Luka Tembak

905 Kata
Malam belum benar-benar pergi ketika Alea berdiri di depan lemari kecil di sudut kamarnya. Tangannya masih gemetar sisa memori kejar-kejaran tadi, tapi ada sesuatu yang jauh lebih kuat menarik perhatiannya. Bingkai perak di meja. Foto itu tidak pernah berpindah sejak hari pemakaman. Anaya Arexi. Perempuan dengan senyum lembut yang selalu kontras dengan dunia tempat Alea dibesarkan. Rambut panjangnya jatuh anggun, matanya hangat, seperti tidak pernah tahu bagaimana bau darah menempel di keluarga mereka. Alea mengambil bingkai itu. Dalam sekejap, pertahanan yang ia bangun sepanjang malam runtuh begitu saja. Air mata jatuh. “Mama…” suaranya pecah. “Alea capek Mah, gimana kalau Mama ambil Alea dari sini. Papa jahat Mah Alea di jadiin mesin pembunuh sama Papa. Marahin Papa Mah Papa jahat.” Tidak ada yang menjawab. Tidak pernah ada. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah yang selalu menjadi alasan kenapa ia masih bertahan. Anaya pernah berkata padanya, jauh sebelum penyakit itu mengambil nyawanya: “Kalau suatu hari kamu terjebak dalam gelap, jadilah cahaya untuk dirimu sendiri.” Lucu sekali. Bagaimana mungkin anak ketua mafia bisa menjadi cahaya? Alea menempelkan keningnya ke kaca bingkai. “Aku hampir ketahuan hari ini,” bisiknya. “Bara hampir lihat wajahku.” Nama itu terasa seperti luka yang belum sempat sembuh. Jika Mama masih ada, mungkin semua tidak akan serumit ini. BRAK! Pintu kamarnya terbuka mendadak menghantam dinding. Alea refleks berdiri, air matanya langsung ia hapus. Di dunia mereka, kesedihan adalah kemewahan. Fernandes berdiri di ambang pintu, wajahnya tidak lagi setenang tadi di ruang utama. Kini yang ada hanya ketegangan dan api. “Alea. Sekarang,” katanya tegas. “Ada apa?” “Markas diserang.” Semua perasaan pribadi langsung mati. Yang tersisa hanya satu hal yaitu perang. Alea menoleh pada foto mamanya sekali lagi, lalu mencium kaca dingin itu cepat. “Doakan aku,” bisiknya. Tanpa menunggu lagi ia bergerak. Lemari dibuka, pakaian hitam sudah seperti kulit kedua baginya. Celana taktis, atasan gelap, sarung senjata, sepatu boots. Tangannya terlatih, cepat, tanpa ragu. Wajahnya berubah. Bukan anak perempuan yang menangis. Melainkan pewaris tunggal Arexi. Ia keluar kamar dan mendapati Fernandes sudah berjalan cepat di lorong. Para anak buah berlarian, suara komunikasi terdengar saling tumpang tindih. “Berapa banyak?” tanya Alea. “Cukup untuk berpikir mereka berani mati,” jawab ayahnya. Mobil melaju seperti peluru. Sirine internal berbunyi dari alat komunikasi mereka. Alea mengecek pelurunya, memastikan semua siap. Rasa sakit di hatinya menghilang, digantikan adrenalin. Begitu gerbang markas terlihat, Alea langsung tahu situasinya buruk. Asap. Api kecil di beberapa titik. Tubuh yang saling memukul. Mobil bahkan belum berhenti sempurna saat Alea sudah membuka pintu dan turun. Suara tembakan menyambut. DUAR! DUAR! “Ambil posisi!” teriak seseorang. Alea tidak menunggu perintah kedua. Ia bergerak maju. Peluru pertama datang terlalu cepat. DOR! “Ouh sial!” Panas menyambar lengan kirinya. Tubuhnya terdorong sedikit, tapi ia tidak jatuh. Darah mengalir. Anak buah lain mungkin akan mundur. Tapi Alea hanya menggertakkan gigi. Ini resiko lahir sebagai Arexi. Ia mengangkat senjata dengan tangan yang masih kuat dan membalas. DOR! Satu musuh tumbang. Fernandes melihat itu. Dan dunia pria itu berubah merah. Ia memang membesarkan Alea menjadi senjata. Ia melatihnya menembak, bertahan, membunuh jika perlu. Tapi melihat darah putrinya sendiri adalah hal berbeda. “HANYA AKU YANG BOLEH MELUKAINYA!” raungnya. Fernandes turun seperti badai. Tembakannya brutal, tanpa ampun. Satu per satu lawan jatuh bahkan sebelum sempat berteriak. Pria itu tidak lagi terlihat seperti pemimpin. Ia monster yang anaknya disentuh. Alea maju lagi, meski lengan kirinya mulai terasa berat. Ia menendang pintu baja, berlindung, lalu menembak dua orang sekaligus. Napasnya cepat. Fokus. Jangan goyah. Seseorang mencoba menyerangnya dari belakang. Belum sempat Alea bergerak, kepala pria itu sudah pecah lebih dulu oleh peluru Fernandes. “PAPA BILANG TETAP DI BELAKANG!” bentak ayahnya. “Kalau aku di belakang, mereka masuk lebih jauh!” balas Alea keras. Perdebatan itu bahkan terjadi di tengah hujan peluru. Fernandes mengumpat tapi tidak bisa menyangkal. Putrinya terlalu mirip dirinya. Pertarungan berlangsung cepat, kejam, tanpa musik kepahlawanan. Hanya bau mesiu dan darah. Sampai akhirnya tinggal satu. Pria itu berlutut, senjatanya habis. Wajahnya pucat. Alea berjalan mendekat. Lengan kirinya berdarah, tapi matanya tidak goyah. “Kirim salam,” katanya pelan. DOR! Kepala pria itu terhempas. Sunyi. Hanya suara api kecil yang masih menyala. Alea berdiri di sana beberapa detik, memastikan semuanya benar-benar selesai. Lalu rasa sakit datang. Kakinya goyah. Fernandes langsung menangkapnya sebelum jatuh. “Kau terluka,” katanya, nadanya berubah lagi menjadi ayah, bukan pemimpin. “Aku masih hidup,” jawab Alea dingin. Pria itu menatap darah di tangan putrinya, rahangnya mengeras. “Siapa pun yang mengirim mereka akan kubalas.” Alea tahu itu bukan ancaman kosong. Itu janji. Sirene medis internal mulai terdengar. Anak buah mendekat membantu. Namun sebelum Alea dibawa, matanya melihat sekeliling. Markas mereka. Rumah kedua. Kini penuh mayat. Perang benar-benar sudah dimulai. Dan entah kenapa, di tengah bau darah, pikirannya malah melayang pada satu pria keras kepala yang mungkin juga sedang mencari jawabannya sendiri. Dan jika Bara tahu ini terjadi, apa yang akan dia lakukan? Menyelamatkannya? Atau malah memastikan ia jadi target berikutnya. Alea memejamkan mata saat kesadarannya mulai mengabur. Permainan semakin besar. Topeng-topeng akan segera jatuh. Dan ketika itu terjadi, mungkin cinta bukan lagi sesuatu yang bisa menyelamatkan siapa pun. “Apa aku bisa bertahan? Papa apa kau akan diam aja kalau aku mati?” tanya Alea. Papa Fernandes langsung mengepalkan kedua tangannya, “Obati lukamu Alea. jangan macam macam!” Alea langsung tersenyum miring.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN