Hujan di luar hampir berhenti ketika suara kunci elektronik di pintu kamar Alea berbunyi pelan. Suara kecil itu terasa seperti ledakan di tengah keheningan kamar. Tubuh Alea langsung menegang. Instingnya yang selama ini selalu menyelamatkannya di dunia negosiasi gelap kembali berteriak keras di kepalanya. Bahaya. Alea menoleh cepat ke arah pintu. Bara yang tadi setengah mengantuk juga langsung duduk tegak di ranjang. Matanya yang semula redup sekarang berubah tajam dalam satu detik. “Siapa?” bisiknya. Alea tidak menjawab. Ia sudah tahu. Langkah kaki terdengar di koridor. Berat. Tenang. Terukur. Langkah yang terlalu ia kenal. Papanya yang tak lain adalah Fernandes Arexi. “Damn…” gumam Bara pelan sambil cepat menarik kaosnya yang semalam ia lepas. Alea berdiri di depan ranjang, tubu

