Selepas kepergian Pak Suardika dan Artawan. Indria berjalan menuju dapur guna mengambil sebaskom air hangat dan juga kotak P3K. Tak berselang lama, dia sudah kembali ke ruang tamu di mana Aditya berada. Pria itu tengah mengusap darah yang tersisa di sudut bibirnya yang mulai mengering dengan tisu sambil meringis menahan sakit. Indria duduk di sebelah Aditya. Rasa iba muncul dalam benaknya melihat luka lebam yang cukup parah dan membiru di pipi pria itu. "Gunakan air hangat ini untuk membersihkan lukamu," ucapnya setengah menyuruh. Aditya mengangguk. "Terima kasih," balas pria itu pelan nyaris seperti berbisik lalu menempelkan saputangan yang sudah dibasahi air hangat ke pipinya. Dia meringis secara tak sadar tatkala rasa perih akibat tekanan yang dia lakukan di lukanya. "Biar aku bantu.

