The Magic of Words

1400 Kata
Happy Reading . . .  *** Sekuat mungkin Ravena menahan rasa sakit pada luka lebam dan sedikit cakaran yang berada di punggungnya, yang kini sedang diobati oleh Ivy. Setelah menerima malam yang membuatnya merasa tersiksa, keesokan paginya tubuh wanita itu langsung memperlihatkan bukti betapa biadabnya pria itu saat menikmati tubuh Ravena. "Apakah terlihat buruk?" Tanya Ravena yang menatap sang asisten dari kaca meja rias di depannya. "Lebam di punggung anda sudah begitu membiru, Queen. Apa anda yakin tidak ingin pergi ke rumah sakit saja?" "Ini hanya lebam, dan bukan luka yang serius. Jadi berikan saja krimnya lebih banyak lagi." "Baik, Queen." Beberapa saat setelah Ivy memberikan obat memar pada seluruh luka lebam yang Ravena miliki di punggungnya, sang asisten pun membantu bosnya itu memakaikan sweater yang berukuran besar dengan perlahan agar tidak mengenai lukanya tersebut. "Kau sudah menyiapkan semua yang sudah saya minta tadi, Ivy?" "Saya sudah menghubungi toko yang biasa anda gunakan untuk mengirimkan personal care dan beberapa kebutuhan di panti, Queen." "Hubungi Signora Sandra sekarang juga, jika saya belum bisa berkunjung ke sana." "Baik, Queen." Ivy pun bergegas keluar dari kamar Ravena untuk menjalankan perintah darinya tadi. Bersamaan dengan Ravena yang sedang beranjak dari duduknya, pintu kamar kembali terbuka dan kini Sebastian-lah yang ternyata datang. Tanpa kata, pria itu menghampiri dan ia langsung menarik tubuh Ravena ke dalam pelukannya. Dengan perlahan Sebastian membelai punggung sambil menciumi puncak kepala wanita itu. Sedangkan Ravena yang merasakan kelembutan seperti itu hanya bisa terdiam dan bahkan tidak membalas pelukan tersebut. "Maafkan aku," bisik Sebastian. Bagaikan sihir, suara yang terdengar begitu menenangkan di telinga itu langsung membuat Ravena menganggukkan kepala. Dengan mudahnya wanita itu selalu luluh dan memaafkan pria yang sudah memperlakukan dirinya dengan sesuka hati. Dan alasannya pun tetap sama saja, Ravena mencintai pria itu dan ia hanya bisa pasrah saja di setiap saatnya. "Kemarahanmu yang tanpa alasan itu membuatku menjadi semakin terpancing amarah disaat kau selalu menjawab setiap ucapanku dengan nada sinismu itu." "Iya, itu semua salahku." "Sebutkan alasannya kenapa kau menjadi seperti itu?" Tanya pria itu sambil melepaskan pelukannya, lalu ia menatap mata Ravena dengan dalam. "Tidak, tidak ada apa-apa." "Kau tidak ingin jujur kepadaku?" "Aku tidak ingin membuatmu semakin marah." Dengan sekali hentakan Sebastian mengangkat Ravena ke gendongannya, lalu ia melangkah menuju sofa di sudut kamar. Setelah mendudukkan diri dan menaruh wanita itu di atas pangkuannya, Sebastian membelai pipi dan rambut panjang sang istri dengan perlahan. "Aku berjanji tidak akan marah. Jadi, katakan saja semuanya." ". . ." "Apa ini karena permasalahan kemarin dengan wanita itu yang kau kira mengenalku?" Tebak Sebastian yang langsung membuat Ravena menganggukkan kepala. "Aku sudah mengatakan kalau itu hanya omong kosong saja, bukan? Aku saja tidak mengenalnya, jadi bagaimana mungkin ia bisa menilaiku seperti itu? Kau percaya denganku bukan, Sugarboo?" "Ya," balas wanita itu sambil sedikit tersenyum dan menganggukkan kepala lagi. "Aku menyukaimu yang seperti ini," ucap Sebastian sambil menarik tubuh sang istri dan mesandarkan kepala di d**a bidangnya itu. "Jika kau tidak banyak membantah, tidak menolak setiap keinginanku, apalagi tidak bersikap hormat terhadapku, aku tidak akan bersikap kasar kepadamu. Kau mengerti?" Ravena menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan balasan atau sepatah kata pun untuk setiap pernyataan Sebastian tadi. "Aku ingin pergi ke Sheldy's Soul," pinta Ravena sambil menegakkan tubuhnya lalu menatap wajah pria itu. "Tempat penampungan itu?" "Bukan tempat penampungan, tetapi panti dimana para lansia yang ditelantarkan atau ditinggalkan keluarganya berada di sana." "Apapun itu aku tidak mengizinkannya. Kau diam di sini saja, hari ini tidak ada acara pergi-pergi. Kau mengerti?" Ravena pun bereaksi dengan menghela nafas tanpa menelan rasa kekecewaan, karena wanita itu sudah mengetahui sejak awal jika Sebastian pasti akan melarangnya. "Ya, aku mengerti." Sebenarnya hari ini Ravena memiliki rencana dengan ingin berkunjung ke panti wreda yang sudah sejak lama telah menjadi pusat perhatiannya. Walaupun wanita itu memiliki sifat yang tidak jauh dari milik Sebastian, namun di hati kecilnya itu masih memiliki empati terhadap orang lain. Terutama kepada orang tua yang sudah menjadi lansia, karena ia tidak bisa melakukan kepada orangtuanya sendiri, maka dari itu hanya dengan cara seperti itulah Ravena bisa menyenangkan hati para orang tua. Tetapi setelah mengingat hubungannya yang sejak kemarin sedang sedikit tegang bersama sang suami, Ravena sudah mengetahui jika hari ini pasti Sebastian tidak akan memberinya izin untuk keluar mansion. Maka dari itu, bulan ini Ravena hanya bisa mengirimkan beberapa kebutuhan untuk para lansia di sana tanpa mengunjunginya. Dan sebelumnya ia juga sudah berjaga-jaga dengan menyuruh Ivy menghubungi Signora Sandra, ketua yayasan panti tersebut yang juga sudah begitu mengenal Ravena, agar memberitahu jika kali ini wanita itu belum bisa mengunjungi panti tersebut. *** Pria itu menaruh botol berisi bir yang isinya baru saja ia tenggak sampai habis di atas meja tepat di balik kursi kebesarannya, sambil menelan minuman tersebut senyuman penuh arti pun terbit. Dengan bajingannya, senyuman itu semakin terlihat di wajah Sebastian setelah baru saja ia mendengar berita yang membuat perasaannya merasa cukup puas. "Kau yakin barang itu disimpan di sana?" "Tentu, King. Saya sendiri sudah melakukan sendiri survey ke sana." "Tempat yang sangat menarik untuk menyembunyikan harta yang begitu berharga. Lalu bagaimana dengan prosesnya?" "Saya sudah menunjukkan bukti surat pernikahan anda bersama Queen Ravena kepada pihak pengacara yang dulu telah dipercayakan Gio Hollie untuk menangani hak milik Queen Ravena tersebut, King." "Mereka percaya, bukan?" "Mereka akan melakukan proses dengan investigasi terlebih dahulu. Karena mereka harus mengetahui kebenaran dan keberadaan mengenai Queen Ravena." "Haruskah seperti itu?" "Mereka hanya ingin mengetahui jika ahli waris yang dituju memang benar. Hanya seperti itu saja, King." "Apakah itu berbahaya? Karena saya tidak ingin ada penghalang kecil yang bisa menghancurkan rencana saya." "Saya jamin tidak. Itu hanya akan menjadi syarat dan prosedur saja." "Kepalamu yang akan menjadi jaminannya." "Te-tentu, King." Balasnya dengan gugup. "Dua tahun lagi, dan tepat di usianya yang ke tiga puluh tahun. Bukan begitu, Nate?" "Benar, King. Hal yang sudah anda inginkan sejak dulu, akan langsung anda dapatkan." "Saya menyukai kerjamu yang begitu memukau. Setelah keluar dari sini, segera periksa rekeningmu. Saya sudah memberikan bonus untukmu." "Baik, King. Terimakasih, saya senang anda puas dengan cara kerja saya. Kalau begitu saya pamit terlebih dulu." Setelah kepergian Nate, sang anak buah yang berperan sebagai pengacara keluar dari ruangannya, tidak lama kemudian pintu yang sudah tertutup itu kembali terbuka. "Aku sudah mencarimu sejak tadi dan ternyata kau berada di sini," ucap Ravena sambil melangkah menghampiri pria itu. "Seharusnya kau tahu dimana tempatku jika sedang menunggu laporan misi, Sugarboo. Apakah kau merindukanku, huh?" Godanya sambil menciumi wajah sang istri setelah wanita itu duduk di atas pangkuannya. "Tidak." "Benarkah?" Tanya pria itu yang semakin menghujani wajah Ravena dengan kecupan-kecupan. "Berhenti, aku datang ke sini tidak untuk menjadi target serangan ciumanmu ini," balas Ravena sambil menjauhkan sedikit tubuhnya. "Lalu ada apa?" "Kapan misi kita dilaksanakan?" "Misi yang mana?" "Jangan pura-pura tidak mengingatnya." "Iya, tapi yang mana?" "Venezio." "Jangan pernah menyebut namanya lagi di hadapanku. Kau ingat itu, bukan?" "Kau sendiri yang tidak mengingatnya, maka dari itu aku sebut saja sekalian. Aku sudah melakukan tugasku dengan membalaskan dendamku terhadap anak-anak buahnya beserta Megan juga, dan sekarang sudah waktunya untuk melakukan terhadap pria itu." "Untuk yang satu itu sedang aku pikirkan dan rencanakan dengan matang-matang." "Aku ingin ikut terlibat." "Tidak. Kau pasti akan memakai caramu sendiri." "Tetapi aku ingin melakukannya sendiri. Dia itu seorang pria dewasa, pasti dengan caraku akan lebih berhasil." "Kau itu hanya milikku, dan sampai selama-lamanya hanya akan menjadi milikku. Katakan kau milikku." "Aku milikmu." "Sampai kapan?" "Selama-lamanya." "Katakan sekali lagi." "Aku milikmu, Sebastian. Sampai selama-lamanya." "Bagus. Dan biarkan misi itu aku saja yang menanganinya, okay?" "Aku ingin ikut," rengek wanita itu. "Tidak perlu." "Aku ingin terlibat di dalamnya." "Sugarboo..." "Kau tidak menyenangkan," balas Ravena dengan kesal sambil beranjak dari pangkuan pria itu, lalu ia meninggalkan Sebastian yang hanya tersenyum saja melihat kepergian wanita itu. Memang banyak hal yang terjadi selama dua puluh tahun lalu setelah saat itu Sebastian menolong Ravena di bawah gelapnya malam dan derasnya hujan. Salah satunya mengenai Venezio, sosok pemilik mata abu-abu yang membuat Ravena merasa ketakutan dan bingung yang menjadi satu terhadap Venezio. Sebastian telah memberitahu kelompok yang sudah membunuh kedua orangtuanya dulu, pria itu jugalah yang membuat Ravena menjadi memiliki dendam terhadap orang-orang yang pernah terlibat dalam pembunuhan malam itu. Dan dengan begitu, ia juga bisa melakukan dendam terhadap permasalahan antara kelompok yang sejak dulu tidak pernah selesai. Permasalahan yang terjadi hanya karena adanya perebutan wilayah tempat eksekusi masing-masing kelompok yang sejak dulu menjadi sengketa antara The Rogue's dan The Rotter. *** To be continued . . . 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN