Malam merayap turun perlahan di markas Arexi. Mansion keluarga itu berdiri megah di tengah halaman luas, diterangi lampu-lampu temaram yang membuat bayangannya terlihat seperti benteng perang. Penjaga berpatroli dengan jarak terukur, senjata tersembunyi namun siap. Di kamar paling atas, Alea baru saja selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah, jatuh di punggung. Kaos tipis dan celana pendek menggantikan seragam latihan yang keras tadi siang. Tenang. Setidaknya terlihat begitu. Padahal pikirannya masih berputar pada banyak hal ujian besok pagi, wanita gila bernama Vilian, tatapan bangga Papanya dan satu nama yang paling berbahaya. Bara. Alea mendesah pelan. Kenapa laki-laki itu selalu muncul di saat ia sedang berusaha fokus? Ia berjalan menuju meja belajarnya, mencoba menenangkan dir

