Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Alea menyetir tanpa benar-benar melihat jalan. Lampu kota lewat seperti garis cahaya yang kabur, sementara di kepalanya hanya ada satu wajah. Bara. Cara pria itu berteriak memerintah. Cara langkahnya yang semakin dekat. Cara suaranya menembus hujan ketika ia berkata berhenti. Ia hampir tertangkap. Hampir. Kalau saja tadi ia terpeleset satu detik lebih lama, kalau saja napasnya goyah, kalau saja Bara berhasil menarik topengnya Alea menekan pedal gas sedikit lebih dalam. “Fokus,” gumamnya pada diri sendiri. “Misi selesai Alea. Lo gak salah ini takdir lo jangan pikirkan cowok yang sekarang jadi musuh lo. Fokus Alea. AARGH!” Tapi hatinya tidak merasa menang. Yang ada justru perasaan aneh. Berat. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di h

