Nadine tidak mengalihkan pandang ketika pertanyaan itu meluncur. Ia mengucapkannya tanpa nada menuntut, tanpa sikap bersiap menerima jawaban tertentu. Hanya sebuah pertanyaan yang sudah lama tinggal di tubuhnya, menunggu waktu yang cukup tenang untuk keluar. Violet tidak langsung menjawab. Ia memandang jendela kecil di hadapannya—pantulan cahaya lampu luar yang redup, bayangan rak buku, dan siluet Nadine yang setengah terlihat dari kaca. Dulu, pertanyaan seperti itu akan membuat dadanya mengencang. Kata memilih selalu datang dengan rasa bersalah, seolah apa pun yang diambil pasti melukai sesuatu yang lain. Kini, ia merasakan hal yang berbeda. “Aku tidak merasa harus memilih lagi,” katanya akhirnya. Suaranya tenang, tidak terburu-buru. “Bukan karena semuanya mudah. Tapi karena aku berhe

