Vilian Salah Lawan

1100 Kata

Istirahat hanya diberikan lima menit, tapi lima menit bagi pasukan yang baru saja digilas latihan Alea terasa seperti hadiah dari langit. Beberapa duduk di tepi lapangan, minum cepat, ada yang menyiram kepala dengan air, ada pula yang tetap berdiri karena merasa itu lebih terhormat di depan calon pemimpin mereka. Alea tidak duduk. Ia berjalan lurus menuju bangunan utama, menuju balkon yang beberapa menit lalu menjadi saksi semua yang ia lakukan. Setiap langkahnya masih membawa ritme komando. Peluh di pelipisnya belum sempat ia hapus. Di sana, Fernandes sudah menunggu. Pria itu tidak banyak bergerak sejak tadi, tapi matanya mencatat semuanya. Cara pasukan menoleh pada putrinya. Cara mereka menahan rasa sakit demi tidak mengecewakannya. Cara Alea berdiri tanpa goyah. Alea berhenti satu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN