Chapter 12 : Perubahan Sikap

2080 Kata
"Mimpi buruk itu datang lagi, tapi saat kamu datang ia hilang." *** "Lo mimpi buruk lagi?" tanya Ray di sela-sela mereka duduk di salah satu kursi panjang di balkon atas. Angel hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Memang apa mimpi lo?" Angel terdiam sejenak dan kini ia menoleh ke arah Ray dengan pandangan ragu. "Api...semua gelap, dan aku nggak ingat apa-apa lagi." "Api?" Ray mengulang kalimat yang sama. "Ada seorang anak kecil terjebak di dalam api, dia menangis dan ketakutan. Aku nggak tahu siapa anak kecil itu." Jelas Angel tertunduk. Ray tertegun melihat rona wajah yang terpancar dari raut Angel yang mendadak membuat hatinya perlahan goyah. Ia merasakan kesedihan itu, melihat gadis ini sangat rapuh, ingin rasanya ia kembali memeluk dalam dekapannya. Menyeka setiap air mata yang selalu ia tunjukan di hadapannya. " Lo tahu Angel, kenapa lo selalu membuat gue begitu rapuh sekarang, apa mungkin penderitaan lo sama pedihnya seperti gue?" batin Ray tanpa sadar. "Tidurlah!" pinta Ray menepuk bahu kirinya mengijinkan untuk menjadi sandaran gadis itu. "Maksud lo?" Angel bingung. "Gue pinjemin bahu gue sebentar. Untuk malam ini, lo nggak akan mimpi buruk lagi." "T-tapi?" Angel ragu. Ray mendekatkan diri dan menarik kepala Angel untuk bersandar di bahu kirinya. "Kalau mimpi buruk itu datang lagi. Gue ada disini." Ucapan Ray membuat Angel diam. Mungkin ia beranggapan kalau orang di sebelahnya pasti bukan Ray, kenapa sikapnya jadi berubah manis sekarang, atau mungkin waktu Ray ke kamar mandi ia kepentok pintu dan membuat sisi baik dari dirinya muncul. Ahh, pertanyaan aneh apa ini dan bagaimana ia bisa beranggapan Ray memiliki kepribadian ganda. "Elo Ray kan?" "Iya ini gue. Kenapa lo nanya itu?" "Yah, habis sikap lo hari ini aneh banget. Gue kan jadi ragu." Ucapan Angel membuat Ray terkekeh geli melihat sikap Angel yang begitu polos. Tanpa sadar ia juga ikut tersenyum. "Ray!" "Lo tersenyum?" untuk pertama kalinya Angel melihat Ray tersenyum ke arahnya. Pasti angin malam hari ini telah dicampur semacam zat yang membuat orang sekeras dan sekasar Ray bisa tersenyum. "Memang kenapa kalau gue tersenyum?" "Enggak. Cuma aneh aja kalau lihat lo..." "Angel!" wajah Ray perlahan mendekat dan kini jarak keduanya hanya 5 senti. Mata Angel melotot menahan napas saat Ray memandangnya intens, bahkan kini jantungnya berdetak cukup kencang. "Kenapa wajah lo merah?" tanya Ray mengerutkan kening. Sontak saja, Angel langsung menangkup kedua pipinya yang merona. Perasaan apa ini? Aneh. Enggak, ini pasti karena angin malam. "Cepetan, sebelum gue berubah pikiran. Hari ini gue nggak akan berdebat sama lo." Ray kembali menepuk bahu kirinya untuk memastikan agar Angel bersandar disana. Hangat. Itulah yang dirasakan Angel saat ini. Lambat laun ia mulai merasa nyaman bersandar di bahu Ray dan membuatnya terpejam sejenak, baginya ada ketenangan tersendiri saat kehangatan dari diri Ray mulai merayap ke tubuhnya. Manis... Satu kata untuk mengungkapkan perasaannya, bagaimana bisa gadis menyebalkan ini menyimpan banyak kenangan buruk. Mungkin selama ini ia beranggapan kalau hanya dirinyalah yang mengalami masa lalu yang mengerikan, tapi... gadis ini justru lebih merasakan rasa sakit itu. Tanpa sadar Ray menggenggam tangan Angel yang menganggur dan mulai tertidur di kepala Angel. Nyaman, itulah yang dirasakannya saat ini. Ray dream's "Ray!" panggil Mika dari jauh, ia tersenyum bahagia sambil berlarian. "Mika!" Ray ingin mengejar Mika yang berlari menjauh. "Mika tunggu!" Mika berhenti tepat di depannya sambil melempar senyuman. "Jangan pergi Mika. Jangan tinggalin aku." "Aku ada disini Ray. Sangat dekat, aku selalu ada di samping kamu." "Mika..." Tiba-tiba muncul kabut putih menghalangi pandangan Ray saat melihat Mika kembali berlari menjauh. "Mika!" "Mika!" Ray terbangun dari mimpinya, sangat nyata. Kenapa tiba-tiba ia memimpikan Mika. Masih di posisi yang sama, Ray melihat Angel yang masih terlelap bersandar di bahunya. Mungkin sudah hampir 30 menit mereka di posisi ini. Ray kembali menatap wajah Angel di sampingnya. Kening Angel mulai mengerut dengan pelupuk mata yang terus bergerak seakan tak nyaman, tangan yang digenggam Ray mengerat. Mimpi buruknya kembali datang, Ray terus mengamati gadis itu dengan sedikit cemas. Wajah Angel mulai berkeringat, didekatkan telunjuk kanannya menyentuh kening  Angel mencoba memberi satu impuls yang mungkin bisa menenangkannya. Perlahan mata Angel meredup disertai tangan Angel yang melemas, ternyata cara yang ia lakukan berhasil. Angel kembali tenang. "Apa sebenarnya mimpi gadis ini ?" Tangan Ray tanpa sadar menyentuh pipi Angel untuk menyeka air mata dari pelupuk mata gadis itu, ia menangis dalam tidur. Kehangatan jemari keduanya yang menyatu menyusupi kalbu, ada getaran aneh dari diri mereka. Ray terus memandang matanya dengan tajam namun menyimpan satu isyarat, seolah ia juga ingin merasakan apa yang dirasakan gadis ini, apa mimpinya begitu menyakitkan? *** Di pagi harinya, seperti biasa sebelum berangkat ke sekolah, mereka bertiga terlebih dahulu sarapan dan anehnya Ray mulai terbiasa dengan kehadiran Angel diantara mereka, terlihat ia begitu tenang dan tak memperdebatkan masalah seperti hari-hari sebelumnya. "Tumben, lo bisa bangun lebih awal. Biasanya kan setiap kali lo bangun harus ada dua orang menangis di rumah ini." Sindir Julian menatap ke arah Ray. "Yah, gue bangun lebih awal itu hal yang bagus kan. Lo nggak suka?" sanggah Ray. Julian hanya terkekeh dan meneruskan sarapan paginya. Tatapan Ray mulai tertuju pada gadis di sebelah Julian, siapa lagi kalau bukan Angel. Diam-diam Ray mencuri senyum saat menatapnya. "Oh ya, tadi malam gue denger ada yang nangis. Kalian dengar nggak?" tanya Julian pada keduanya yang kini berubah jadi canggung. "Nangis, siapa?" elak Ray pura-pura tak tahu. "Lo nggak dengar?" "Mungkin mimpi lo kali, makanya kalau tidur itu baca doa dulu, biar nggak mimpi buruk." Sela Ray telah menyelesaikan sarapan paginya. "Gue udah selesai, gue duluan ya!" Julian menautkan kedua alis bingung melihat sikap aneh Ray di pagi ini. "Angel, tadi malam kamu dengar nggak?" "E-enggak...mungkin karena terlalu nyenyak tidur, aku sampai nggak kedengaran." Angel juga bertingkah sama anehnya dengan Ray pagi ini. *** Di sekolah Galaxy, tepatnya di lapangan basket Max dan Ray tengah berlatih cukup keras untuk pertandingan basket antar sekolah yang diadakan minggu depan. Max dapat melihat perubahan Ray di pagi ini yang sedikit berbeda, Ray sangat semangat tak seperti biasanya. "Kayaknya hari ini lo semangat banget?" tanya Max heran. "Sebentar lagikan ada pertandingan basket, jadi gue harus serius dong." "Kenapa?" Ray mulai menghentikan latihannya saat Max menatapnya curiga. "Tadi pagi, lo salah minum obat ya? " sindir Max menyerngit heran. " Kenapa lo jadi sangat semangat soal pertandingan?" "Jadi menurut lo, gue cuma bisa main-main. Gue juga bisa serius kalau gue mau." Ray kembali melempar bola itu dan masuk dengan tepat di ring basket. ..... "Lo serius? Ah, pasti lo becanda." Kejut Brian tak percaya dengan omongan Max sambil sesekali menyeruput jus jeruk di depan. Saat ini keduanya berada di kantin sekolah. "Gue serius, Ray berubah. Dia semangat banget tadi pagi." Tukas Max. "Bentar. Pasti ada yang nggak beres, jangan-jangan dia bukan Ray?" PLAK... Sebuah tangan menjitak kepala Brian dengan cukup keras hingga membuat Brian meringis kesakitan sambil mendongak mencari tahu dalang dari pukulan maut tak bertanggung jawab itu. "Ray!" Ray muncul tanpa rasa bersalah dan langsung bergabung diantara mereka. "Apa yang kalian omongin?" "Sakit tahu!!" Brian mengernyih kesal. "Enggak ada apa-apa." balas Max santai. "JULIAN!" teriak seorang gadis berbando merah muda tengah mengejar Julian dari jauh. Queen muncul dan langsung bergelayut manja di lengan kiri Julian. " Kita makan yuk!" "Aku nggak bisa, aku ada urusan!" tolak Julian mencoba melepas tangan Queen yang menempel dan membuatnya risih. "Julian!" dengan manjanya Queen mengekori kemana saja Julian pergi. Brian dan Max yang melihat mereka hanya diam tanpa berekpresi sedikit pun. "Itu cewek nempel mulu kaya prangko sama Julian." Sela Brian asal. "Lo iri? " sindir Max. "Enak aja, Queen itu bukan tipe gue... tipe gue itu..." "UDAH TAHU..." sanggah keduanya serempak. "Gue belum selesai ngomong." "Kalau lo mau ketemu sama Shila, lo pergi aja ke ruang musik. Pasti dia ada disana." "Pengennya sih gitu. Tapi..." "Wohh bebeb Shila datang!" kejut Brian melihat kedatangan Shila bersama Angel berbarengan masuk ke kantin. "Tuhkan dia mulai lagi!" desah Max hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap salah satu temannya. Segera saat Shila dan Angel masuk dan memesan makanan, Brian muncul diantara mereka. "Hai bebeb Shila." Dengan kerlingan mata ia mulai menggoda Shila di hadapan Angel. "Apaan sih lo, mata lo sakit?" Suara gelak tawa terdengar dari belakang tepat di meja tempat Ray dan Max saat ini berada. "Yah, Shila...jangan gitu dong." Brian mulai cemberut. "Minggir, gue mau lewat!" ketus Shila dengan membawa nampan berisi makanan. Brian mempersilahkan kedua gadis itu lewat dan memilih tempat duduk. Namun tiba-tiba Brian langsung mendekat dan duduk di samping Shila sambil mengulas senyuman. "Lo kenapa sih, ngelihatin gue kaya gitu?" Shila sedikit risih saat Brian terus menatapnya. "Hari ini kamu cantik banget Shila." Shila tersentak kaget dan ingin muntah saja mendengar ucapan Brian yang terus aja berusaha menggodanya. Mungkin lebih tepatnya sejak mereka masuk di tahun ajaran baru, saat itulah Brian yang terkenal blak-blakan mulai menaruh hati dengan Shila. Sementara Shila sendiri dikenal judes dan ketus pada orang. Namun hal itu tak menyulitkan Brian untuk terus mendekatinya, walau ditolak berkali-kali. "Udah deh Brian. Mendingan lo balik ke temen-temen lo, dan jangan ganggu gue sama Angel disini." Ketus Shila mengusir secara halus. Angel sendiri hanya terkekeh melihat keduanya yang tak pernah akur walau mereka berada satu tim, Angel juga heran apa yang salah dengan Brian, selain tampan sikap Brian juga ramah pada siapapun. Diam-diam  Ray yang duduk tak jauh dari mereka tersenyum ke arah Angel saat melihat Angel tersenyum. Manis, itulah gambarannya saat ini. .... Di lain tempat, Julian yang tengah bermain basket bersama anak-anak yang lain tampak begitu bersemangat. Queen yang selalu mengekori setiap kemanapun Julian pergi menyorakinya dari balik penonton. "Semangat my prince!" Awalnya Julian terlihat sangat bersemangat, namun di tengah-tengah permainan. Ia mulai kelelahan untuk mengejar bola, ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya, suara sorakan dari para gadis-gadis yang menonton juga menambah keramaian di lapangan basket saat ini. "Ih, Julian ganteng banget." "Aduh bikin melting deh." "Senyumannya astagah..." "Julian...Julian!" suara sorakan menggema diantara penonton yang kebanyakan para gadis yang sebenarnya hanya ingin melihat Julian bermain basket. Queen mendengus kesal, bisa-bisanya mereka meneriaki nama Julian di belakangnya. Mereka nggak tahu apa kalau Julian adalah miliknya. Julian is My prince—dan nggak ada satupun yang bisa merebut darinya. Queen dengan gaya manjanya mengambil botol minuman untuk diberikan pada Julian selesai bermain basket. "Ini minumannya my prince!" dengan sedikit bergelayut manja di lengan Julian, Queen tersenyum seakan meledek para gadis yang meneriaki tadi. Julian meneguk minuman itu dengan cepat. Pandangannya teralihkan saat melihat dari jauh sosok Angel bersama Shila berjalan beriringan, Julian tersenyum akhirnya Angel berhasil mendapatkan teman di sekolah ini. Namun sedetik kemudian ia melihat Ray, Brian, dan Max mengekori mereka dari belakang. "Ray!" Ia jadi ingat kejadian waktu malam tadi di rumah, saat ia mendengar suara tangisan yang ia ketahui dari balkon atas tempat kamar Angel. Julian bergegas menuju ke kamar Angel. Ia melihat Angel menangis disana. "Angel!" Namun saat langkah ini ingin mendekatinya. Sosok lain justru lebih dulu mendekat dan langsung mendapat pelukan tepat di hadapannya. "Ray!" Segera Julian bersembunyi di balik tembok dan enggan untuk mendekat dengan perasaan kecewa. Kenapa harus Ray yang menolong Angel saat ia menangis. Kenapa bukan dia? Kenapa harus Ray yang lebih dulu menemukan Angel? Pertanyaan demi pertanyaan merayap di kepalanya. Salahkah ia tak rela saat melihat Angel memeluk Ray, bukan dirinya. ..... Namun di balik itu semua, ia juga tersenyum melihat Angel hari ini sangat ceria. Sangat berbeda waktu malam kemarin. "Aku seneng lihat kamu tersenyum lagi, Angel!" Sepulang sekolah, Angel yang seharusnya pulang bersama Julian kali ini harus pulang sendirian karena Julian tiba-tiba mendapat panggilan dari Papanya untuk menghadiri rapat perusahaan secara mendadak. Bahkan Julian baru bisa menghubunginya lewat handphone. "Angel maaf ya, hari ini aku nggak bisa pulang bareng kamu." Terlihat Julian dari balik telepon  kecewa. "Nggak papa Julian. Aku bisa naik bus atau ojek nanti. Lagian nanti aku mau mampir dulu ke toko buku." Angel terlihat begitu santai. "Aku suruh pak Aji nemenin ya?" "Enggak usah Julian. Aku bisa kesana sendiri." "Atau gini aja, aku suruh Ray nemenin kamu. Bentar aku telpon Ray dulu..." "Julian nggak usah." Telepon Julian terputus. Angel menghela napas kasar. Meminta Ray menemaninya? Yang benar saja. Pasti jawabannya adalah. "Enak aja, lo pikir gue pembantu lo?" Angel kembali mendengus, pasti itu jawaban Ray. Nggak salah lagi, cowok kasar dan nyebelin itu mana mungkin mau mau menemaninya. Mungkin menunggu pisang ambon berubah jadi pisang gepok kali ya, baru deh makhluk kasar dan nyebelin itu berubah dari Pangeran iblis hitam menjadi Pangeran berkuda putih. .... "Ayolah Ray, masa lo nggak kasian apa sama Angel. Dia pulang sendiri lho Ray." Bujuk Julian memohon pada saudaranya itu. "Kenapa harus gue, sopir di rumah kan banyak lo tinggal nyuruh pak Aji atau pak Ari nemenin Angel. Kenapa harus gue?" ketus Ray menolak. "Ayolah Ray...lo yang bisa gue percaya kali ini." Ray mendengus kesal, memang selama ini ia selalu menuruti keinginan saudaranya apapun itu—tapi ini berbeda, mana mungkin ia harus menemani Angel berkeliling dengan tumbukan rak buku yang justru akan membuatnya bosan. "Pokoknya gue nggak bisa." Tut...tut...tut... Telepon terputus secara sepihak dari Ray yang langsung mematikan handphonenya. "Tuh anak, selalu cari masalah...."  Ray mendengus kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN