Jari-jari tangan Aditya terulur ke arah pipi wanita itu, bermaksud untuk menghapus bekas air mata yang tampak jelas di kedua pipi Indria. Namun detik berikutnya, kelopak mata wanita itu tiba-tiba saja terbuka. Segera ditepisnya tangan Aditya dengan kasar. Bahkan tak segan-segan Indria juga mendorong tubuh si pria berengsek yang bersimpuh di sampingnya. "Jangan pernah menyentuhku, Berengsek!" seru Indria bernada tajam. Dia bangkit dari sofa. Benci, dia sangat benci ketika beradu tatapan dengan Aditya. "Tunggu, Indria," pinta pria itu seraya berusaha meraih pergelangan tangan Indria dan berhasil. "Lepas, Berengsek!" Umpat Indria marah dan mencoba menghentakkan tangannya agar cengkraman pria itu terlepas. Tatapan lekat Aditya terus-menerus mengarah pada sosok wanita yang telah dia sakiti

