Tidak semua perubahan datang dengan suara. Sebagian hadir seperti pergeseran cahaya sore—pelan, nyaris tak terasa, tapi ketika Violet menyadarinya, bayangan di dinding sudah berbeda. Ia berdiri di dapur, memotong bawang dengan gerakan otomatis, ketika pikiran itu muncul begitu saja: aku ingin sesuatu. Bukan keinginan besar. Bukan pula ambisi yang memekakkan. Hanya satu kesadaran sederhana yang membuat tangannya berhenti sejenak. Ia ingin. Selama bertahun-tahun, keinginan selalu ia posisikan di urutan terakhir—setelah kewajiban, setelah kompromi, setelah usaha menjaga semuanya tetap utuh. Bahkan ketika ia memilih dirinya sendiri, pilihannya sering dibingkai sebagai kebutuhan bertahan, bukan keinginan yang sah. Kini, keinginan itu muncul tanpa rasa panik. Violet meletakkan pisau, mengh

