Chapter 17 : Siasat Ray

1339 Kata
"Ayo Angel!" tangan Ray mengenggam erat tangannya. "Tu-tunggu Ray, bukunya?" Angel masih harus membawa buku-buku ini ke kantor. Ray mendecak, ia langsung merampas semua buku-buku di tangannya dan berjalan menuju ke salah satu murid yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya. "Bawa bukunya ke kantor guru!" perintah Ray. "I-iya kak." Langsung saja karena takut dengan sorot mata Ray yang tajam, murid laki-laki itu bergegas mengambil alih buku-buku itu. "T-tapi Ray?" "Udah ayo!" tarik Ray memaksa. Yudha yang masih berdiri di antara mereka hanya diam tanpa bersuara, apalagi saat Ray dengan kasar menarik Angel pergi dari hadapannya. Angel mengimbangi kecepatan langkah Ray yang terkesan terburu-buru. Tangannya juga digenggam erat oleh Ray. Kenapa tiba-tiba Ray menjadi sangat marah sekarang, apa ia melakukan kesalahan—dan kenapa Ray justru membawanya pergi tepat di hadapan laki-laki itu. Sorot matanya sangat terlihat bagaimana ia menatap laki-laki itu. Apa mungkin, Ray memang kenal dengan laki-laki itu. William, nama itu seakan tak asing baginya dan saat Ray memanggil kakek Willy—sangat jelas kalau memang dugaannya benar, Ray mengenalnya—tapi pertanyaannya siapa mereka? "Ray...Ray lepasin tangan aku!" ronta Angel mencoba melepaskan tangannya namun sia-sia, cengkraman Ray sangat kuat "Ray!!" Mereka melewati koridor kelas dengan tangan Ray menariknya kasar. Ray bahkan tak terlalu mempedulikan saat banyak pasang mata melihat ke arah keduanya—namun berbeda dengan Angel, ia hanya bisa tertunduk malu saat Ray masih menggenggamnya. Ia akui kehangatan tangan Ray mampu membuatnya merasa nyaman —tapi ini bukan saatnya untuk terbawa suasana. "Ray, lepasin tangan aku. Sakit!" rintih Angel membuat Ray lantas menghentikan langkahnya saat mendapati ia masih menggenggam tangan Angel tanpa sadar. Langsung saja Ray melepaskan tangan itu dengan perasaan kikuk. "Sorry," Ray merasa bersalah dengan apa yang diperbuat tadi. Angel mengerucut kesal sembari memegang tangannya akibat ulah Ray. Ia menoleh pada Ray yang saat ini justru memalingkan wajah ke tempat lain. "Gu-gue nggak bermaksud kok tadi," ujar Ray sedikit tergagap tanpa menoleh padanya. Angel menautkan kedua alis bingung "Hari ini sikap lo aneh lagi." Benar. Ray juga menyadari dan bagaimana perasaannya tadi. Seakan ada gejolak dari dirinya yang memang muncul untuk melakukan semua ini. Pertama saat pelukan yang ia terima dari Angel dulu lalu kejadian kemarin yang mungkin sangat membekas dari ingatannya, dan ketiga... Oh tidak! Apa mungkin perasaannya yang semakin menyeruak membuktikan kalau ia mulai menerima Angel. Gadis ini sudah membuktikan banyak hal betapa nyamannya saat Ray bersamanya, ia akui itu memang benar. Angel telah merubahnya. Saat Angel akan melangkah pergi, Ray kembali menahannya. "Tunggu!" Angel mendongak saat tangan Ray kembali mencengkramnya. "Kenapa?" "Gu-gue..." sangat sulit mengatakannya, tapi harus. "Gue..." Angel semakin bingung dengan sikap Ray. "Gue..." "RAY!!!" teriak Brian dari jauh. Sial. Kenapa Brian muncul sih. Upatnya kesal Brian berlari menghampirinya dengan sedikit terengah-engah seperti baru saja keliling lapangan. "Kenapa?" "Gawat... itu...di mading. Ada berita baru, " ujar Brian menepuk bahunya sambil megontrol napasnya. "Di mading ada apa?" tanya Ray penasaran. "Lo harus lihat. Angel juga ikut!" pinta Brian. "Gue?" Angel menunjuk dirinya bingung. "Karena ini juga berhubungan sama lo." "Apa?" Bergegas Angel, Ray, dan Brian menuju ke mading sekolah yang saat ini sudah ramai para murid yang berkumpul dengan berdesak-desakan. "Minggir!" Ray menerobos masuk ke dalam untuk melihat. Di papan mading bertengger sebuah foto ia dan Angel bersama tadi waktu berangkat sekolah. Tak lupa ada kalimat yang yang begitu menohok yang ditunjukkan pada Angel. GADIS MISKIN YANG BERMIMPI DENGAN SANG PANGERAN. "Siapa yang menyebar foto ini?" kejut Angel. Seluruh pasang mata mengarah pada Angel seakan mengintimidasi, beberapa dari mereka bahkan berbisik sambil melihat layar handphonenya, ternyata selain ditempel di mading foto itu juga tersebar di jejaring sosial dan menyebar hampir seluruh sekolah. "Itu ceweknya? Nggak banget deh... kok Ray mau sih sama cewek miskin diakan anak keluarga terhormat." Bisik seorang gadis pada temannya. "Iya...gue juga heran." Angel hanya tertunduk malu, siapa yang tega melakukan ini padanya. Tanpa sadar ia menahan amarah dengan meremas rok seragamnya sambil tertunduk. SRETT... Angel terkejut begitu juga dengan murid yang lain saat Ray menyobek kertas di dalam madding itu lalu membuangnya ke lantai. Sorot matanya menajam menatap seluruh murid yang berdiri menghina Angel. Seketika saja banyak murid yang lebih memilih pergi sebelum mendapat amarah dari Ray yang dikenal kejam dan tanpa ampun ini. "Ray!" lirih Angel. Brian hanya diam membeku melihat amarah yang ditunjukkan Ray saat ini. Sangat sulit melawannya kalau Ray dalam kondisi marah seperti sekarang—dan orang yang bisa menghentikannya hanya Julian—tapi sekarang Julian nggak masuk dan akan sangat gawat kalau Ray mengamuk di sini. Pyar... Ray merampas handphone milik gadis di depannya yang berbisik tadi dan membanting handphone itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Handphone gue..." gadis itu tampak memelas melihat handphonenya rusak. "Pergi lo dari sini!" "T-tapi handphone gue..." "Ayo Mit...kita pergi aja sebelum Ray marah." tarik teman di sebelah membawa temannya yang bernama Mita pergi Ray kini menoleh ke murid lain yang masih berdiri di sana. hanya satu tatapan langsung membuat semua orang disana lebih memilih pergi sebelum sesuatu yang buruk menimpa mereka nanti. Kini tinggal Brian dan Angel yang masih berdiri di sampingnya. Brian bahkan tak berkedip melihat Ray begitu marahnya hanya sebuah foto, tidak biasanya Ray akan semarah ini bahkan sampai membanting handphone milih orang lain dengan kasar. Angel tertunduk ke bawah, ia tak berani menatap Ray yang marah. Ia takut Ray nanti juga akan marah padanya dan mungkin melakukan sesuatu yang lebih—tidak ada yang bisa menolongnya karena Julian tidak ada sekarang. "Nggak usah takut!" Angel mendongak terkejut melihat Ray malah membelanya. "Ray!" "Gue akan pastiin orang yang menyebar foto kita tadi akan keluar dari sekolah ini!" ancam Ray penuh dendam. Glup. Angel menelan ludahnya payah saat Ray bersikap baik padanya. "Brian!" panggil Ray. "Ya..." jawab Brian malas "Lo tahu harus apa?" Brian tersenyum penuh isyarat mendekati Ray sambil menyeringai tajam. "Kayaknya gue tahu siapa pelakunya," ujar Brian menyadari sesuatu saat melihat bros kecil yang terjatuh—sangat menguntungkan untuk Brian mengetahui siapa pelakunya. "Nenek sihir itu berulah lagi." "Nenek sihir?" Angel bingung. "Apa perlu gue bilangin Julian soal ini?" pinta Brian. Angel bingung apa maksud dari perkataan mereka? Nenek sihir siapa yang mereka maksud? Pertanyaan demi pertanyaan membuatnya semakin penasaran. "Ayo Angel!" Ray memanggilnya pelan. Entah dorongan apa yang jelas sikap Ray memang berubah padanya. ....... Suara gelak tawa nyaring terdengar di toilet perempuan saat Queen dan kedua temannya tertawa puas dengan apa yang baru saja diperbuat mereka. "Gue yakin, Agel pasti malu banget tuh!" Queen tersenyum licik. "Bener banget—dan seluruh sekolah udah tersebar." "Kita lihat nanti apa dengan kejadian ini Angel bakal berani deketin sama pangeran di sekolah ini." seringai tajam dari Queen sembari mengoles bibirnya dengan lipbalm. "Yuk girls...kita cabut dari sini!" Queen melenggokkan pingganggnya keluar dari toilet diikuti dua temannya dari belakang. *** Sepulang sekolah. Ray sudah menghubungi pak Aji untuk membawakan mobil untuk menjemputnya, sementara motornya yang ia bawa tadi pagi sengaja ia tinggal dan menyuruh orang suruhannya membawanya pulang. Mobil yang dikemudikan Ray menuju ke arah Queen yang saat ini tengah mengomel karena mobilnya sendiri tiba-tiba bannya bocor. "Ah sial. Gue pulang gimana nih!" gerutu Queen kesal. "Gimana Queen? Kalau mobil lo mogok, kita naik taksi aja deh!" "Iya...daripada kelamaan." "Gue akan suruh orang rumah jemput kita." Queen mengambil handphonenya menghubungi seseorang. Saat Queen yang masih berusaha menghubungi seseorang, justru datang mobil Ray yang tiba-tiba berhenti di depannya. "Hai Queen!!" sapa Ray tersenyum ramah. "Hai Ray!" Queen yang merasa mendapat angin keberuntungan malah menutup teleponnnya. "Mobil lo kenapa?" "Nggak tahu nih. Tiba-tiba bannya bocor," ucap Queen sedikit manja. "Oh bocor. Kalau gitu bareng gue aja. Gimana?" tawar Ray. "Seriously?"Queen tampak berbinar saat mendapat tawaran untuk pulang bersama Ray. "Yah. Cewek cantik kaya lo nggak boleh disia-siain." Ray tersenyum licik. "Okey....oh ya kalian bisa pulang naik taksi. Gue mau bareng sama Ray. Bye!" Queen melenggok membiarkan kedua temannya hanya melongo, lantas masuk ke dalam mobil Ray. "Thank you Ray!" Ray hanya membalas senyuman palsu yang sengaja ia tunjukan pada Queen. Sementara di sekolah Brian dan Max berdiri menatap kepergian mobil Ray. "Paku ini tenyata berguna," ujar Brian memegang paku berukuran sedang di tangannya. "Mau diapain tuh anak?" Max menoleh ke arah Brian. "Siapa yang tahu? bermain-main dengan iblis hitam akan membuat Queen menangis nanti." Brian tersenyum licik. Semua sudah ia rencanakan dari awal, Ray menyuruhnya menaruh paku di dekat mobil Queen —otomatis saat ia menjalankan mobil itu, paku-paku yang tersebar menancap di ban mobilnya—dan kemana Ray akan membawa Queen nantinya, hanya Ray yang tahu, memang benar perkataan Brian tadi bermain dengan iblis hitam seperti Ray akan membuat orang itu menyesal. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN