" Hati ini selalu memilih antara kepastian dan harapan."
"Dulu gue pernah minjemin bahu gue buat lo. Tapi sekarang apa gue boleh pinjem bahu lo sebentar?" pinta Ray penuh isyarat.
.....
Pelukan ini...
Hangat...
Ray memelukku?
"Angel! suara itu seperti magnet yang sangat kuat. Aku merasakannya, seperti ribuan kupu-kupu terbang dengan bebasanya. Bahkan tubuh ini terasa lemas untuk menolak, apa yang terjadi? kenapa dengan perasaan ini...Mungkinkah??
Pelukan yang diberikan Ray semakin erat, aku mendengar suara isakannya lagi.
"Ray !"
"Mika jangan tinggalin gue..."
Tangan ini terulur untuk membalas pelukan yang diberikan Ray, memberinya satu ketenangan.
"Aku ada disini Ray!"
***
Malam hari, di tepian kolam renang.
Keduanya duduk berdampingan dengan menenggelamnkan sebagian kaki mereka di tepi kolam sembari menikmati langit malam penuh bintang.
"Hey!" Angel menoleh ke arah Ray yang saat ini menatap langit malam.
"Apa tadi lo mimpi buruk?" tanyanya lagi.
Ray masih menatap langit hari ini, sangat indah. " Malam ini indah ya?"
Tatapan yang diberikan Ray begitu berbeda. Matanya mengisyaratkan sebuah tanda tanya besar, ada apa dengan laki-laki ini, ia berubah baik lagi-untuk kedua kalinya?
"Apa lo punya masalah, kenapa sikap lo jadi aneh?" Angel heran.
Ray menoleh ke arahnya sambil tersenyum manis.
"Ray?" Angel melotot melihat laki-laki itu tersenyum padanya.
"Lo kenapa?"tanya Ray
Plak... Satu tamparan ia berikan pada pipinya sendiri untuk memastikan kalau sekarang ia sedang tidak bermimpi, soalnya sangat jarang Ray tersenyum manis seperti sekarang.
"Aww... ternyata sakit. ini bukan mimpi!"
"Lo gila ya?" cemoh Ray mencibir.
"Habis sikap lo jadi aneh lagi, gue kan jadi takut."
"Apa selama ini sikap gue sangat menyebalkan?"
"Baru nyadar ."batin Angel.
"Emmmt, sedikit...Cuma lebih ke banyak."
Ray terkekeh melihat sikap Angel.
"Kenapa ketawa?"Angel merasa malu.
"Nggak papa."
"Oh ya Ray, tadi waktu lo meluk gue...kenapa lo manggil nama gue Mika?" tanyanya heran.
"Gue manggil lo Mika? Lo pasti salah denger kali." elaknya.
"Kuping gue masih normal, mana mungkin salah dengar..." sangkal Angel. "Jangan-jangan memang lo belum bisa melupakan Mika?"
Ray tertunduk "Gue...Cuma ngerasa kalau Mika akan kembali."
"Kenapa lo sangat yakin kalau Mika akan kembali?" tanya Angel penasaran.
Ray mendesah pelan, kembali ia menengadah ke atas. "Gue hanya pernah berjanji untuk kembali ke bukit peri dan membuka kotak itu sama-sama. Dia juga udah janji sama gue."
"Kotak?"
"Kotak musik yang lo pecahin."
"G-gue kan nggak sengaja." Angel memalingkan wajah merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya dulu. "Tapi lo juga tahu kalau Mika nggak akan kembali."
Ray menoleh ke arah Angel, ungkapan yang diucapkan Angel memang ada benarnya, Mika nggak akan kembali-tapi kenapa hati ini selalu menolak untuk mempercayainya, ada satu keyakinan yang tersembunyi di balik hatinya, keyakinan kalau Mika akan kembali.
"Ray!"
"Ray!"
DEG.
Ray menatap wajah di hadapannya adalah Mika. Ia tersenyum padanya, tiba-tiba saja air matanya terjatuh. Di hadapannya adalah Mika, benarkah itu- Mika ada disini?
"Mika!" tangan Ray terulur menyentuh wajah itu untuk memastikan. Ia menyentuhnya.
"Mika!"
"Kamu udah janji untuk membuka kotak ini sama-sama nanti. Janji ya Ray!" Mika tersenyum.
Bayangan Mika kembali muncul di hadapannya dan menjelma menjadi Angel.
"Ray!" Angel merasa sesuatu merasuki tubuh Ray saat ini, kenapa ia menangis di hadapannya, kenapa ia memanggil namanya Mika.
Ray!"
Cup. Bibir kenyal itu menutup mulut Angel hingga membuatnya melotot tak percaya. Waktu seakan berhenti sekarang. Ray menciumnya, namun anehnya ia hanya bisa diam seakan menginjinkan Ray untuk melakukannya. Tanpa disadari tubuh kaku Angel perlahan lemas, ia mulai menutup mata saat bibir Ray melumat bibirnya.
Ciuman yang berlangsung 5 menit itu terlepas. Ray melotot tak percaya, ia mencium Angel- ini nggak mungkin, tadinya ia beranggapan kalau di hadapannya adalah Mika bukan Angel. Kenapa jadi seperti ini?
"Angel!"
Keduanya sama-sama malu, apalagi Angel yang saat ini merona sembari menyentuh bibirnya.
"Gu-gue balik ke kamar dulu!" bergegas ia keluar dari kolam dan bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Ray yang masih terpaku di sana.
Brakk...
Pintu tertutup cukup rapat saat Angel sengaja menutupnya dengan sedikit dorongan. Ia masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Ray menciumnya, bahkan saat Angel menyentuh bibirnya yang basah, masih terasa ciuman lembut yang tadi diberikan Ray.
"Ray nyium gue?"
***
06.30 WIB . di Kamar Ray.
Ray selesai mengenakan seragam sekolah pagi ini, blazer warna biru pekat nampak cocok untuknya saat ini, biasanya ia lebih memilih membiarkan saja kancing blazer itu terbuka, tapi kali ini ia memilih untuk mengancing semua- sempurna, Ray tampak lebih berwibawa sekarang. Rambut ia sengaja tak tertata rapi, sedikit berandalan namun justru menambah kesan cool di pagi hari. Tak lupa jam tangan hitam bermerek melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Ia melihat pantulan dirinya di cermin sembari tersenyum. Entahlah, akhir-akhir ini ia lebih sering tersenyum dari hari biasanya, sikapnya juga sedikit berubah--mungkin saja apa yang dikatakan Julian kemarin memang ada benarnya. Ia berubah- tapi apa mungkin, perubahannya ini karena gadis itu?
Sejenak ia menyadari sesuatu, selama ini di dalam hatinya hanya ada kekosongan. Ia menutup semua perasaannya dan memilih menjadi pribadi yang dingin dan kasar. Memang selama ini segala keperluan baik materi selalu ia dapatkan, semua terkecukupi tanpa ada kekurangan- hanya saja ia justru merasa terkekang dengan apa yang dimilikinya, seperti burung dalam sangkar yang ingin mencari kebebasan dengan terbang sebebas-bebasnya tanpa ada jerat yang menghalangi.
Ia lantas mengalihkan pandangan, memperhatikan sebuah kotak musik yang di atas meja di sebelahnya, kotak musik berwarna merah muda yang masih tertutup rapat tanpa ada pemilik kuncinya. Kotak yang menyimpan sejuta kenangan tentangnya dan juga masa kecilnya.
Mungkin saja kalau Mika masih ada...mungkin....
Ray menghela napas panjang, masih terlalu pagi untuk mengingat kenyataan pahit masa lalunya.
Berbeda di lain tempat, tepatnya di kamar Julian.
Julian nampak selalu sempurna dan rapi seperti biasanya. Selalu senyuman yang ia tunjukkan pada semua orang di sekelilingnya, ia dikenal dengan pribadi yang ceria tanpa masalah- dan juga menjadi anak emas. Jujur Julian muak dengan predikat anak emas di keluarganya. Kalau untuk disuruh memilih, mungkin Julian lebih memilih lahir di kalangan anak biasa.
Sebuah kebohongan yang selalu ia tunjukkan kepada orang lain, saat orang menganggapnya layaknya malaikat tanpa cela. Sebenarnya ia menyimpan satu rahasia besar yang tak diketahui orang lain terutama keluarganya.
Tok...tok...tok...
"Masuk!"
Seorang pelayan masuk dengan membawakan sebuah kotak hitam.
"Selamat pagi tuan, tadi pagi ada kiriman paket untuk tuan Julian."
"Dari siapa?"tanya Julian penasaran.
"Saya tidak tahu tuan, tidak ada nama pengirimnya."sahut pelayan itu menaruh di meja lantas beranjak keluar dari kamar itu.
Julian mengamati kotak hitam di depannya, kotak berukuran sedang seperti bungkus kado hanya saja berwarna hitam, siapa yang mengirimnya? Julian terus bertanya-tanya.
Dimbilnya kotak itu dan perlahan membuka kotak itu. Ada secarik kertas putih terlipat di sana. Julian lalu membuka.
DASAR PEMBUNUH!!
MATI SAJA KAMU...
DEG
Apa maksud tulisan ini, pembunuh? Siapa yang mengirimkan kotak dan surat ini? Tangan Julian gemetaran, ia lalu merobek kertas itu kasar dan membuangnya ke kotak sampah dengan tumpukan kertas yang serupa yang selalu menerornya hampir setiap hari.
"Arghhh!!"