Hujan sudah berhenti sepenuhnya ketika Bara meluncur cepat di kegelapan malam. Mantelnya berkibar mengikuti gerakan angin yang berhembus. Mata tajamnya seolah menembus pekatnya halaman belakang mansion keluarga Arexi. Ia menghela napas, menahan amarah yang kembali mendidih. Alea, gadis yang ia cintai, kini berada di bawah pengawasan ayahnya dan itu membuat darahnya mendidih. Dengan cekatan, Bara memanfaatkan sistem keamanan yang ia kenal dari pengamatannya semalam. Kamera yang seharusnya memantau koridor bawah tanah kini dimanipulasinya, sehingga lintasan pergerakannya nyaris tak terlihat. Ia menekankan kaki di dinding besi, melompat dari satu balok ke balok, hingga akhirnya ia mencapai sel tahanan pribadi. Di depan pintu baja itu, Bara menatap sejenak. Tiga langkah, dua penjaga dua

