Chapter 14 : Rapuh

1676 Kata
"Gue pernah minjemin bahu gue buat lo, tapi sekarang apa gue boleh pinjem bahu lo sebentar?" Aku takut perasaan ini akan muncul dan hanya akan ada rasa sakit_Ray_ Duk...duk...duk... Suara bola basket memantul terdengar dari arah belakang rumah—dan benar saja, ada Ray disana. Seperti biasa ia sangat suka berlatih basket malam-malam. Dengan hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek, nampak keringat bercucuran di wajahnya. Selama 30 menit ia memainkan bola itu sendirian hingga akhirnya ia mulai lelah sembari telentang tepat di tengah lapangan sambil sesekali mengatur napas yang terengah-engah. Bayangan pertama yang dilihat saat matanya menatap langit malam adalah senyuman seorang gadis mulai masuk secara perlahan ke dalam hatinya. Senyuman yang sama yang selalu ditunjukkan Mika. Bukan. Dia bukan Mika... Tawanya yang mempesona, kenapa ia mulai memikirkan gadis gila itu? Saat Ray membawa Angel ke bukit rahasia yang hanya diketahui dia dan Mika. Lalu sekarang ia memperbolehkan orang lain mengetahui rahasia itu. Kalau Mika masih ada, mungkin ia akan marah... Bola menggelinding menuju ke tempat dimana seorang laki-laki berdiri disana, diambil bola itu dan mulai berjalan mendekatinya. "Ray!" panggil seseorang membuyarkan lamunannya. Julian berjalan mendekat dengan bola di kedua tangannya. " Belum tidur?" Ray mendesah pelan. " Kenapa lo jadi ngatur gue?" Julian lalu duduk di samping dengan menyilangkan kedua kakinya. Bola basket itu masih di tangannya, sesekali ia memainkan dengan putaran di atas jari telunjuk. "Lo tadi pergi sama Angel?" tanya Julian tanpa menatapnya. "Bukannya lo nyuruh gue jemput Angel ?" "Iya lo benar...gue yang nyuruh lo. Tapi gue lihat sikap lo akhir-akhir ini aneh. Terutama sama Angel." tukasnya. "Gue juga udah sering lihat lo senyum, sangat berbeda saat Angel belum datang ke rumah ini." "Itu nggak ada hubungannya kedatangan Angel dan perubahan gue?" ketus Ray santai. Ray mendesah pelan. Malam semakin larut, ia lalu mulai bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Julian yang masih disana. "Ray!" "Apa?" "Boleh gue ngomong sesuatu?" "Apaan?" "Soal Angel." Ray memutar bola mata jengah. "Ini udah malam ...lo ngapain ngomongin soal dia?" "Gue kenal lo Ray. Senyuman yang lo tunjukin selama ini hanya untuk dua orang gadis..." Julian bangkit dan mendekati Ray yang berhenti membelakanginya. "Nyokap lo dan Mika." "Ehh Julian!" Ray memutar tubuhnya kembali. "Dan ada orang ketiga..." sembari Julian mendribel bola basket tepat di depan Ray yang nampak bingung. "Gue tebak...dia adalah Angel!" Gelak tawa terdengar tepat di depan wajah Julian. Bagaimana mungkin Julian menganggap senyuman yang selama ini ia tunjukan untuk Angel, omong kosong macam apa ini? "Eh Julian... gue tahu ini udah malam, tapi ngelantur lo itu udah kelewatan. Jadi menurut lo gue berubah karena cewek gila itu. Gue kasih tahu ya, perubahan gue nggak ada hubungannya sama Angel—dan bukan karena Angel." Ray menepuk bahu Julian sebentar kemudian berbalik. "Kalau tiba-tiba perasaan lo memang ditunjukkan untuk Angel—apa nanti lo bisa mengelak?" teriak Julian membuat Ray kembali berhenti dengan masih memunggungi saudaranya. "Bukan sekarang, tapi suatu saat nanti. Hati lo yang akan menjawab." Ray diam seakan mati kutu, apa maksud ucapan Julian. Menyukai Angel—yang benar saja. Sampai kapan pun di hatinya hanya untuk Mika, jadi nggak akan mungkin Angel masuk kesana. Nggak akan mungkin, kata itu akan tersemat secara kuat dalam ingatannya. "Jadi lo berpikir gue suka sama Angel—Julian jangan konyol. Gue nggak mungkin suka sama cewek itu . Lo juga tahu gadis yang ada di hati gue itu cuma Mika, bukan Angel!" tegas Ray. "Tapi Mika udah nggak ada, sampai kapan lo masih berharap gadis itu akan kembali." Ucapan telak Julian membungkam mulut Ray seketika. Ia tahu itu. Mika sudah pergi—dan menunggunya adalah sesuatu yang mustahil. Ray hanya bisa menggeram sambil mengepal kedua tangannya saat Julian berucap. Kalau bukan statusnya sebagai saudara mungkin Julian sudah terkapar sekarang. Dengan sedikit mengontrol emosi, Ia akhirnya memilih pergi sebelum amarahnya memuncak apalagi saat berhadapan dengan Julian. "Nggak menutup kemungkinan juga kita menyukai gadis yang sama Ray!" * Hari berikutnya di SMA Galaksi. Suara sorakan menggelegar dari sudut penonton yang berteriak histeris meneriaki nama Ray dan juga anggota tim basket lain yang saat ini tengah bertanding untuk latihan pertandingan minggu depan. "Ray!" "Ray ganteng banget!" "Ahh... itu Ray keren banget mainnya!" Tak hanya satu atau dua gadis yang terpesona dengan Ray. Bahkan anggota Cheerleader menyoraki Ray dengan antusias. Ray Nampak begitu menawan saat bermain basket, apalagi ia didaulat menjadi kapten basket di sekolah tersebut. Angel dan Shila yang lewat mulai mendekat ke arah penonton dengan sorakan bahkan yel-yel yang ditunjukkan untuk tim basket SMA Galaksi. Dari arah penonton keduanya masuk melihat latihan pertandingan basket. Angel akui memang Ray begitu menawan saat memakai kaos basket berwarna hijau dengan corak hitam yang membuatnya semakin mempesona—pantas saja banyak yang bersorak untuknya. Tapi dari semua pemain basket lainnya, pandangan Angel justru mencari keberadaan sosok lain. "Kok Julian nggak ada?" Shila menoleh. "Julian?" "Bukannya dia jago main basket juga?" "Eummmt iya sih. Tapi Julian itu hanya pemain cadangan." "Pemain cadangan? Tapi gaya permainannya bahkan lebih bagus." "Julian sendiri yang meminta untuk jadi pemain cadangan. Kenapa lo jadi ngomongin Julian? Jangan-jangan lo suka ya?" sindir Shila terkekeh. "Enggak...gu-gue nggak suka sama Julian!" Shila menyenggol bahu Angel dengan sambil tersenyum. "Wajah lo merah, itu menandakan lo suka..." "Suka sama siapa?"Queen datang mengintrupsi mereka dengan masih memakai seragam Cheerleader, sambil berkacak pinggang diikuti dua teman di belakang, Queen mendekati mereka. "Tadi gue denger kalian berdua ngomongin My prince gue." Shila menatap jengah saat melihat kedatangan makhluk centil sang Ratu di sekolah yang selalu membuatnya kesal. "Kayaknya itu bukan urusan lo?" "Kalian ngomongin pacar gue..." "Julian bukan pacar lo. Paham!"ketus Shila. "Lo bilang apa tadi?" kini mata Queen berpaling pada gadis di sebelah Angel, siapa lagi kalau bukan Shila yang begitu ketus sambil berdecak menantang Queen. Angel yang berada di tengah mereka terlihat bingung. Apa yang harus ia lakukan, melerai keduanya? "Udah...kalian jangan berantem dong!" "Nggak usah ikut campur, dasar murid baru. Eh lo sadar dong, siapa lo disini?" Queen mulai mendorong tubuh Angel dan hampir saja membuatnya terjungkal ke belakang. Tiba-tiba Shila menarik rambut Queen dari belakang. "Lo berani sama Angel? Berarti lo juga berani sama gue!" teriak Shila. "Aw...sakit. lepasin tangan lo!" Queen menampik tangan Shila kasar. "Oh...sok jagoan lo di sekolah ini? Mentang-mentang Brian suka sama lo, lo berani sama gue?" Shila tertawa nyaring tepat di hadapannya. "Beruntung kalau Brian suka sama gue, dari pada suka sama lo. Nenek sihir!"ketus Shila. "Lo bilang apa barusan?" DUG Sebuah bola melayang tepat mengenai kepala Queen cukup keras hingga membuatnya meringis kesakitan. "Aww...siapa sih!" Bola basket? Queen menoleh ke arah lapangan basket. Ray berdiri mengamatinya sambil menyilangkan kedua tangan di d**a tak sedikitpun merasa bersalah dengan ulahnya. Semua tatapan kini tertuju pada Queen. "Ray!" geramnya. "Sorry  Queen...tangan gue tadi gatel. Jadi nggak sengaja bolanya terbang ke kepala lo." Teriak Ray dari jauh. Angel menoleh ke arah Ray sekilas. Ia berpendapat laki-laki itu pasti sengaja melempar bola itu mengenai kepala Queen, bagaimana bisa bola terbang dengan sangat akurat tepat mengenai kepala Queen. "Lo nggak papakan?" tanya Angel. Namun saat Angel berusaha menyentuh Queen, dengan kasar Queen menampik tangan itu sembari mendorong tubuh Angel ke belakang hingga membuatnya kembali terjungkal—beruntung saat itu Julian datang menangkapnya. "Angel!" "Ju-julian?"Queen gelagapan sambil menggigit bibir bawah saat Julian muncul tiba-tiba di depan mereka. "Ju-Julian?" lirihnya pelan. "Queen jangan kasar. Gue nggak suka!" ketus Julian. "T-tapi gue..." "Udah deh Queen. Alasan apapun nggak akan bisa membela lo di hadapan Julian" sela Shila terlihat tenang sejak tadi. "Aku nggak papa kok Julian!" gumam Angel mengulas senyuman. "Aishh..." Ray yang masih berdiri dari jauh menatap keduanya. Ia mendecih kesal lalu pergi begitu saja meninggalkan lapangan padahal latihan pertandingan belum selesai. "Ray mau kemana?" tanya anggota tim lain saat melihatnya pergi. Namun Ray seakan acuh. *** Guyuran air dari wastafel membasuh wajah Ray hingga membuat rambutnya ikut basah. Tatapan di kaca menggoreskan sebuah kebencian. Untung saja toilet saat ini sedang sepi dan tak ada murid yang masuk—jadi ia bisa melampiaskan kekesalan pada tembok atau mungkin kaca saat ini. Ray perlahan mulai mengontrol emosi. Kebencian apa yang ia rasakan saat ini—apa karena melihat Angel tadi, sikap polosnya memang menyebalkan atau pada Julian, sosok yang menjadi penolong gadis itu. "Arghh..." Kembali di tatap cermin di depannya. Sosok senyuman Angel kembali terlukis disana, sangat menawan—bahkan saat ini detak jantungnya mulai berdebar kencang. Di sisi lain ada bayangan Mika yang juga ikut tersenyum. Sesulit inikah saat hati masih merasakan kepedihan masa lalu. .... Malam harinya. Jam menunjukkan pukul 23.09. Angel terbangun saat merasakan haus melanda. Ia lalu bangkit dari tempat tidur untuk pergi ke dapur. Suasana sepi dan gelap remang-remang—jujur saja Angel enggan untuk ke dapur yang jaraknya dari kamar lumayan jauh, bahkan saat ini sudah terlalu malam untuk menyuruh pelayan . Setibanya di dapur. Segera ia mengambil air dari kulkas dan menuangkan dalam gelas. Satu tegukan melegakan tenggorokannya dan waktunya sekarang ia kembali ke kamar untuk melanjutkan mimpi indah. .... Saat melewati kamar, langkah Angel berhenti. Ia mendengar suara isakan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. "Siapa yang nangis malam-malam?" Angel mulai mengedarkan pandangan di sekeliling, tak ada siapapun di sana. kini bulu kuduknya malah berdiri sambil gemetar. "Jangan-jangan...rumah ini berhantu?"Angel memeluk tubuhnya yang gemetar, ia harus balik ke kamar sebelum melihat yang aneh-aneh. Hiks...hiks... Langkah Angel berhenti tepat di depan kamar Ray. Ia jadi penasaran, apa mungkin suara isakan itu dari dalam—tapi itu nggak mungkin—untuk apa Ray menangis, bukan sifat Ray menangis di tengah malam. Angel menyentuh dadanya sambil mengatur napas. "Tenang Angel...pasti tadi Cuma halusinasi lo aja, cepet balik ke kamar dan..." Hiks...hiks... "Ray!" Angel dapat mendengar dengan jelas, suara itu benar berasal dari Ray. Ray mencoba mengetuk pintu dari luar untuk memastikan. "Ray!!" "Lo di dalam... ini gue Angel." "Ray lo nggak papa?" "Ray!" Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya, Angel akhirnya masuk ke dalam kamar Ray tanpa ijin—mungkin Ray akan marah, tapi ia harus memastikan kalau suara tadi memang berasal dari dalam kamar Ray. Suasana kamar Ray gelap dan hanya ditemani lampu tidur dan rembulan di malam hari. Angel megendap-endap layaknya pencuri masuk ke dalam. "Ray!" "Ray!" BRUK... Sebuah tangan menarik dari belakang lantas mendorongnya ke tembok cukup keras. Seringai tajam dari kedua bola mata itu sangat tajam. "Ngapain lo di kamar gue?" Angel menelan ludah payah. "Gu-gue...!" "Jawab!" "Gu-gue..." "JAWAB GUE!" "Ray...maaf...Gu-gue-denger-suara orang nangis!" Angel ketakutan, apalagi saat ini tatapan Ray sangat mengintimidasinya dengan kedua tangan Ray berada dibalik kepalanya menatap bola mata Angel. "Mung-kin-gue salah denger!" Angel tergagap. "Gue harus balik ke kamar!" tanpa disadari Ray merenggangkan tangannya dan membiarkan Angel lolos. Bergegas Angel langsung keluar dari kamar Ray selagi ada kesempatan. Namun saat ia akan keluar dari ambang pintu, sebuah tangan menahannya dari belakang. "Angel!" "Dulu gue pernah minjemin bahu gue buat lo. Tapi sekarang apa gue boleh pinjem bahu lo sebentar?" pinta Ray penuh isyarat. Tbc 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN