Hujan masih turun deras di luar jendela kamar Alea. Petir sesekali menyambar, memantulkan cahaya putih ke dinding kamar yang gelap. Suara hujan menutup hampir semua suara lain di mansion besar itu. Seolah dunia di luar sana sedang berhenti sebentar. Di ranjang, Alea masih memegang kerah kaos Bara. Napasnya belum stabil. Baru saja beberapa detik lalu Bara membisikkan sesuatu yang membuat pikirannya benar-benar kacau. Bukan karena kata-katanya saja, tapi karena cara laki-laki itu mengatakannya. Pelan. Serak. Seperti menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam. “Bara.” suara Alea terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan. Bara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alea dalam diam. Mata gelapnya seolah sedang membaca setiap perubahan kecil di wajah perempuan itu. “Kalau gue berhen

