Chapter 13 : Bukit Peri dan Surat Rahasia

1774 Kata
"Kakek nggak papa?" seru Angel tiba-tiba muncul saat seorang kakek-kakek memakai kursi roda jatuh tepat di hadapannya. Segera Angel langsung menolong Kakek itu. Kakek itu melempar senyum ke arah Angel. " Terimakasih nak!" Angel lalu mendorong kursi roda itu milik kakek itu dan membawanya ke tepian. "Lain kali kakek harus hati-hati. Apa kakek datang sendirian?Mana cucu kakek?" tanya Angel. Kakek tua itu menatap Angel dengan sedikit menunduk, apalagi saat gadis ini mengatakan cucu. Selang beberapa menit seorang dua orang laki-laki berpakaian jas hitam menghampiri kakek itu sambil menaruh hormat akan kelalaian mereka. "Tuan baik-baik saja? Maafkan kami tuan Willy!" "Kemana saja kalian?" kesal kakek Willy pada kedua anak buahnya. "Maafkan kami tuan." Ucap mereka tertunduk. Angel hanya melirik ke arah kakek dan dua laki-laki yang bersama kakek itu sekarang dengan bingung. "Maaf kek... mungkin saya harus pergi sekarang." Sebelum Angel melangkahkan kaki untuk pergi. Kakek itu justru memanggilnya. "Tunggu nak!"Angel menoleh ke arah kakek itu lagi. "Siapa nama kamu?" "Saya?" "Nama saya Angel kek." "Angel?" "Sama seperti hati kamu yang seperti malaikat. Terimakasih nak Angel." Ujar Kakek Willy tersenyum. "Sama-sama kek..." Angel berbalik dan berjalan pergi. Entah kenapa saat melihat gadis yang menolongnya tadi. Ia jadi merindukan cucunya, kalau saja Mika masih hidup -pasti akan sebesar anak itu, cantik dan juga manis. "Tuan. Kita pulang sekarang!" panggil salah satu laki-laki berjas itu mulai mendorong kursi roda menuju ke mobil. * Di rumah kediaman William Edison. "Yudha, saya ingin kamu menyelidiki seorang gadis," pinta Kakek Willy di tengah-tengah menyeruput teh di halaman belakang dengan ditemani dua suster di sampingnya. "Seorang gadis? Siapa tuan?" "Namanya Angel, dia baru saja menolongku tadi siang dan aku ingin bertemu dengannya lagi." "Baik tuan." "Oh ya, kamu punya berita terbaru mengenai cucuku Mika?" tanyanya lagi. "Belum tuan, tapi saya mendapat informasi salah satu anak Ardiandra saat ini berada di Jakarta." "Di Jakarta?" ulang Kakek Willy tersentak. "Benar tuan, anak itu pergi menemui Malika." "Malika?" "Malika adalah istri Stefanus, dari kelurga Raveno. Saingan terbesar tuan." "Raveno? Jadi maksudmu anak itu tinggal di keluarga Raveno, begitu?" "Benar Tuan." .... Angel duduk di salah satu ayunan di dekat taman sambil mendengarkan headset di kedua telinganya, terdengar lagu Beautiful by Cristina Aguilera. Sambil sesekali menganyunkan ayunan itu untuk sekedar bermain-main mengusir kebosanan, diambilnya buku yang baru saja ia beli tadi di toko. Sampul yang cukup menarik. "Romeo dan Juliet, ngapain lo beli buku itu?" Ray muncul tepat di hadapannya. Angel mendongak terkejut dan hampir melongo tak percaya. Kini di hadapannya sosok laki-laki yang tak ingin ia harapkan hadir, tapi justru muncul. "Ray?"kejutnya Ray menundukkan tubuhnya mengamati sampul buku yang akan dibaca Angel saat ini. "Pantesan aja, bacaan lo kaya gitu sama kaya hidup lo yang tragis," sindir Ray mencela. "Aishh... sirik aja sih lo. Emang kenapa, ini buku-buku gue. Gue juga nggak suruh lo baca kok," cercah Angel kesal. "Baguslah, gue juga nggak suka cerita yang berakhir tragis." Ray lalu duduk di ayunan yang berada di sebelahnya. Angel masih tak percaya, kenapa Ray ada disini, apa mungkin Ray mau menjemputnya--jadi usaha Julian tadi berhasilkah? Angel memutar bola mata jengah, kenapa ia harus berurusan dengan laki-laki super menyebalkan ini--dengan malas Angel menoleh menatap ke arah Ray yang duduk di samping ayunan. "Bisa nggak sih, sekali aja lo nggak ganggu hidup gue?" "Ganggu. Adanya elo yang ganggu hidup gue..." bantah Ray santai. Angel menatap Ray dengan pandangan kesal. Ingin sekali ia marah padanya, memakinya kalau perlu--tapi berurusan dengannya justru akan menambah masalah. "Sabar Angel, marah-marah nggak baik untuk jantung." "Lo pinter juga milih tempat." Ray tampak menyukai ayunan dan suasana di sekeliling yang nampak sepi dan hanya beberapa saja yang lewat karena saat ini mereka berada di taman. Angel yang tak ingin menanggapi ucapan Ray lebih memilih mendengar lagu dari headset yang kembali ia pasang sambil memulai untuk membaca buku itu. Ray terdiam sejenak mengingat tempat yang sama waktu kecil. Tempat yang sangat ia sukai bersama Mika, tempat yang memiliki banyak kenangan. Bukit Peri, tempat itu sudah lama ia tak kunjungi. Bagaimana sekarang keadaannya? "Angel!" panggil Ray menoleh ke samping. Ray mendecak kesal dengan bibir ingin mengupat-bahkan saat ini Angel tak menghiraukannya. "Angel?" panggilnya untuk kedua kali, namun tak ada sahutan atau jawaban. Gadis ini lebih memilih berkonsetrasi dengan buku bacaannya. "ANGEL!" dengan kasar Ray menarik sumpalan kebel yang menempel di telinga kanan Angel dengan kasar hingga membuat Angel memekik kesakitan. "Aww... Ray apa-apaan sih lo?" gerutunya kesal. "Dari tadi gue panggilin lo nggak nyaut," Ketus Ray. "Apaan sih?" dengan malas Angel mengambil pasangan kabel yang dipegang Ray dan memasangkan kembali ke telinganya. "Mau ikut gue nggak?" "Kemana?" tanyanya malas. "Bukit Peri." Sedetik kemudian, gelak tawa meledak keluar dari bibir Angel saat mendengar keinginan Ray yang kekanak-kanakan. "Bukit Peri? Apaan tuh?" "Gue tahu Ray bacaan lo itu dongeng sebelum tidur, tapi mengkhayal di siang bolong gini. Orang bisa menganggap lo itu Gila," Ujar Angel melepas headset yang di pasang sambil menahan tawa. "Gue serius." "Emang ada bukit kaya gitu?" "Kalau gue bisa buktiin?" tantang Ray. " Gue akan traktir lo," Jawab Angel asal. "Setuju!" tiba-tiba Ray bangkit seraya menarik tangan Angel. "Heh?" kejut Angel tak percaya, ia hanya bercanda tadi kenapa Ray menganggapnya serius. "Dua ice cream vanilla ." Ray menarik paksa tangan Angel menuju ke motornya. "Ray...Ray...gue...becanda tadi." "Gue anggap tadi serius." "Tapi Ray!" keduanya kini tepat di depan motor ninja hitam Ray. "Naik!" pinta Ray. Angel masih tak percaya kalau omongan Ray serius kali ini. "Kita mau kemana?" tanya Angel menautkan kedua alis bingung. Diambilnya helm di belakang motor Ray dan langsung memasangkan di kepala Angel dengan sekali pasang. " Keselamatan itu penting, lo tahu!" Klik... Helm terkunci, terpaksa Angel menuruti perintanya untuk naik ke motor Ray yang cukup besar itu. "Ini gimana naiknya?" tanya Angel polos. Ray mendesah. "Tinggal naik aja, susah amat sih?" Angel terpaksa memegang bahu Ray sebagai pegangan naik ke atas motornya. "Dasar pendek!" desis Ray pelan. "Apa lo bilang tadi?" Angel menautkan kedua alis menatap Ray kesal. "Enggak," tampik Ray memalingkan wajah kearah lain. "Aishh..." "Pegangan yang kuat!" pinta Ray sebelum melajukan motornya. "Ini udah pegangan."Angel menggenggam sisi jaket yang dipakai Ray. "Yang bener pegangnya, gue nggak tanggung jawab." "Kalau lo ngebut, gue akan bilangin Julian soal ini." "Coba aja!" Ray seakan tak peduli. Ia mulai melajukan motornya perlahan namun pasti. Motor itu melaju dengan kecepatan stabil. Sepertinya Ray tak ingin main-main sekarang, namun sedetik kemudian terbesit di otaknya muncul sisi jail untuk mengejutkan Angel. Dimainkannya motor itu lalu ia mendadak me-rem mendadak membuat tubuh Angel tertubruk tepat di punggung laki-laki itu cukup keras. "Ray hati-hati!" "Makanya pegangan yang kuat." Dalam hati Ray tersenyum senang. Dapat dilihat kini pegangan Angel semakin mengencang memeluk tubuhnya saat ini. Hati ini selalu memilih antara kepastian dan juga harapan. Kamu yang harus aku lupakan sebagai kenangan atau menjadikan sosok baru masuk. Ray dapat merasakan satu getaran aneh yang masuk secara perlahan ke dalam hatinya, sosok yang baru dan membawanya terombang-ambing antara memilih kepastian atau harapan itu. Kepastian untuk membawa hati lain masuk ke dalam atau memilih harapan sosok masa lalu yang selalu menghantui. Sosok Mika atau Angel. Itu adalah pilihan yang sulit. Cittt... Mereka berhenti di salah satu bukit yang terletak cukup jauh dari taman tadi. Tempat yang mungkin jarang didatangi orang karena sekilas mungkin terlihat seperti bukit ilalang biasa. Angel turun dari motor Ray menatap pemandangan di depannya. Segera ia melepas helm itu. "Mana Bukit itu?" "Ada di balik sana!" ujar Ray. Ray melangkah lebih dulu menuju kerumput ilalang yang menghalangi pandangan, Angel hanya bisa mengikutinya dari belakang. "Ray tungguin!" seru Angel yang tertinggal cukup jauh ke belakang. "Ray!" 10 menit mereka berjalan akhirnya sampai juga di tempat yang dimaksud Ray. Bukit dengan hamparan hijau membentang sepanjang mata memandang, di sekitar tempat itu juga ada beberapa taman bunga dan danau. Cantik. Angel bahkan sampai terkagum melihatnya. "Wow... ini tempatnya?" "Keren banget!" "Ray ini bukit perinya? Ternyata di luar dugaan yang gue bayangin. Ini sangat cantik. Lihat Ray ada danau!" tunjuk Angel melihat danau membentang di depan mereka. Seketika angel berlarian mengelilingi tempat itu sambil sesekali menghirup udara yang lumayan segar saat ini. Dari belakang Ray hanya tersenyum melihat tingkah Angel yang seperti anak kecil. Menari-nari, aneh! Deg Angel menari-nari di bukit itu. Tanpa sadar Ray baru menyadari sesuatu. "Mika!" sosok Mika muncul disana seakan ikut menari di depannya sambil melempar senyum ke arahnya. "Ray!" panggil Mika di hadapannya tersenyum. "Mika!" "Ray...DOORR!" kejut Angel mengangetkannya dari belakang hingga membuat Ray tersentak. "Lo ngelamun apaan sih, entar kesambet lho!" "Oke, gue akui. Tempat ini memang sangat indah, tapi siapa yang memberi nama Bukit Peri?" tanya Angel penasaran. "Kita." "Huh?" "Gue sama Mika." Angel menyerngit menatap Ray seakan menahan air mata. "Mika?" "Lo masih belum bisa melupakan Mika ya?" "Gue nggak akan pernah bisa melupakan sosok Mika." "Oke, gue tahu kok. Kehilangan seseorang yang nggak akan kembali itu sangat menyakitkan. Gue juga pernah kehilangan sosok panutan dalam hidup. Tapi Ray, lo masih hidup di masa ini bukan masa lalu-jadi alangkah baiknya lo..." "Lo mau nyuruh gue ngelupain Mika?" Angel menggelengkan kepala. "Enggak. Gue nggak bilang lo harus melupakan Mika-hanya saja, lo harus lupain kesedihan karena kehilangan Mika. Gue yakin bukan ini yang diharapkan Mika." Ray menautkan kedua alis menatap Angel dengan pandangan bingung sekaligus kagum. Sejak kapan gadis didepannya sangat pandai merangkai kata-kata semanis itu? "Sejak kapan lo bijak?" "Gue selalu bijak. Lo nya aja yang nggak nyadar!" "Oh gitu." Angel menyembunyikan wajah malunya saat Ray menatapnya dengan sinis sekaligus aneh. "Oh ya, gimana kalau kita ngirim surat sama Mika?" usul Angel memutar tubuhnya untuk berhadapan tepat di depan Ray. "Mengirim surat?" "Ini namanya surat rahasia--dan keberhasilan untuk sampai kepada orang yang kita harapkan 90%." Ungkap Angel meyakinkan. "10% nya?" Ray menyerngit. "Itu...itu kegagalannya." "Kalau ternyata 90% adalah kegagalan dan 10% adalah keberhasilan. Apa menurut lo surat itu bisa sampai?" "Gue bilang 90% keberhasilan bukan 10%...kenapa jadi ngomongin tentang persenan. Pokoknya lo percaya sama gue, Gue Angel bisa memastikan," Ujar Angel penuh percaya diri. "Okey...jadi apa surat rahasia itu?" "Bentar!" Angel mengambil sesuatu dari tas ransel yang di bawanya. Ia lalu merobek buku itu dan memberikan satu robekan kertas pada Ray beserta bolpoin hitam. "Apaan nih?" tanya Ray tak mengerti. "Caranya, tulis apa yang mau lo sampein sama Mika ke dalam kertas itu." Perintah Angel. "Terus?" "Kita akan terbangkan kertas itu kaya pesawat...wuss, nyampek deh sama Mika surat rahasianya." Angel terkekeh yakin. Ray langsung menjitak kepala Angel dengan jemarinya cukup keras hingga membuat Angel meringis kesakitan. " Lo itu emang gila ya, mana mungkin cara itu berhasil?" "Yah, nggak salahnya kita coba." Angel memasang wajah polosnya. Ray terpaksa mengikuti ucapan Angel dengan menulis surat rahasia yang ditujukan pada Mika. Ia tahu itu tak akan berhasil, mana mungkin-tapi saat melihat Angel yang begitu antusias dan justru sekarang ini ia berhasil membuatnya tersenyum kembali. "Mika lo tahu. kalau lo ada disini lo pasti akan melakukan apa yang dilakukan gadis aneh ini--dan anehnya Mika. Kenapa gue menuruti perintah gadis ini." Malam hari, di kediaman keluarga William Edison. Yudha terlihat sedikit terburu-buru masuk ke dalam ruangan tuan William diikuti kedua anak buah di belakangnya. "Tuan!" panggil Yudha menaruh hormat pada kakek yang saat ini duduk di kursi roda membelaknginya. "Kamu membawa berita terbaru Yudha?" "Saya sudah mengetahui salah satu anak Ardiandra, dia bersekolah di SMA Galaxy bernama Angel Alia." Jelas Yudha. Kakek itu memutar kursi roda itu ke belakang untuk berhadapan secara langsung pada Yudha. "Angel?" kejutnya. "Tapi ada yang membuat saya penasaran tuan. Anak Ardiandra yang meninggal juga bernama Angel. Ini sangat aneh tuan...ada dua Angel disini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN