Chapter 16 : Ray

1681 Kata
"Tumben lo udah bangun, apa hari ini lo mecat pembantu lagi?" sindir Julian di tengah-tengah mereka sarapan rapi. "Berisik!" Angel tampak diam seperti biasanya, sembari menikmati sarapan pagi tanpa menyela pebicaraan mereka berdua yang berdebat. Ia memilih bungkam dan tak terlalu menanggapi. Pandangan Julian teralih memperhatikan Angel sekilas. "Oh ya Angel. Hari ini aku nggak bisa berangkat bareng ke sekolah. Jadi kamu berangkat sendiri nggak papa kan?" ujar Julian. "Iya, nggak papa kok." Wajah Angel menatap sekilas ke arah Julian lantas memalingkan kembali saat ia menatap sinyal mata dari Ray. Canggung, Itulah yang ia rasakan saat ini. Mata Julian menyerngit heran, ia merasakan sikap Angel hari ini sedikit berubah."Angel? Kamu nggak papa?" "I-iya." Angel berusaha bersikap seperti biasa agar Julian tak terlalu mencurigai sikapnya pasalnya saat ini pandangan Ray juga sama canggungnya. Uhukk... Ray tersedak saat pandangan Angel melirik ke arahnya dengan wajah merona-- ah mungkin ini cuma perasaannya saja. "Ray, hati-hati kalau makan." "Sory..sorry." Ray langsung menyeruput segelas jus jeruk di depannya dengan pandangan mengarah ke tempat lain. Berusaha menghindar lebih tepatnya. Julian bergantian melihat ke arah keduanya yang sama-sama kikuk tak seperti biasanya. Aneh--atau mungkin hanya perasaan Julian saja. "Kalian kenapa?" "Enggak...gue nggak kenapa-napa." Elak Ray telah menyelesaikan makanannya. "Angel?" Julian beralih memandang Angel. "Aku-nggak papa kok."gumam Angel segera menyelesaikan sarapan paginya. Tapi Julian juga tahu pasti ada sesuatu yang terjadi dengan keduanya, bahkan saat Julian melihat tak seperti biasanya Ray canggung di depan Angel. * Saat Angel akan berangkat sekolah bersama sopir, tak disangka mobil yang saat ini akan dipakai sedang diperbaiki. "Nggak bisa ya pak?" Angel terlihat putus asa, mau tidak mau ia harus segera menunggu bus lewat nanti—tapi jam sudah menunjukkan pukul 07.30 lebih, menunggu bus mungkin akan memakan waktu 10-15 menit belum perjalanan sampai sekolah. Bisa-bisa ia telat hari ini, mana hari ini ada ulangan Biologi—bisa gawat bukan? "Aduh...saya bisa telat nih pak, kalau belum bisa." gusar Angel was-was. "Maaf non, biasanya mobil ini selalu di servis rutin--tapi saat ini mobilnya memang memang sedang rusak." Sopir itu juga tak enak hati melihat Angel terlihat gelisah. "Masa' semua mobil di rumah ini nggak bisa sih pak?" tanya Angel memandang deretan mobil di area parkir dan garasi berjejer rapi. "Maaf non, biasanya saya selalu menggunakan mobil ini, kalau mobil lain. Biasanya dipakai tuan." Angel frustasi—bagaimana ini? Bisakah ia berangkat ke sekolah tepat waktu? Dari arah belakang Ray telah siap menuju ke motor ninja hitamnya. Sekilas ia melirik ke arah Angel yang nampak kebingungan—bisa dipastikan Angel sedang mengalami kesulitan. "Kenapa?" Ray muncul di antara mereka. "Ini tuan, mobilnya mogok. Padahal saya harus mengantar non Angel ke sekolah." Ray menyeringai tipis . " Wah kasian juga ya... kalau gitu lo bareng gue aja?" "Hah? Nggak usah... gue bisa naik bus." Angel yang masih terlihat canggung berbicara dengan Ray terlihatsedikit tergesa-gesa untuk pergi menghindari. "Kalau lo naik bus, waktu lo terbuang sia-sia, lagian ini udah jam 7. Lo bisa dihukum kalau telat." teriak Ray dari belakang. Benar juga apa yang dikatakan Ray, memang sih kalau ia naik bus perjalanan ke sekolah akan memakan waktu lama. "Bener non, kalau non naik bus, nanti non bisa telat. Mendingan bareng tuan Ray saja." Ujar sopir itu ikut setuju. Angel menoleh ragu. "T-tapi?" "Gimana, mumpung hari ini gue baik. Yah, kalau lo nggak mau gue juga nggak rugi." Angel menghela napas panjang. Ia terpaksa menuruti  keinginan dibanding hatinya yang terus menolak. "Baiklah." Ray tersenyum, ia lalu mengambil helm untuk Angel. "Pake, buat keselamatan. Gue bawa nyawa orang soalnya." Angel mengerucut bibir sembari memakai helm sambil menampilkan wajah kesal kesal. Ia lalu memposisikan dirinya naik ke atas motor Ray yang lumayan tinggi itu sambil berpegangan dengan bahu Ray. Ray berdehem pelan. "Nggak usah manyun gitu. Jelek tahu." "Awas kalau lo ngebut kaya dulu." gerutu Angel memperingatkan. "Masih inget lo, kirain lupa. Udah lo aman sama gue, pegangan yang bener." Ray menyeringai sambil melajukan ninja hitam kesayangan itu. Di sepanjang perjalanan dengan hiruk piruk lalu lintas yang padat, masih saja Angel memanyunkan bibir saat motor itu berhenti di tengah lampu merah alias macet. "Eh cewek gila!" "Lo bilang apa tadi." "Masih sadar rupanya, kirain tidur." Sindir Ray. Angel mendengus, bisa-bisanya laki-laki sombong dan menyebalkan ini memanggilnya cewek gila— yang benar saja. "Nama gue Angel bukan cewek gila." "Itu tadi nama lo yang kedua." "Enak aja ganti nama orang sembarangan." Ray terkekeh melihat Angel begitu marah, namun kali ini marahnya Angel justru membuatnya gemas. "Udah jangan cemberut gitu, bersyukur lo bisa bareng sama gue. Asal lo tahu ya, elo itu cewek pertama yang naik ke motor suci gue, jadi jangan kotorin— apalagi sama cewek gila kaya lo." "Nama gue Angel bukan cewek gila." teriak Angel kesal. Tak disangka di tempat yang sama di mobil Queen yang juga ikut terjebak lampu merah, sekilas memandang dengan pandangan kesal sekaligus tak percaya. "Angel?" "Dia ngapain bareng sama Ray?" gumamnya kesal. Queen terus mengamati keduanya sembari bertanya-tanya. "Tunggu...Ray sama Angel. OMG, DEMI APA?gue aja nggak pernah dibonceng Ray." Kesal Queen ngedumel. Ia lalu tersenyum licik menatap keduanya lantas  mengambil handphone di saku bajunya. "Tapi bagus juga, gue punya berita baru." Queen memposisikan kamera untuk memotret mereka dari jauh. "Dapat. Lo lihat aja Angel, apa yang akan lo dapetin di sekolah nanti." Queen tersenyum licik. ...... SMA Galaxy. Motor Ray berhenti tepat di parkiran motor bersamaan saat Brian dan Max baru saja turun. "Ray! Gue kan udah bilang. Turunin gue di halte depan, enggak disini." gumam Angel kesal. "Sama aja juga, kalau gue turunin di halte, lo masih jalan. Buang-buang waktu aja." "Ihh Ray, gue malu. Gimana kalau orang lihat gue dibonceng sama lo." "Biasa aja kali, lagian lo udah dilihatin tuh!" Ray nampak santai dengan melepas helmnya. "Turun!" perintah Ray selanjutnya. Benar saja, saat ini hampir setiap pasang mata melihat ke arah Ray—lebih tepatnya pada gadis yang naik ke mobil Ray tentunya. Brian dan Max saling bergantian memandang sambil heran. "Cepetan turun. Mau sampai kapan lo di atas motor gue?" Angel pun perlahan turun dari motor itu. "WOI!!!" teriak Ray pada kedua sohibnya dari jauh, Brian dan Max. "Heh, jangan keras-keras, lo bikin gue jantungan apa?" kejut Angel mengelus dadanya. Ray terlihat acuh. Brian dan Max menghampiri Ray. "Ray. Siapa dia?" tanya Brian penasaran. Pasalnya saat ini Angel masih memakai helm di kepalanya. "Siapa lagi, cewek gila yang gue temuin di jalan." Brian dan Max saling berpandangan tak mengerti. "Cewek gila?" "Maksud lo?"Brian mengernyit bingung. "Eh, lepasin helmnya." Ray terpaksa melepas helm yang dipakai Angel. Sontak saja dua laki-laki di depannya terkejut sambil melongo. "ANGEL??" "Hai!!" sapa Angel dengan senyum paksa sambil mendecak kesal menyenggol bahu Ray. "Udah nggak usah bengong gitu, mau telat masuk kelas." Ray melipir begitu saja sambil menggendong tas ransel pundaknya. Sepasang mata mentapnya penuh kebencian sembari menyilangkan kedua tangan di d**a. "Queen, itu Angel kan. Berani banget tuh cewek naik motornya Ray." Celetuk teman di sebelahnya. "Iya...memang gadis nggak tahu diri. Dulu sama Julian sekarang sama Ray, pinter banget sih tuh cewek ngerayu pangeran di sekolah ini." dengus kesal gadis yang berbeda. "Kalian tenang aja, Angel mungkin bisa senang hari ini—tapi sebentar lagi dia pasti akan menerima akibatnya." Senyum licik Queen dapat dibaca oleh kedua temannya. * Di studio musik. Shila membagikan selembaran kertas lirik lagu yang akan dipelajari hari ini. "Ini lagu yang harus lo hapalin . Sebentar lagi ulang tahun sekolah, gue mau band kita tampil sempurna." Harap Shila. "Jadi gue nggak mau ada yang telat latihan—nggak ada alasan, terutama ELO!" menunjuk Brian yang saat ini duduk santai. "Kok gue?" "Karna Cuma elo yang sok sibuk dari kita berempat." "Yah, lo tahu sendirikan beb, kalau gue itu adalah cowok paling berpengaruh di sekolah ini." Puji Brian penuh percaya diri. "Nanti sepulang sekolah kita latihan lagi disini, gue udah minta ijin sama penjaga sekolah buat make tempat ini ." Sambung Shila memberi tahu yang lain. "Oke!" Brian menoleh, ia mendengus—ternyata dari tadi tak ada yang mempedulikannya, apalagi Shila yang sangat acuh padanya. "Heh! Lo semua nggak peduli sama gue?"  Brian kesal. ..... Mobil Jaguar hitam berhenti di depan sekolah. Seorang laki-laki berpakaian jas lengkap masuk ke dalam ditemani satu anak buah masuk ke sekolah itu. Langkah keduanya berjalan menuju ke ruang kepala sekolah. Mereka masuk ke dalam ruangan bertulis kepala sekolah yang bertengger jelas di pintu masuk tadi. "Selamat datang di sekolah Galaxy." "Saya utusan dari tuan Willy untuk membicarakan sesuatu yang penting." "Saya sudah tahu dari tuan Willy—dan ini data dari murid yang anda inginkan." Kepala sekolah menyerahkan beberapa lembaran kertas berisikan biodata. "Angel Alia Ardiandra!" "Benar, gadis itu berhasil mendapatkan beasiswa full di sekolah ini." Kata kepala sekolah. Yudha tersenyum saat melihat foto dan juga identias dari gadis itu. "Terimakasih atas bantuan anda." "Sama-sama, saya juga senang bisa membantu tuan Willy." "Saya pastikan tuan Willy akan terus mendanai sekolah ini." Ujar Yudha mengulas senyum. Selanjutnya Yudha kemudian berpamitan untuk keluar dari ruang kepala sekolah, tak lupa map yang ia bawa dibawa di tangan kanannya. Ia berjalan di koridor kelas yang saat ini terlihat sepi hanya beberapa anak yang lalu lalang lewat sambil berbincang-bincang. "ANGEL!" Shila membawa setumpuk buku dan berlari menghampiri Angel dari belakang. Angel membalikkan tubuhnya ke belakang. Shila lalu memberikan buku-buku itu pada Angel. "Bantuin gue bawa buku ini ya ke ruang guru!" Shila menyerahkan semua buku itu padanya. "Lho, lo mau kemana?" "Gue ada perlu sama Brian. Tuh anak selalu cari gara-gara sama gue—gue minta tolong ya, makasih Angel!" Shila pergi meninggalkan Angel dengan setumpuk buku tugas satu kelasnya. "Hufft..." terpaksa Angel membawa buku-buku dan berjalan menuju ke kantor guru. Di sepanjang koridor kelas Angel terus ngedumel tak jelas karena ulah Shila tadi—bagaimana tidak, Shila bahkan tak membantunya dan malah pergi begitu saja menimpakan kerjaan padanya. Padahal hari ini ia berencana pergi ke perpustakaan meminjam buku. BRAK.. Karena Angel yang sedikit terburu-buru ia tak menyadari seseorang lewat dari samping hingga menabrak orang di depannya. Buku-buku di tangannya jelas saja berserakan di lantai. "Maaf...maaf, saya tidak sengaja!" ujar Angel merasa bersalah. "Tidak apa-apa." laki-laki itu membantu Angel membereskan buku yang terjatuh di lantai lantas berdiri. "Angel!" kejut laki-laki itu tersentak kaget. Angel menautkan alis menatap bingung ke arah laki-laki yang menurutnya asing itu. "Kenapa anda tahu nama saya?" tanyanya bingung. "Kamu Angel kan?" "I-iya...saya Angel..tapi??" "ANGEL!!" panggil seseorang dari belakang. Ray ternyata yang memanggilnya, ia lalu menghampirinya. "Ray?" "Kemana aja sih lo?" ketus Ray yang baru saja datang memasang wajah kesal seperti biasa. Ray kini mengalihkan pandangan ke arah lain. Sosok berperawakan tinggi berjas hitam berdiri di antara mereka. Ray menatap penuh curiga pada laki-laki itu. "Siapa anda?" tanya Ray. Yudha menatap Ray dan langsung tahu dengan siapa ia berbicara sekarang. Ia hanya melempar senyum tipis padanya. "Saya utusan dari tuan William, nama saya Yudha." Ujarnya memperkenalkan diri. "William? Kakek Willy?" kejut Ray. Angel menoleh bergantian pada dua orang yang saling berpandang seakan sudah saling mengenal sejak lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN