Chapter 11 : Dia bukan Mika

2042 Kata
"Aku hanya ingat, harus menjaganya jangan sampai hilang." ... Ray duduk di sofa kamar sambil memandang kotak musik itu kembali, menatapnya dengan sendu mengingat bahwa pemilik kotak musik ini sudah pergi untuk selamanya. Ia menghembuskan napas panjang sejenak, mungkin sudah waktunya ia memang harus melupakan sosok Mika dalam dirinya. "Dia tidak akan kembali Ray, lo harus tahu itu." Tak berlangsung beberapa menit, salah satu pelayan masuk ke kamar membawakan jus pesanannnya lantas meletakkan di meja tempat Ray duduk saat ini. "Ini jusnya Tuan." Ujarnya sembari meletakkan di meja. Sekilas pelayan itu memandang Ray yang terus memandangi kotak musik itu, pelayan itu tahu betul benda milik Tuannya yang sangat di jaga, pemberian dari sahabat masa kecil Ray. "Tuan masih memikirkan masa lalu ya? Sangat sulit memang untuk melupakan nona Mika." Suara pelayan itu berucap, namun Ray tak terlalu menanggapinya. "Ini satu-satunya kenangan Mika sebelum pergi bik." Kata Ray sedih. "Tuan yang sabar ya, mungkin tuan harus sedikit membuka hati untuk orang lain, misalnya nona Angel, dia sangat baik." Saran pelayan sesaat kemudian. "Jangan samain Angel dengan Mika bik, mereka berbeda." Elak Ray. "Tapi terkadang saya melihat tingkah laku nona Angel mirip dengan nona Mika waktu kecil." Ray menyerngit heran "Maksud bibi?" "Saya pernah melihat non Angel mencampur jus dengan s**u. Sangat mirip dengan kebiasaan nona Mika dulu." Ujarnya. "Jus dan s**u?" tanya Ray heran. "Saya permisi dulu Tuan." Pelayan lalu keluar dari kamar Ray. "Angel juga suka mencampur jus dengan s**u?" *** Diam-diam Ray pergi ke dapur, tak salah lagi kalau ternyata Angel ada di dalam. Ia melihat gadis itu tengah membuat jus jeruk yang ia campur dengan s**u putih. Benar apa yang dikatakan pelayan tadi, kebiasaan yang sama tapi bukan berarti mereka orang yang sama. Ray terus mengamatinya dari jauh, sekilas mungkin tingkah laku Angel mirip dengan Mika saat berkunjung di rumahnya dulu. "Ray sini!" panggil Mika saat itu. Mika membawa dua gelas jus berwarna orange di kedua tangannya. " Itu apa?" "Jus." "Kok pakai s**u?" Ray heran. "Karena aku suka, kamu mau coba?" "Enggak ah, pasti nggak enak." "Ya udah kalau gitu." Ray sangat ingat hari dimana saat itu Mika berkunjung ke rumahnya, ia melihat Mika membuat minuman untuk mereka berdua. Jus jeruk yang dicampur dengan s**u. Kata Mika ini enak tapi menurutnya sedikit membuatnya mual saat dicampur dengan s**u. Ray kembali melihat kearah Angel di sana yang tengah membuat jus yang sama dengan Mika dulu. Ia bahkan melihat sosok yang di depan adalah Mika yang ada di diri Angel. "Ray... Ray!" Ray tersadar saat ada suara memanggilnya. Angel kini berdiri di hadapannya dengan membawa jus yang dibuatnya tadi. "Lo ngapain ada di dapur?" tanya Angel heran. "Gue...gue mau buat kopi, iya kopi." Jawab Ray sedikit gugup. Angel hanya menautkan kedua alis bingung dengan sikap Ray hari ini. "Tumben. Biasanya lo nyuruh pelayan buat bikini kopi." Cibirnya "Memangnya kenapa kalau gue buat sendiri. Lo sendiri ngapain di dapur?" "Tidur. Lo nggak lihat apa gue bawa minuman---yang pasti gue buat minumanlah." Angel nyolot. "Jus jeruk campur s**u, apa enaknya?" cibir balik Ray. "Kok lo tahu ini jus jeruk yang gue campur s**u?" Angel mengernyit heran. "Yah, gue nebak aja." Angel memincingkan mata melihat gelagat Ray yang aneh. "Mencurigakan." "Oh ya, gue bikin dua gelas. Kalau mau ambil aja di meja." Tawar Angel. "Nggak ah, pasti nggak enak." "Ya udah kalau gitu." Deg... Ucapan tadi, sama persis dengan ucapan yang pernah diucapkan Mika padanya. Tiba-tiba saja sebelum Angel keluar dari dapur, terlebih dahulu Ray mencegahnya. "Tunggu!" Angel menatap Ray bingung. Ia melihat Ray menggenggam pergelangan tangannya. "Kata-kata itu?" Angel menyerngit. " kata-kata apa? Kalau lo nggak mau, ya udah." "Kata-kata yang pernah diucapkan Mika." tanpa sadar Ray menyebut nama Mika di depannya. "Mika? Siapa Mika?" Ray melepaskan tangan Angel dengan sedikit canggung. " Lo juga nggak akan tahu." Angel nyengir melihat raut wajah Ray yang telihat malu saat membicarakan Mika. "Pacar lo ya?" tebak Angel. "Bu-bukan." "Terus siapa? udah deh ngaku aja, gue nggak akan kasih tahu siapa-siapa kok." Tukas Angel memegang janjinya. "GUE BILANG BUKAN!" bentak Ray marah membuat Angel sontak kaget. " Ya udah nggak usah marah-marah juga kali. Gue kan nanyanya baik-baik." sanggah Angel kesal.. "Sorry, gue kebawa emosi." Ray merasa bersalah tidak bisa mengontrol emosinya saat seseorang membicarakan tentang Mika di hadapannya. Angel yang awalnya kesal mulai luluh saat melihat Ray yang menyesal. "Lo lagi kesel ya? Ikut gue yuk!" ajak Angel menarik tangan Ray, dan tanpa sadar Ray mengikuti kemauan ajakan Angel padanya. Mereka menuju ke belakang rumah tepat di taman. "Lo ngapain bawa gue kesini. Malam –malam banyak nyamuk tahu." ketus Ray. "Liat keatas!" pinta Angel. "Awas kalau lo ngerjain gue." "Sensi banget sih lo, mau dibantuin juga." Ray menengadah melihat langit malam bertabur bintang hari ini. Berhubung cuaca juga sedang cerah jadi keduanya dapat melihat keindahan bintang dan bulan di malam hari. Sangat indah. Ray mulai merasa tenang saat melihat bintang-bintang itu. "Gimana?" "Indah." Ray tersenyum simpul. Angel tersenyum puas. "Lo tahu, setiap kali gue nggak bisa tidur. Gue akan datang kesini dan lihat bintang." Ray menoleh ke arah Angel yang tersenyum melihat langit malam. Ia pun ikut tersenyum, seakan semua kekesalan tadi hilang begitu saja dan tanpa sadar Ray ikut tersenyum ke arahnya. " Merasa baikan?" Angel menoleh ke arah Ray, sontak saja Ray berpaling ke arah lain. "Gue nggak ngerasain apa-apa." ketusnya. Angel mendecak kesal. " ya udah kalau gitu lo pergi tidur sana, gue nggak mau lihat lo mecat pembantu setiap hari. Lo nggak kasian apa sama mereka, mereka juga punya keluarga, kalau lo di posisi mereka, lo pasti juga akan ngerasain gimana susahnya cari uang." Ungkap Angel panjang lebar. "Lo ceramahin gue? Mendingan lo pikirin tuh hutang lo sama gue." Ray kembali mengingatkan hutang yang harus dibayar Angel padanya. "Lo masih mau nagih gue?" "Hutang tetap hutang. Dan lo harus bayar, gue nggak mau tahu." ketus Ray. Angel mencebik kesal, kesalahan membawa Ray ke sini kalau pada akhirnya ia akan kembali ditagih hutang. Angel hanya bisa mengelus d**a sabar menanggapi sikap menyebalkan laki-laki di sebelahnya yang sangat keterlaluan ini. "Apa lo nggak bisa ngasih gue keringanan buat bayar hutang gue?"Angel sedikit memohon. Ray terdiam sambil berpikir sejenak. "Ada." "Oh ya, apa?" Angel antusias. "Akan gue pikirkan nanti, yang jelas gue nggak akan sembarangan ngasih keringanan sama orang. Dan lo harus ingat satu hal, gue bisa aja berubah pikiran nggak peduli lo dibela sama Julian atau Papah." Seringai Ray membuat Angel menelan ludahnya sendiri. Ray kembali masuk ke dalam meninggalkan Angel yang masih berdiri di sana. ia harus kembali memikirkan keringanan apa yang bisa diberikan pada Angel---mungkin sedikit bermain-main dengan gadis itu akan sangat menarik, dan hari ini ia juga harus berterimakasih pada Angel karena membuat perasaanya kembali tenang. " Thank Angel." ..... Suatu hari di minggu pagi, Angel yang merasa bosan mencoba berkeliling di sekitar rumah yang begitu luas mulai dari taman sampai kolam renang paling belakang. Dari jauh Angel melihat pak Aji selaku sopir pribadi di rumah itu tengah mencuci mobil sambil bersenandung ria menyuarakan nyanyian dangdut. "Begadang jangan begadang... kalau tiada akhirnya, begadang boleh saja... kalau ada..." "Pak Aji." Angel muncul mendekat dan hampir mengejutkannya. "Eh non Angel. Ngagetin bapak aja untung bapak nggak jantungan, ada apa non?" kejut pak Aji. "Enggak ada apa-apa kok, cuman lagi bosan aja. Semua orang di rumah ini pada kemana ya? Inikah hari minggu." "Setiap minggu tuan Stefan sama tuan Julian pergi ke rumah utama keluarga Raveno." ujar sopir itu.pak Aji. "Rumah utama?" "Rumah kediaman nyonya besar Raveno." "Jadi mereka bertiga pergi ya sekarang, bakal tambah sepi dong." "Lho! tuan Ray kan ada di rumah non." "Ray nggak ikut? Bukannya itu acara keluarga?" "Sejak dulu tuan Ray memang tidak pernah pergi ke rumah utama keluarga Raveno. Nyonya besar melarang kedatangan tuan Ray." Angel menyerngit heran. " Nyonya besar melarang?" "Nenek dari tuan Ray dan tuan Julian. Orangnya sangat keras dan disiplin." "Tapikan Ray juga cucunya sendiri, kenapa dilarang?" Angel bertanya-tanya. "Yah, saya juga nggak terlalu tahu sih non, mungkin karena tuan Ray bukan cucu sah keluarga Raveno." Ujar pak Aji. "Maksud pak Aji?" "Non kayaknya suka ya sama tuan Ray, dari tadi ngomongin dia terus." Sindir pak Aji terkekeh. "Apaan sih pak, kok malah ganti topik." " Iya maaf deh non, saya becanda. Tuan Ray memang cucu keluarga Raveno tapi bukan dari nyonya Malika, tapi dari nyonya Lara." Ungkap pak Aji semakin membuat Angel bertambah bingung. Siapa Lara? "Nyonya Lara? Siapa nyonya Lara?" tanyanya kembali. "Nyonya Lara itu istri kedua tuan Stefan, dan saat ini nyonya Lara ada di Singapura. " "Jadi Ray sama Julian itu bukan saudara kembar?" Pak Aji terkekeh. " Kembar dari mana non, wajah mereka saja jelas berbeda. Dari kecil memang tuan Ray dan tuan Julian sering bermain bersama, jadi banyak yang mengira mereka itu saudara kembar." Jelas pak Aji. "Jadi mereka bukan saudara kembar?" " Kasian tuan Ray, sejak kepergian nona Mika dia sangat kesepian." "Mika?" Angel kembali ingat Ray pernah menyebut nama Mika di depannya, namun Ray tak mengaku siapa Mika sebenarnya. "Oh ya pak, memang siapa Mika?" tanya Angel penasaran. Pak Aji terdiam sejenak dan berhenti untuk mencuci mobil. " Maaf non, seluruh orang di rumah ini dilarang membicarakan soal nona Mika di depan tuan Ray. Nanti tuan Ray bisa marah." "Tapikan Ray nggak ada disini." "Tapi non jangan bilang siapa-siapa ya, nona Mika itu pacarnya tuan Ray." Ungkap pak Aji sambil melirihkan suaranya. "Mika pacarnya Ray?" "Waktu kecil, mereka sering main sama-sama. Nona Mika juga sering menasehati tuan Ray kalau lagi marah, nona Mika satu-satunya gadis yang berani berhadapan dengna tuan Ray." "Lalu sekarang Mika dimana?" "Nona Mika...sepuluh tahun yang lalu, nona Mika dan keluarganya pergi ke luar negeri, dan saat itu juga pesawat yang ditumpanginya jatuh. Sebagian penumpang dinyatakan tewas termasuk kedua orang tua nona Mika, tapi saya juga dengar ada beberapa yang selamat dan hilang." "Pesawat?" Angel merasakan sakit di kepalanya, seakan ada ingatan yang masuk secara paksa. "Tuan Ray sangat syok mendengarnya, sejak saat itu tuan Ray berubah jadi pribadi yang dingin dan sewenang-wenang." Lanjutnya. Api, pesawat terbang, dan ketakutan semua muncul begitu saja. Angel tanpa sadar terus memegangi kepalanya merasakan bayangan itu masuk secara bersamaan. "Non...non Angel nggak papa?" "Nggak papa kok pak, Cuma sedikit pusing mendengar cerita tadi." "Kalau begitu nona istirahat saja di kamar."pinta pak Aji terlihat cemas. "Iya pak, " Angel kembali ke dalam dan menuju ke kamar untuk istirahat. Angel kembali teringat akan mimpi buruk yang selama ini ia alami, tentang sosok anak kecil yang terjebak di dalam ruangan penuh api, dan anak kecil itu menangis. " Pesawat terbang...Api." Tok..tok..tok... Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Angel, kamu di dalam? Angel!"panggil Julian dari luar. Angel bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ke pintu dan membukakan pintu. "Angel!" "Julian!" "Kamu udah makan? Kita makan yuk?" ajak Julian. "Kamu udah pulang?" tanya Angel kemudian. "Iya, aku buru-buru pulang soalnya udah bosan disana lebih enak di rumah bisa ketemu sama kamu." Celoteh Julian tersenyum. Angel hanya membalas dengan senyuman yang sama. Julian dapat merasakan wajah Angel sedikit pucat dan lesu saat ini. " Angel wajah kamu pucet banget. Kamu sakit?" Julian mulai panik. "Aku nggak papa kok." "Aku panggilin Dokter ya?" "Nggak usah Julian, mungkin aku kecapekan." "Kamu serius nggak papa?" Julian tak yakin. Angel hanya mengangguk mengiyakan. "Yaudah, kamu istirahat aja dulu. Kalau ada apa-apa langsung panggil aku ya, atau pelayan disini." Pinta Julian memegang pipi Angel lembut. Angel hanya mengangguk. Malam harinya. Angel yang tengah tertidur memimpikan kejadian yang sama. Seorang anak kecil yang terjebak dalam api, anak itu terus menangis memanggil kedua orang tuanya. Wajah Angel bercucuran keringat serta tangan dan kakinya terus saja bergerak tak nyaman . "Mama..." Mata Angel langsung terbuka dengan napas yang begitu cepat seperti baru saja lari keliling lapangan, jantungnya berdegub kencang dan sangat cepat. Angel terus memegangi dadanya yang mulai sakit. Ia lalu bangkit dan turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Angel melangkah keluar menuju ke balkon atas dekat kursi panjang lantas duduk di sana sambil menekuk kedua kakinya dan terisak lirih. "Hiks...Hiks..." Ray yang tak sengaja lewat mendengar suara tangisan di tengah malam. "Siapa yang nangis tengah malam begini?" tanyanya. Suasana rumah yang begitu sepi dan hanya sedikit pencahayaan di setiap ruangan. Ray yang baru saja dari ruang tamu saat berjalan menuju kamar, ia mendengar suara orang menangis tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Suara itu terdengar dari balkon atas, suara gadis menangis tengah malam. Ray yang merasa penasaran mulai mendekat ke arah sumber suara. "Ayah, Angel takut..." "Angel?" gumam Ray melihat gadis yang menangis adalah Angel. "Angel mau pulang!" isak Angel dengan deraian air mata. Ray mulai mendekatinya. " Angel?" panggil Ray membuat Angel tersentak kaget dengan kedatangan orang lain disana. Tanpa berpikir apapun, Angel menurunkan kakinya ke lantai, ia bangkit dan menghampiri sosok yang muncul di depannya. "Ray!" Angel memeluk Ray di tempat, sangat erat dengan tubuh gemetar hebat. Sempat Ray berpikir apa yang terjadi dengan gadis ini? Apa ia mengalami mimpi buruk lagi atau perasaan lain—dan anehnya Ray saat ini tak berkutik sedikipun, tubuhnya perlahan lemas membiarkan tubuh gadis ini mendominasi. Ia tak melawan dan justru membiarkan gadis ini menyentuh tubuhnya, lebih tepat memeluknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN