Ada pagi-pagi tertentu yang tidak menawarkan apa pun selain keberadaan. Pagi itu seperti itu. Tidak istimewa, tidak juga berat. Violet menyadarinya saat ia berdiri di dapur dengan secangkir kopi yang belum disentuh, menatap halaman yang mulai ditumbuhi rumput liar. Ia belum sempat merapikannya, dan untuk pertama kalinya, itu tidak mengganggunya. Ia membiarkan halaman itu tumbuh sebagaimana adanya. Dari ruang tengah terdengar suara Alvaro tertawa, diikuti suara Nadine yang berusaha—dan gagal—membuatnya duduk diam saat mengenakan sepatu. Nayla muncul beberapa detik kemudian, tasnya terlalu besar untuk tubuhnya, wajahnya penuh ekspresi serius yang berlebihan. “Kita terlambat nggak?” tanya Nayla. “Belum,” jawab Violet. “Kita masih punya waktu.” Kalimat itu tidak hanya berlaku untuk pagi

