Meet The Old One

1821 Kata
Happy Reading . . .  *** Selain timah panas yang terus menerus meluncur di udara dan membuat kebisingan di gelapnya malam serta gang kecil yang menjadi medan pertempuran kedua kelompok itu, sang pemimpin yang kini sedang beradu dengan saling menindih dan disusul dengan memberikan pukulan sekuat tenaga itu demi untuk mencapai tujuannya, yaitu ingin melumpuhkan satu sama lain. Dengan kedua wajah pria tersebut yang juga sudah terlihat begitu babak belur itu menandakan jika pertempuran keduanya memang begitu sengit. "Kau tidak pernah belajar, b*****h! Kau harus membayar setiap nyawa anak buahku yang sudah kau hilangkan," seru Venezio yang kini sedang menekan leher Sebastian dengan lututnya. Kondisi Sebastian yang kini sedang tergeletak dan juga tertindih oleh tubuh Venezio yang tidak kalah besar darinya, cukup membuat pria itu sedikit kewalahan hingga tidak bisa berkutik. "Ka-kau pantas... men-mendapatkannya b******n! Dan- salahkan an-anak buahmu ya-yang begitu lemah," balas Sebastian dengan terputus-putus karena kini ia sedang kesulitan bernafas. "Kau memang b*****h tidak tahu diri!" "Benarkah?" Ucapan Sebastian itu langsung membuat Venezio terdiam karena kini ia sedang merasakan sebuah benda yang berupa mulut pistol yang berada tepat di pinggangnya. Sebastian menempelkan senjata yang ia pegang tersebut, tepat di tubuh lawannya. "Se-semakin kau mencekik leherku, maka se-semakin cepat juga pe-peluru ini akan menembus tubuhmu." Mendengar hal itu, Venezio pun mengendurkan cekikan yang ia berikan pada leher Sebastian. Namun, dengan cepat pria itu langsung mengambil pistol dari balik tubuhnya dan saat itu juga Venezio menembakkan timah panas tepat di bagian d**a Sebastian. Venezio bukan pria lemah apalagi bodoh yang pada saat diancam ia akan menyerah begitu saja. Ia akan melakukan penyerangan secara tiba-tiba seperti itu, dan membuat lawannya tidak bisa melawan apalagi menebak apa yang akan dilakukan selanjutnya seperti saat ini. Melihat Sebastian yang sudah tidak berdaya itu, Venezio memutuskan untuk meninggalkan pria itu sekaligus anak-anak buahnya yang masih bertarung dengan anak buah Sebastian. Setelah memasuki McLaren-nya, pria itu langsung menancap gas dengan kecepatan penuh dan menembus jalan raya yang sudah sepi dari lalu lalang kendaraan lain. Venezio Evans, pria bermata abu-abu yang dua puluh tahun lalu terlibat dalam pembunuhan terhadap Gio dan Corrie Hollie diusianya yang masih terbilang muda di awal kepala dua. Dan kini pria itu telah menjadi pria dewasa dengan sejuta pesona. Diusianya yang sudah menginjak kepala empat, memiliki rupa yang mampu membuat para wanita rela walau hanya menjadi pasangan percintaan satu malam saja, membuat pria itu terlihat semakin pantas menjadi pemimpin kelompok pembunuh bayaran yang paling disegani tersebut. Tetap rupanya Venezio tidak seperti itu, ia telah memiliki 2 orang anak perempuan yang begitu ia cintai bernama Dorothea dan Valyrea. Anak-anak perempuan yang sama besarnya ia cintai seperti ia mencintai sang istri, yaitu Norah. Seorang wanita yang baginya begitu sempurna, yang sudah ia nikahi sejak sepuluh tahun yang lalu. Setelah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dalam waktu kurang dari sepuluh menit pria itu sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan. Bangunan berupa rumah sederhana yang menjadi satu-satunya tempat yang memberikan kedamaian bagi pria itu dari berbagai hal yang sudah membuat setiap detik di hidupnya penuh akan adrenalin, termasuk dengan pekerjaannya. "Daddy pulang!" Ucap Venezio dengan cukup keras setelah ia memasuki rumah dan sedang melangkah menuju ruang tengah. "Sshh... apa kau lupa saat ini sudah jam berapa?" Balas Norah sambil menuruni anak tangga dari lantai atas. "Ini dia wanita kesayanganku." "Dorothea dan Valyrea baru saja tertidur karena sejak tadi mereka menunggumu yang tidak pulang-pulang." "Maafkan aku, okay? Dan besok aku juga akan langsung meminta maaf kepada kedua malaikatku itu." "Huh... kau ini, bisakah satu malam saja saat pulang ke rumah tidak berpenampilan seperti ini?" Keluh Norah setelah berada di hadapan sang suami. "Memangnya seperti apa?" Tanya Venezio sambil menarik pinggang Norah ke dekapannya. "Wajahmu penuh dengan luka lebam. Apalagi pakaianmu yang selalu terdapat noda darah, aku sudah mulai bosan saat melihatnya." "Ini konsekuensi dari pekerjaanku, Darling." "Iya, aku tahu. Dan aku tidak akan bisa menyuruhmu untuk menghindari setiap konsekuensi yang selalu kau dapatkan dari pekerjaanmu itu." "Tetapi aku tetap terlihat tampan, bukan?" Ucap Venezio sambil memberikan senyuman penuh arti terhadang sang istri. "Kau itu lebih dari kata tampan, kau tahu?" "Aku pasti tahu akan itu." Balasan pria itu membuat keduanya langsung saling melemparkan tawa kecil. "Duduklah, aku akan mengambil obat untuk wajahmu." Perintah Norah sambil melepaskan dekapan Venezio, lalu ia melangkah menuju dapur. "Bawakan aku satu botol bir dingin juga." "Aku sudah membuang semua minumanmu itu." "Kau begitu kejam, Darling!" Balas pria itu dengan sedikit berteriak, sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa. Tidak lama setelah Venezio sedikit mengistirahatkan tubuhnya sejenak di sofa, ia pun membuka mata disaat merasakan sesuatu yang dingin di wajahnya. "Istirahat saja jika kau sudah sangat lelah. Aku akan membersihkan dan mengobati wajahmu," ucap Norah yang ternyata sedang membersihkan wajah Venezio dengan handuk basah. "Dimana bir untukku?" "Aku sudah mengatakan telah membuang semuanya, bukan?" "Kenapa kau buang? Kau ini kejam sekali." "Minuman-minuman itu tidak ada manfaatnya untuk tubuhmu, kau tahu?" "Tentu saja ada manfaatnya, minuman itu bisa membuatku merasakan ketenangan." "Sebagai gantinya aku akan membuatkanmu jus sayuran." "Minuman macam apa itu? Jangan pernah kau memberikan minuman menjijikan itu kepadaku." "Minuman seperti itu lebih baik dari pada minuman beralkohol. Lagi pula banyak vitamin yang terkandung di dalamnya yang bisa membuat tubuhmu yang sudah sempurna ini semakin terbentuk." "Jika tubuhku benar-benar semakin bertambah sempurna bagaimana?" "Itu hal yang bagus, bukan?" "Dan jika ada wanita lain yang menginginkanku bagaimana?" "Jika kau menginginkannya juga, aku akan mengizinkannya." "Kau sedang bergurau, bukan?" "Venezio, aku ini mencintaimu. Jadi jika ada wanita lain yang menginginkanmu dan kau pun juga merasa bahagia, tanpa berpikir panjang lagi aku akan mengizinkanmu untuk berbahagia dengannya." "Okay, pembicaraan ini hanya omong kosong saja kau tahu? Dan abaikan ucapanku yang sebenarnya hanyalah gurauan tadi." "Tetapi aku rasa tidak ada salahnya kita membicarakan hal itu. Hanya untuk berjaga-jaga saja jika hal tersebut benar-benar akan terjadi nantinya." "Berhenti, okay? Aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini." "Aku akan bahagia jika kau bisa lebih bahagia dengan yang lain." "Bicaramu semakin melantur." "Apalagi jika kau mengatakannya dengan jujur. Aku lebih mengapresiasinya." "NORAH!" "Hei, itu hanya seandainya saja." Balas wanita itu sambil terkekeh. "Tetapi aku tetap tidak suka. Dan sebagainya kita tidak perlu membicarakannya lagi." "Bukankah kau yang membicarakan ke arah sana terlebih dulu?" "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, Darling." Ucap Venezio dengan nada penyesalan sambil mengusap pipi sang istri yang kini sedang tersenyum manis kepadanya. "Okay." "Senyuman manismu ini selalu bisa membuatku meleleh dibuatnya, Darling." "Dan aku yang akan terkena penyakit gula darah jika setiap harinya kau tidak bisa berhenti memberikan kalimat-kalimat manismu itu," balas Norah yang membuat pria itu langsung tertawa. Setelah tawanya itu terhenti, Venezio menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, lalu ia membelai puncak kepala Norah dengan perlahan. "Untuk apa aku mencari yang lain di luar sana jika yang aku miliki ini saja sudah membuatku begitu jatuh hati dibuatnya? Aku sama sekali tidak memiliki niatan mencari yang lain di luar sana. Bagiku kau itu wanita yang sangat sempurna, Darling. Aku ini bukan pria yang serakah, yang tidak cukup hanya memiliki satu wanita saja. Dan aku akan menjadi pria terbodoh jika aku sampai mencampakkan wanita sempurna yang sudah memberikan kehidupan sekaligus kebahagiaan yang sebenarnya." "Aku harap kau tidak akan mengingkari janji yang baru saja kau katakan sebagai seorang pria dewasa." "Tentu saja aku tidak akan mengingkarinya. Apakah selama kita bersama semenjak kita menjadi pada kekasih, aku pernah melakukannya?" "Sampai saat ini tidak." "Jadi kau masih meragukanku?" "Tidak, tidak. Aku hanya bergurau, kau tahu? Aku ini sungguh percaya denganmu suamiku." "Sebesar apa?" "Sebesar janjimu kepadaku, Dorothea dan Valyrea." "Dan calon anak ketiga kita nanti." "Kau ini, selalu saja mencari-cari celah di setiap pembicaraan kita." "Kita sudah sepakat untuk memberikan anak-anak kita seorang adik laki-laki, bukan?" "Tetapi aku belum setuju." "Setuju saja. Apa salahnya memberikan mereka adik? Aku yakin Dorothea dan Valyrea akan senang mendengar hal itu." "Venezio, aku belum menyetujuinya." "Sekarang usia Dorothea sudah 8 tahun, dan Valyrea 5 tahun. Itu angka yang tepat untuk memberikan mereka adik, Darling." "Okay, kita bicarakan hal itu lagi nanti." "Kapan?" "Kalau aku sudah mengingatnya." "Baiklah jika kau tidak ingin membicarakannya terlebih dulu. Tetapi yang aku tahu, aku bisa berusaha dari sekarang bukan?" Ucap Venezio sambil mendorong tubuh Norah hingga berposisi tiduran dan ia pun menindih tubuh sang istri. "Aku belum menyetujuinya." "Untuk yang satu ini aku tidak akan menerima penolakan." Venezio langsung mencium Norah dengan penuh kelembutan hingga membuat wanita itu terbuai akan sikap gentle sang suami, yang selalu saja bisa dibuat dirinya melayang akan setiap sentuhan di tubuhnya itu. Dan percintaan hangat tersebut, menutup malam Venezio yang sebelumnya sedang merasakan hari buruk setelah melakukan pertengkaran kembali dengan rivalnya, namun kini ia bisa kembali merasakan kebahagiaan bersama sang istri tercintanya itu. *** Pagi harinya, seperti biasa Venezio selalu melakukan pertemuan bersama anak-anak buahnya sejenak untuk mengetahui misi-misi apa saja yang baru masuk dari client atau membahas hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. "Bagaimana akhir pertempuran semalam? Maafkan saya yang meninggalkan tempat kejadian begitu saja." "Anda yang melakukan eksekusi terhadap Sebastian, Bos?" Tanya salah satu anak buah di sana. "Dia yang mengancam saya terlebih dulu. Lalu bagaimana dengan kondisinya? Apa kau sudah mendapatkan informasi terakhir tentangnya?" "Koma, Bos." "Dia pantas mendapatkannya. Dan itu semua belum ada apa-apanya. Pertempuran semalam hanyalah sebuah ancaman atau mungkin umpan darinya saja. Sebastian tidak akan menyerah sampai pada akhirnya kita semua mati. Dan saya yakin setelah ini akan ada yang lebih besar lagi. Jadi saya minta kepada kalian, selain kalian bersiap siaga untuk client kita, kalian juga harus bersiap siaga terhadap Sebastian. Pria itu semakin harinya, semakin tidak bisa terbaca. Dia bisa menyerang kita kapan pun dan dimana pun seperti rekan kalian yang sudah menjadi korbannya. Jika sedikit saja kalian lengah, mungkin satu per satu dari kalian akan menjadi korban selanjutnya, atau mungkin saya sendiri yang juga akan menjadi korbannya. Kalian mengerti?" "Mengerti, Bos!" Balas anak-anak buahnya tersebut dengan serempak. "Kalau begitu persiapkan diri kalian untuk misi yang akan kita lakukan nanti siang. Kali ini client kita meminta hal yang cukup sulit, namun harga yang diberikannya juga tidak main-main. Jadi saya minta tidak ada kata gagal kali ini." Balasan serempak yang diberikan oleh para anak buahnya tersebut mengakhiri pertemuan singkat yang setiap paginya selalu dilakukan oleh mereka. Perginya anak-anak buahnya tersebut, membuat Venezio merasa cukup puas setelah mendengar kabar terbaru mengenai kondisi Sebastian setelah semalam ia sudah melumpuhkan sang rival yang tidak pernah ingin untuk diajak berdamai dengan baik-baik olehnya. Sekali lagi, Venezio bukan tipe pria serakah yang gila akan kekuasaan dan segala sesuatu hal yang diinginkan pada saat itu juga, maka ia harus mendapatkannya. Namun kasusnya bersama dengan Sebastian sedikit berbeda. Justru sikap musuhnya yang terkesan arogan dan egois membuat Venezio harus melakukan permusuhan yang sebenarnya sangat tidak ia inginkan. Apalagi sesama kelompok pembunuh bayaran yang memiliki nama sama besarnya, Venezio sama sekali tidak menginginkan hal tersebut. Tetapi karena situasi dan kondisi -lah yang membuat pria itu bisa merasakan dendam dan emosi dengan apapun yang berhubungan dengan Sebastian, apapun itu pasti akan langsung membuat Venezio marah besar nantinya. *** To be continued . . . 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN