Happy Reading . . .
***
Dengan terus menatap sang suami yang sudah beberapa hari ini belum juga tersadar dari luka tembakan yang terakhir ia dapatkan dari pertempuran malam itu, membuat Ravena menjadi merasa tidak tahu harus berbuat apalagi. Rasa khawatir dan cemas setiap harinya sudah begitu ia rasakan.
Peluru kecil yang mengenai bagian d**a dan hampir saja mengenai jantungnya itu, membuat Sebastian harus tidak sadarkan diri selama satu Minggu lamanya. Bahkan pria itu sudah dinyatakan koma sejak pertama kali dibawa ke bagian ruangan pemulihan di mansion-nya dan diperiksa oleh dokter pribadi.
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Apa kau tidak lelah? Dimana Sebastian yang kuat dan tidak pernah takut yang aku kenal? Aku akan marah kepadamu jika hari ini kau tidak memiliki niatan untuk tersadar juga!" Seru Ravena dengan sangat kesal.
Rasanya setiap hari air mata wanita itu akan selalu menetes saat ia memikirkan kondisi sang suami. Itu semua karena ia tidak bisa membayangkan jika nantinya Sebastian akan meninggalkan dirinya seorang diri, dan setelah itu ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di hidupnya. Ravena sama sekali tidak ingin merasakan hal tersebut.
Disaat wanita itu sedang meratapi kesedihannya, terdengar pintu ruangan tersebut yang dibuka dan membuat Ravena dengan cepat langsung menghapus tetesan air mata di kedua pipi.
"Semua yang anda perintahkan sudah berkumpul, Queen." Ucap Ivy yang ternyata datang.
"Tunggu di sana."
"Baik, Queen." Balas Ivy yang langsung meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah mengusap wajahnya yang terasa sembab sehabis menangis, Ravena membelai wajah Sebastian lalu ia mengecup sudut bibir pria itu dengan singkat.
"Aku akan segera kembali."
Ravena pun beranjak dari tepi ranjang yang menjadi tempat menunggunya selama ini. Ia tidak pernah beranjak dari sisi sang suami, kecuali ia memiliki kepentingan seperti saat ini. Kepentingan karena anak-anak buah suaminya itu sama sekali tidak berkompeten. Setelah lift yang ia naiki sudah berada di lantai basement, dengan cepat Ravena melangkah menuju tempat dimana para anak buahnya sudah berkumpul.
"Dimana letak kegagalan kalian kali ini?" Tanya wanita itu langsung dengan bernada sedikit tinggi, yang membuat anak buahnya langsung menciut.
"Di-dia seperti King Sebastian, Queen. Ti-tidak terkalahkan. Bahkan Mike hampir menjadi korbannya, Queen." Balas Jim, salah satu pemimpin ke-sepuluh anak buah tersebut.
"Sebanyak apa kalian sudah mencoba?"
"Ka-kami tidak menghitungnya, Queen."
"Jadi alasannya hanya dia yang tidak terkalahkan, kalian menjadi selalu gagal membalaskan dendam bos kalian yang saat ini sedang tidak sadarkan diri. Apakah kalian semua mengenal arti kata loyalitas?"
Sudah semenjak Sebastian mulai tidak sadarkan diri, Ravena sudah menyuruh anak-anak buahnya itu untuk mulai menyusun rencana dan melakukan balas dendam terhadap Venezio. Namun sepanjang Minggu ini, anak buahnya itu selalu memberikan laporan bahwa mereka selalu saja gagal dan tidak bisa melumpuhkan pria itu.
Pria yang katanya tidak terkalahkan itu semakin membuat perasaan Ravena begitu marah dan dendam akannya. Selain anak-anak buahnya itu yang memang terlihat tidak berkompeten, Venezio juga sudah melukai Sebastian. Rasa amarah yang semakin tidak bisa wanita itu redam disaat ia mengingatkan bawah kedua orangtuanya dulu juga telah dibunuh olehnya.
"Kami sudah berusaha, Queen. Maafkan kami yang sudah begitu mengecewakan anda."
"Satu hal yang semakin saya ketahui jika kalian memanglah sangat mengecewakan," ucap Ravena yang langsung meninggalkan ruangan basement tersebut.
Wanita itu kembali memasuki lift, dan menekan tombol menuju lantai dimana ruangan Sebastian berada. Ravena tidak bisa meninggalkan sang suami dalam waktu yang lama karena ia tidak ingin disaat pria itu tersadar, ia tidak berada di sampingnya yang nantinya bisa saja suaminya itu mencari-carinya. Dan benar saja, ketika Ravena telah membuka pintu ruangan pemulihan tersebut, ia bisa melihat Sebastian kini sedang berusaha untuk mendudukkan dirinya. Dengan cepat wanita itu langsung menghampiri sang suami dan menahan tubuhnya agar tidak banyak bergerak terlebih dulu.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
"Sudah berapa lama aku berada di sini?" Tanya pria itu langsung.
"Kurang lebih satu Minggu."
"Sialan! b******n itu benar-benar mengujiku."
"Hei, sebaiknya kau lupakan sejenak mengenai hal tentangnya terlebih dulu. Kau baru saja terbangun, Sebastian. Kau harus banyak beristirahat."
"Beristirahat hanya untuk orang lemah. Dan dalam waktu satu Minggu dengan aku yang tidak sadarkan diri, itu semua sudah membuatku benar-benar sudah seperti pecundang."
"Bisakah kau mendengarkanku satu kali saja? Setidaknya kau membutuhkan satu hari penuh beristirahat lagi, Sebastian."
"Dengan aku yang beristirahat, b******n itu tidak akan pernah mendapat balasan atas apa yang sudah ia lakukan terhadapku, Ravena!"
"Aku sudah menyuruh anak-anak buahmu untuk melakukannya. Jadi biarkan saja mereka yang membalaskan dendam-mu kepada pria itu."
"Apa?"
"Aku menyuruh anak buahmu un-"
"Kau menyuruh anak buahku dengan semaumu? Tanpa memberitahu ataupun minta izin dariku?" Ucap pria itu dengan nada bicara yang mulai meninggi.
"Aku hanya ingin membantumu saja, Sebastian. Aku sangat mengerti dengan perasaanmu yang begitu marah dan dendam terhadap pria itu. Maka dari itu aku menyuruh anak buahmu untuk melakukannya. Tetapi anak buahmu sekarang sudah begitu bodoh karena tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan tidak benar."
"Kau yang begitu bodoh, Ravena."
"Apa?"
"Ya, kau itu sangat bodoh! Dengan kau yang menyuruh anak buahku tanpa berkonsultasi denganku terlebih dahulu, itu bisa saja membuat b******n itu membaca ruang pergerakkanku selanjutnya. Kau tidak bisa sembarangan dengan rivalku yang satu itu, Ravena! Dan sebaiknya kau berhenti ikut campur dalam permasalahanku!"
Setitik air mata pun mengalir dari mata wanita itu. Sudah tidak heran lagi baginya jika emosi Sebastian akan selalu menggebu-gebu. Tetapi Ravena tidak menyangka akan menerima semburan kemarahan sang suami disaat pria itu yang baru saja terbangun dari koma singkatnya. Dengan perasaan yang begitu sedih, Ravena memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut sebelum Sebastian yang mengusirnya terlebih dulu.
"Ivy," panggil Ravena saat melihat keberadaan sang asisten yang sedang melintas tidak jauh di depannya.
"Ya, Queen." Balasnya setelah ia menghampiri dan sudah berada di hadapan bosnya tersebut.
"Ikut saya."
Ravena langsung melangkah menuju lift dengan diikuti Ivy, lalu ia menekan tombol menuju lantai dasar. Setelah sampai dan pintu lift terbuka, wanita itu melangkahkan kakinya menuju bagian belakang mansion. Lebih tepatnya lagi menuju area kolam berenang, dimana di sampingnya terdapat bangku panjang yang sangat tepat sekali untuk dijadikan tempat untuk menenangkan diri. Wanita itu mendudukkan dirinya di bangku panjang yang terdapat payung besar di atasnya dan dapat melindungi diri dari cuaca yang sedang cukup terik di siang hari ini.
"Duduklah," perintah kepada sang asisten yang kini masih setia untuk berdiri.
Ivy pun langsung mendudukkan diri di bangku panjang di samping Ravena yang dibatasi sebuah meja di tengah-tengahnya.
"Apakah kau memiliki teman, Ivy?" Tanya Ravena sambil menatap sang asisten.
"Saya memiliki seorang sahabat yang sudah menjadi teman main sejak saya masih kecil, Queen."
"Kalian masih berhubungan sampai sekarang?"
"Tentu, Queen."
"Lalu bagaimana caranya mengingat kau yang bekerja untuk saya selama hampir dua puluh empat jam setiap harinya?"
"Saya selalu mengirimkan pesan untuk menanyakan atau memberikan kabar saya. Atau kami juga sesekali melakukan panggilan video untuk mengurangi rasa rindu di antara kami. Dan untung saja ia tinggal di kampung halaman, jadi saya tidak memiliki rasa bersalah karena tidak memiliki waktu luang untuk sekedar bertemu dengannya."
"Jadi kau hanya bertemu dengannya, jika kau sedang mendapat libur dan pulang ke kampung halaman?"
"Benar seperti itu, Queen."
"Walaupun kau jarang bertemu dengan sahabatmu itu, tetapi setidaknya menyenangkan bukan memiliki sahabat walau hanya seorang saja?"
"Ya, Queen."
"Kehidupanmu sangat beruntung Ivy. Kau masih memiliki kedua orangtua yang selalu menunggu disaat kau pulang ke rumah. Kau juga memiliki 2 orang adik dan seorang sahabat yang bisa kau ajak bermain atau sekedar bersenda gurau bersama. Seandainya kehidupan bisa ditukar, dengan senang hati saya akan memilih untuk memiliki kehidupan seperti dirimu."
"Tetapi banyak wanita yang ingin memiliki kehidupan seperti anda, Queen. Anda bisa memiliki hal apapun yang anda inginkan."
"Itu tandanya kau tidak mengerti dengan kehidupan yang sesungguhnya."
"Maafkan saya, Queen."
"Kau ini, terlalu banyak mengucapkan kata maaf kau tahu?" Ucap Ravena sambil terkekeh.
"Saya hanya tidak ingin anda merasa kecewa dengan saya, Queen."
"Selama kau bekerja, kau sama sekali tidak pernah membuat saya merasa kecewa, Ivy."
"Terimakasih atas pujian anda, Queen."
"Kalau begitu bisa kau katakan kepada chef untuk membuatkan makan siang untuk Sebastian? Berikan pilihan lain selain makanan lembek, dia pasti akan marah jika diberi makanan seperti itu."
"Baik, Queen. Apakah anda membutuhkan yang lain?"
"Tidak. Terimakasih sudah ingin menemani saya sejenak, Ivy."
"Tentu, Queen. Saya juga senang dapat berbincang santai dengan anda."
Setelah Ravena memberikan senyuman kecil, Ivy pun bergegas meninggalkan bosnya tersebut untuk menyampaikan pesan yang baru saja diperintahkannya itu. Dan tidak lama ketika Ravena sedang melamun, ia pun dikejutkan dengan keberadaan Sebastian yang tiba-tiba saja sudah duduk tepat di hadapannya.
"Maafkan aku yang sudah berteriak kepadamu," ucap Sebastian sambil menarik tangan Ravena ke dalam genggamannya.
Namun dengan cepat wanita itu sudah terlebih dulu menarik dan menyembunyikannya dengan cara melipat kedua tangan di depan d**a.
"Aku sudah terbiasa mendapatkannya," balas wanita itu yang sama sekali tidak ingin melihat wajah sang suami yang sedang berusaha menatap matanya.
"Aku tahu dengan kau yang ingin membantuku, Sugarboo. Tetapi kau tidak bisa mendahuluiku seperti itu."
"Iya, aku tahu aku salah besar. Itu semua salahku, dan aku meminta maaf kepadamu."
"Kau tidak salah. Aku yang terlalu keras kepadamu."
"Aku tidak ingin membahasnya lagi."
"Maafkan aku, Sugarboo."
"Tahukah kau? Aku begitu khawatir denganmu yang juga tidak sadar selama berhari-hari? Aku sangat sedih dan tidak tahu harus berbuat apalagi selain berharap kau bisa terbangun dari ketidaksadaranmu itu. Aku tidak bisa membayangkannya kau pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya, dan aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, Sebastian."
"Okay, aku mengerti. Aku sangat terbawa emosi saat aku terbangun dan melihat diriku yang merasa tidak berdaya. Maafkan aku yang sudah melimpahkan rasa amarahku kepadamu."
Ravena pada akhirnya menatap wajah Sebastian yang sedang menampilkan wajah memohon kepadanya.
"Bagaimana kau merasa tidak berdaya melihat saat ini saja kau sudah berada di hadapanku, setelah kau yang baru saja terbangun dari tidur panjangmu itu?"
"Aku akan semakin merasa tidak berdaya jika aku hanya berbaring saja, Sugarboo."
"Kau tidak pernah mendengarkanku, Sebastian."
"Iya aku tahu. Dan setelah ini aku berjanji akan mencoba untuk lebih mendengarkanmu. Jadi, maukah kau me-maafkanku?"
Wanita itu pun menganggukkan kepala dengan perlahan dan langsung membuat Sebastian tersenyum dibuatnya.
"Maafkan aku yang juga sudah membuatmu meneteskan air mata kembali," ucap Sebastian sambil mengusap pipi Ravena dengan lembut.
"Dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Izinkan aku untuk membalaskan dendam-mu terhadap pria itu."
***
To be continued . . .