Chapter 10 : Perasaan ini

1651 Kata
"Apa anda mengenal anak ini?" tanya Yudha memastikannya kembali. Ardiandra terdiam sejenak, sedetik kemudian wajahnya berubah jadi kecemasan. "Saya tanya lagi, apa anda mengenal anak ini?" tak kunjung mendapat jawaban, Yudha mulai bertanya dengan suara lebih tegas dan mengintimidasi. "TIDAK... saya tidak mengenalnya" sanggah Ardiandra. Yudha menatap laki-laki di depannya seperti menyimpan sebuah kebohongan, bisa dilihat dari wajahnya yang begitu takut apalagi gaya bicara yang terkesan memaksa dan ketakutan. "CEPAT GELEDAH TEMPAT INI!!"perintah Yudha pada anak buahnya. Seketika tempat tinggal Ardiandra mulai digeledah, mulai dari kamar, lemari, laci dan apapun yang bisa dijadikan bukti. Sementara Ardiandra sendiri mulai panik saat tempat tinggalnya digeledah secara paksa oleh orang yang sama sekali tak dikenalnya. "Apa yang kalian lakukan? " protes Ardiandra mulai emosi. " Saya bisa laporkan kalian ke Polisi sekarang juga." ancam Ardiandra marah. "Saya juga bisa melaporkan anda untuk kasus penculikan seorang anak kecil." ancam balik Yudha dengan tegas."Cepattt !!" perintahnya. Ardiandra sendiri kini hanya pasrah, seluruh barang di rumahnya digeledah tanpa sisa---semuanya kacau, dan terlihat anak buah yang berjumlah 3 orang itu cukup terampil untuk mencerai-beraikan semua yang ada di rumahnya, namun hasilnya nihil. "Saya tidak menemukan apa apa ketua!" salah satu anak buah itu melapor pada Yudha. "Pasti ada petunjuk lain, cepat cari , CEPAT!" perintah Yudha lebih tegas. "Saya bilang anak itu tidak ada disini!" teriak Ardiandra emosi. "Lalu dimana anak itu sekarang? cepat katakan!" Yudha kembali memancing. "Saya tidak tahu" jawaban Ardiandra membuat Yudha semakin murka. Ia lalu mendekati Ardian untuk beberapa langkah sembari menatap wajah bohong yang ditunjukkan Ardiandra padanya. "Anda tahu, anak kecil itu adalah Cucu dari Presdir Direktur kami." Ujar Yudha menatap tajam. "Wiliam Edison." Lanjutnya. "Anda pasti mengenalnya bukan, jadi saya mohon cepat katakan dimana anak itu sekarang." gertak Yudha emosi. Ardiandra hanya bisa terdiam, wajahnya pucat pasi, ia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. "CEPAT KATAKANN!" kesabaran Yudha sudah habis melihat Ardiandra terus saja bungkam. "Ketua, saya menemukan sebuah foto." teriakan salah satu anak buah dari dalam kamar dengan membawa bingkai foto yang bisa dijadikan petunjuk lantas memberikannya pada Yudha. Bingkai foto itu menunjukkan sebuah foto dua anak gadis, yang satu memakai kursi roda sementara anak gadis disebelahnya tidak---kedua anak gadis itu sama-sama berambut panjang. "Mereka anak saya." Kata Ardiandra sesaat setelah melihat Yudha memandangi foto kedua anaknya. "Ketua, sepertinya anak ini sangat mirip dengan nona Mika." sahut anak buah itu mencurigai sesuatu dengan mengamati foto tersebut. Yudha kembali mengamati lebih saksama, sekilas mungkin kedua anak keci ini sangat mirip seperti anak kembar, namun ada juga sedikit perbedaan dari kedua anak dalam foto tersebut. "Siapa mereka?" tanya Yudha memperlihatkan foto itu padanya. " Mereka anak-anakku. Jangan menyakitinya." jawab Ardiandra mulai marah. Yudha masih memperhatikan foto dari kedua anak kecil itu kemudian membandingkan dengan foto yang ia bawa tadi. Mirip. Tidak salah lagi. 10 tahun yang lalu. Anak yang berhasil mereka selamatkan dan koma selama 2 bulan akhirnya kembali sadar, namun identitas dari siapa ia sebenarnya tak diketahui, dan sejak saat itu Ardiandra mulai mengangkatkanya sebagai anak yang langsung disetujui oleh anaknya Angel karena ia memang sangat menginginkan seorang adik. Setiap hari Angel selalu bermain dengan anak itu, mengajaknya pergi, mengajarinya bermain musik. Awalnya anak kecil itu memang masih terlihat bingung, namun perlahan karena Angel terus mengajaknya berbicara, anak itu mulai berteman dengannya. Angel juga bilang kalau sekarang mereka adalah saudara---dan anak kecil itu sangat menyukainya. Namun kebahagiaan yang begitu singkat itu direnggut karena sebuah kecelakaan yang menimpa keduanya dalam sekejap mata. disaat kedua anak kecil itu berlarian, Angel mengejar anak itu hingga ke jalan raya. Salah satu dari mereka tak menyadari sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju kearahnya dan sepertinya pengendara mobil itu juga tak menyadari ada dua anak kecil berlarian. "Ayoo kak Angel, tangkap aku!" teriak anak itu menggoda kakaknya sambil terus berlarian. Angel yang masih tertinggal jauh ke belakang berhenti untuk beberapa saat karena kelelahan tepat di tengah jalan raya. Tanpa disadari Angel, sebuah mobil melaju kearahnya. Semua terjadi begitu cepat. Boneka itu melayang ke udara, menyisakan sedikit bagian yang robek diperut bercampur dengan cipratan darah segar penuh kesedihan. "Kak Angel! " Anak kecil itu berlarian menuju kakaknya yang tergeletak dengan genangan darah yang membasahi tanah. Ia menangis sejadi-jadinya, terisak dalam kepedihan. Ia mencoba mengguncang-guncang tubuh kakaknya namun sia-sia, tak ada pergerakan sama sekali, anak itu kembali menangis sambil menjerit. "KAK ANGEL!"teriakannya tak mampu membuat kakaknya sadar kembali, sampai beberapa orang datang berkumpul merubungi mereka, anak kecil itu terus menangis. Beruntung, Angel selamat setelah dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan pertolongan pertama, namun setelah kecelakaan itu, Dokter memvonis kaki Angel lumpuh. Foto itu diambil setelah kejadian kecelakaan itu. ..... "Katakan, dimana anak ini sekarang!" tanya Yudha menunjuk foto anak kecil yang tidak memakai kursi roda. "Katakan dan kami tidak akan melakukan apapun." "Di-dia...???" Ardiandra tampak ragu. "Dia dimana sekarang?" Yudha kembali bertanya. ..... "Angel!" sapa Julian saat melihat Angel duduk di halaman belakang. Ia pun bergabung dengan ikut duduk juga disebelah Angel. "Kamu ngapain ada di luar?" "Julian?" "Nggak papa kok, cuman tiba-tiba aku jadi rindu sama Ayah. " ujar Angel. "Ayah?" Julian bertanya. "Aku takut sesuatu yang buruk terjadi sama Ayah." potong Angel. " Kamu tenang aja, Ayah kamu pasti baik-baik aja kok sekarang." Julian mengulas senyum tipis mencoba menenangkan Angel. Angel tersenyum lega dengan ucapan Julian yang selalu membuatnya tenang. " Makasih Julian!" Tanpa sadar, sepasang mata dengan tatapan sinis mengarah pada mereka berdua dari lantai atas. Tatapan yang mengisyaratkan kebencian. "Makasih Julian, udah mau nerima aku di rumah ini, padahal aku hanya orang asing yang cuman sekedar numpang disini." "Orang asing yang mungkin bisa menjadi orang spesial" ucapan julian tanpa sadar membuat Angel tersenyum simpul. "Kamu jelas beda sama Ray. Kamu itu baik dan juga ramah sama orang. Berbeda sama Ray, dia itu kaya kebalikan kamu, udah egois, kasar, seenaknya sendiri." keluh Angel kesal. "Dia juga nggak suka aku ada disini." "Aku lebih tahu sifat Ray, di luarnya aja dia terlihat kasar dan seenaknya sendiri, tapi sebenarnya dia itu baik, dia hanya pintar menyembunyikan semuanya dan tanpa sadar sikapnya selalu membuat orang lain kesal." Angel malah tertawa. " Baik? Ngeselin ada , pokoknya dia itu sisi lain dari kamu. Kalau aku tuangin dalam cerita dongeng, Ray itu Pangeran hitam dan kamu Pangeran putih. Kamu baik dan Ray jahat, tapi mungkin lebih tepatnya Ray itu seperti iblis hitam deh, pokoknya segala keburukan ada di dia." ujar Angel. "Kamu salah, bukan dia iblis hitamnya." Julian menanggapi ucapan Angel dengan sedikit penolakan dan membuat Angel diam seribu bahasa tak mengerti maksud ucapan Julian padanya. Ray yang sejak tadi terus menatap keduanya perlahan mulai tak menyukai pemandangan yang ia lihat sekarang. Ia mendecih kesal. *** Angel kembali ke kamarnya, kamar Angel bersebelahan tepat dengan kamar Ray, atau bisa dibilang setiap kali Angel menuju ke kamarnya, ia terlebih dahulu melewati kamar Ray--- jadi itulah alasan kenapa ia dulu pernah salah masuk ke kamar Ray, dan kali ini ia tak ingin kejadian itu terulang kembali. Saat hendak akan memasuki kamar, terdengar suara memanggil dari belakang. " Angel!" Angel memutar badannya melihat siapa yang tadi memanggilnya, ternyata cowok angkuh itu berdiri di ambang pintu kamarnya sambil menyilangkan kedua tangan di d**a. "Apa?" jawab Angel malas. "Lo ngapain barusan?" " Bukan urusan lo." ketus Angel. " Gue lihat lo ngobrol sama Julian." " Udah tahu pake nanya." Ray berdecak kesal melihat sikap Angel yang tak pernah baik padanya, saat bersama Julian ia justru sangat baik, sok manis--- tapi saat berhadapan dengannya ia berubah jadi menyebalkan. " Eh! Lo nggak lihat ini udah tengah malam, apa ngobrolnya nggak bisa besok aja?" protes Ray kesal. " Lo sendiri, kenapa belum tidur?" Angel balik bertanya justru membuat Ray jadi salah tingkah di hadapannya. "Gu...gue nggak bisa tidur." Ray memincingkan mata menatap lekat dua bola mata Ray sambil mengernyit heran, ia mengurungkan niat untuk kembali masuk ke kamar, justru Angel mulai mendekati Ray dengan tatapan serius. " Apa lo juga punya gangguan tidur sama kaya gue?" tanya Angel serius. " Setiap malam gue sulit untuk bisa tidur." " Lo nggak bisa tidur?" Ray menahan tawa. " Sejak kecil gue punya gangguan tidur." sambung Angel lagi. Ray tertawa. "Kenapa ketawa?" "Gue pikir gangguan jiwa." ledek Ray menahan gelitik di perutnya yang bergemurung. Angel kembali mendecih menatap Ray dengan pandangan kesal. "Aishhh, percuma gue ngomong sama lo, nggak ada manfaatnya." Angel lantas berjalan menuju ke kamarnya. " Mau kemana?" cegah Ray. " Kamar." Ray hanya bisa menatap kepergian Angel yang saat ini kesal padanya, namun tiba-tiba ia mulai tersenyum. Ada sedikit perasaan aneh yang muncul disaat bersama gadis itu untuk beberapa detik. Angel dream's Bayangan mimpi seorang anak kecil terjebak di kobaran api, anak kecil itu menangis dan ketakutan, namun ia tak tahu siapa anak kecil yang menangis dalam kebakaran itu. Angel duduk di tepian ranjang sambil memeluk guling, entah kenapa ia sangat ketakutan setelah mimpi itu, mimpi yang membuatnya merasakan sakit, seakan anak kecil yang terjebak dalam kobaran api itu adalah dirinya. Benarkah itu dirinya?? Pertanyaan yang selalu ia ingin jawab, namun tak satupun memori yang bisa diingat tentang masa lalunya itu. *** Esok harinya, Tok...tokk.. "Masuk !"  Angel perlahan masuk di ruangan tempat kerja om Stefanus. "Om Stefan!"  "Angel... Silahkan masuk!"perintah Stefanus  tersenyum  melihat kedatangan Angel. Angel dengan sedikit canggung masuk ke dalam, ia lalu berjalan menuju ke sofa dan mendudukan bokongnya di salah satu sofa. "Ada perlu apa ya Om memanggil saya?" tanya Angel. Stefanus mengambil sebuah kotak hitam dari dalam lacinya lalu memberikan pada Angel. Angel menerima kotak itu dengan pandangan bingung. "Apa ini Om?" Angel penasaran saat menerima kotak itu. "Buka saja!"Angel membukanya perlahan, sebuah kalung , kalung yang hilang kini telah kembali, Angel tersenyum bahagia melihat kalungnya kembali lagi "Kalung saya, ba-bagaimana om Stefan menemukannya?" "Om menyuruh anak buah Om mencari keberadaan pencopet itu, walau sedikit sulit mencari keberadaan pencopet itu, tapi pada akhirnya berhasil. " jelas Stefan mengulas senyum tipis. Angel tak henti-hentinya memandang kalung dengan mata berbinar, kalung ini adalah kalung yang sangat berharga baginya. "Makasih Om, makasih banyak...Om sudah mau membantu menemukan kalung saya." "Sama-sama Angel, ini sudah jadi kewajiban saya untuk membantu kamu." Angel tersenyum puas, ia kembali memandangi kalungnya, kalung yang dulu sempat hilang karena ulah pencopet, kini kembali ke tangannya, betapa bahagianya ia  mendapatkan kalung itu lagi, walau ia tak ingat siapa yang memberikan kalung itu, tapi benda ini sangat berarti untuknya, ia hanya ingat, harus menjaganya jangan sampai hilang. Hanya itu saja. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN