuk membawakan minuman untuk Ray. 5 menit kemudian "Nih!!" Angel menaruh segelas jus di depannya. "Kok nggak dingin," bantah Ray saat memegang gelasnya. "Lo nggak bilang," ketus Angel. "Gue itu sukanya yang dingin." "Tapi ini sama aja." "Jelas bedalah, gue maunya yang dingin." "Arghhh..." terpaksa Angel kembali ke dapur membawa minuman dingin. 3 menit kemudian. "Nih, minuman dingin." "Sekalian camilan." Perintah Ray lagi. Angel mendecak kesal, ia kembali ke dapur membawa toples camilan dari dapur. "Nih!" "Taruh aja situ!" Angel menaruh semua toples itu di meja depan Ray lalu pergi. "Eh lo mau kemana?" cegah Ray. "Apa lagi?" Angel menatap jengah Ray kesal. "Duduk sini!" perintahnya. Angel menghembus napas kasar, sebenarnya apa sih maunya laki-laki ini? Angel menyerngit heran dengan sikap Ray malam ini. "Gue suruh duduk sini!" Angel tampak ragu dengan ucapan Ray. "T-tapi??" Tanpa diduga-duga Ray justru menarik tangan Angel untuk duduk disebelahnya. Mata Ray masih terfokus pada film yang ditontonnya, sementara Angel duduk di sebelahnya dengan sedikit canggung dengan sedikit menggeser bokongnya menjauh dari Ray. "Mau?" tawar Ray memberikan toples camilan untuknya. "Beneran?" Ragu Angel. "Ambil aja kalau mau!" tawar Ray menyodorkan toples camilan kepadanya. Namun saat Angel akan mengambilnya, justru Ray menjauhkan seakan menggodanya. "Eitss...nggak semudah itu." Goda Ray. "Lo ngerjain gue?" Angel memanyunkan bibirnya sambil berdecak kesal. Ray melirik ke arah Angel yang menatap kesal padanya--namun justru ini keunikan yang dimiliki Angel. Ia selalu membuatnya tertawa tak henti, sikapnya yang sekarang jutru menggemaskan. "Yaudah... nih!!"Ray menyodorkan toples camilan itu kembali "Nggak." "Kenapa?" " TJDL." Ray menyerngit. "Apaan tuh?" "Tanya Ja Diri Lo." Ray terkekeh. "LC." Giliran Angel yang mengernyit bingung. "Apaan tuh?" "Lo lucu." DEG... .... Di kediaman Tn. William Seorang laki-laki diseret kasar masuk ke dalam satu ruangan yang telah ditunggu seorang kakek tua memakai kursi roda, di dampingi dua anak buah dan suster di sampingnya. "Lepaskan saya!!" ronta laki-laki itu saat dua laki-laki bertubuh kekar menyeret masuk ke dalam. "Lepaskan dia!" perintah kakek Willy yang langsung mendapat angukan dari kedua orang suruhannya untuk keluar dari ruangan. "Kenapa kalian membawa saya kesini?" Orang yang sengaja memerintahkan Ardiandra dan membawanya ke Jakarta tak lain adalah Kakek Willy, ia semata-mata ingin tahu lebih jelas tentang keberadaan cucunya. "Saya bilang saya tidak tahu keberadaan cucu tuan,"elak Ardiandra berusaha meyakinkan. Kakek Willy hanya diam di atas kursi roda, menatap kebohongan dari laki-laki ini. "Yudha!" panggil kakek Willy. "Siap Tuan!" Yudha maju menghadapnya. "Bereskan semua." perintah Kakek Willy. "Baik tuan." Dengan dibantu suster yang mendorong kursi rodanya, kakek Willy keluar dari ruangan itu. Kini Yudha, tangan kanan kakek Willy yang masih berada di dalam— dan sesuai perintahnya tadi, Yudha harus menanyakan langsung pada Ardiandra terkait anak yang bernama Angel. "Siapa Angel?" tanya Yudha. "Dia anakku." " Sekarang saya tanya sekali lagi, siapa sebenarnya Angel?" ulang Yudha. "Dia anakku." ulangnya Yudha berdecih kesal. Ia lalu mengambil bingkai foto yang dulu diambilnya saat menggeledak rumah Ardiandra lantas memperlihatkan kembali pada Ardiandra. "Dia Angel?" Yudha menunjuk foto anak yang di kursi roda. Ardiandra bungkam. "Lima tahun yang lalu, Angel Alia meninggal karena kecelakaan. Angel yang seharusnya meninggal lima tahun yang lalu, Angel yang lumpuh, Dokter bilang dia selamanya tidak akan bisa jalan..Angel yang..." "Cukup!" teriak Ardiandra cemas."Dia anakku, jangan mengganggunya..." "Saya belum selesai bicara. Angel yang sudah meninggal lima tahun yang lalu tidak mungkin bisa hidup lagi...tapi sekarang lihat foto anak kecil di sebelahnya, ia bisa berdiri dan terlihat ceria....dan Anda memanggilnya Angel." Jelas Ardiandra. "Saya mohon hentikan!" "Anak itu bukan Angel, benarkan?" Ardiandra hanya diam seribu bahasa, lidahnya kelu untuk kembali menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang justru semakin menyudutkannya—dan tentang dua anak kecil dalam foto itu, memang benar. Salah satu dari mereka adalah Angel, anaknya. Yang sudah meninggal lima tahun yang lalu...     to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN