Pagi itu, perjalanan mereka ke kebun botani dimulai dengan cara yang hampir terlalu tenang untuk sebuah keluarga yang menyimpan begitu banyak riak kecil di bawah permukaan. Udara masih segar, matahari baru naik, dan cahaya kuning lembut menempel di setiap daun seperti lapisan tipis madu. Violet mengemudi sambil membiarkan jendela sedikit terbuka, membiarkan angin pagi menyelinap masuk. Nayla duduk di kursi belakang, memeluk boneka kelincinya yang sudah dipakaikan selendang pink. “Mama Nadine, kelinciku bilang cuacanya bagus sekali,” ujarnya mantap. Nadine menoleh sambil tersenyum. “Dia pintar sekali soal cuaca.” “Seperti Alvaro,” Nayla menambahkan. Alvaro, yang duduk di sebelahnya dengan buku cuaca terbuka di pangkuan, menegakkan badan. “Tapi dia masih salah soal satu hal.” “Apa?” Nay

