Happy Reading . . .
***
Ravena tersenyum setelah pintu lift yang ia naiki terbuka, dan wanita itu bisa langsung mendengar suara sang suami yang sedang meluapkan amarah, dan yang pasti para anak buahnya itulah yang menjadi sasaran. Ia sudah tidak menggelengkan kepala dengan heran lagi, setelah melihat kondisi ruangan basement yang saat ini sudah seperti sehabis terkena bencana alam. Kursi dan meja yang berantakan, dan belum lagi pecahan-pecahan beling yang berasal dari bekas botol minuman beralkohol berserakan di lantai.
"Seberapa besar kekuatan gempa yang baru saja terjadi di sini?" Ucap Ravena yang membuat semua orang yang berada di sana mengalihkan pandangan kepada asal suara.
"Semua keluar!" Perintah Sebastian dengan berteriak hingga mengejutkan semua orang yang mendengarnya.
Setelah semua anak buah pria itu meninggalkan ruangan basement, Ravena pun menghampiri Sebastian dan memeluk pinggang sang suami dari sampingnya.
"Memangnya ada apa?"
"Rogue's melakukan eksekusi di wilayahku lagi. Dan b******n itu tidak pernah belajar!". "Mereka pikir setelah pemimpinnya melukaiku, mereka bisa dengan bebas melakukan eksekusi di bukan wilayah miliknya." Seru Sebastian dengan begitu berapi-api.
"Lalu anak-anak buahmu?"
"Mereka semua tidak bisa diandalkan. Bagaimana bisa mereka mengetahui setelah hal itu dilakukan lebih dari dua hari yang lalu? Aku benar-benar tidak habis pikir."
"Dan itu akan menjadi kesempatanku. Sebastian, aku mohon. Kali ini biarkan aku yang membantumu untuk menyingkirkan mereka."
"Sudah satu Minggu kau selalu membahas hal itu, Sugarboo." Balas pria itu sambil melepaskan tangan Ravena yang melilit pinggangnya dengan sedikit paksa.
"Aku akan terus memohon dan membahas hal itu sampai kau setuju dan mengizinkannya."
"Tetapi tidak dengan cara seperti itu. Aku tidak ingin milikku ini disentuh oleh pria b******n itu," ucap Sebastian sambil menarik pinggang wanita itu ke dekapannya dengan cepat.
"Itu hanya strategi saja, okay? Aku tetap akan menjadi milikmu sampai selama-lamanya, Romeo." Balas Ravena sambil memeluk leher sang suami dengan erat.
"Romeo, huh?" Tanya Sebastian sambil menampilkan senyuman penuh arti.
"Kau meminta untuk mendapat panggilan kesayangan dariku, bukan? Dan Romeo adalah panggilanku untukmu. Selain tidak banyak yang memakai panggilan itu, aku rasa Romeo terdengar manis dan romantis. Apa kau menyukainya?"
"Terdengar aneh."
"Tetapi aku ingin memanggilmu seperti itu. Jika kau sedang tidak menyebalkan juga."
Sambil keduanya tertawa kecil, pria itu mengangkat tubuh sang istri ke gendongannya.
"Sampai dimana tingkat kepercayaan dirimu mengenai rencana yang belakangan ini selalu kau yakinkan kepadaku?"
"Seratus persen. Semuanya sudah tertanam di dalam pikiranku, dan kau hanya akan tinggal menerima semuanya dengan mudah. Aku akan membuat pria itu takluk di bawah kakimu, dan kita bisa bersama-sama membalaskan dendam kita."
Bersamaan dengan Ravena yang mengakhiri kalimatnya, Sebastian pun mencium bibir sang istri dengan ganas dan kasar. Sedangkan wanita itu langsung mengeratkan pelukan kedua kaki pada pinggang Sebastian disaat ia merasakan pria itu yang melangkah. Hingga Sebastian menghimpit tubuh Ravena pada dinding, ia pun menarik bibirnya yang sedang digigit kecil oleh wanita itu.
"Kau percaya denganku, bukan? Aku ingin melakukannya sendiri, menyaksikan penderitaan pria itu setelah aku menembakkan peluru tepat di kepalanya." Ucap Ravena dengan nafas yang sedikit terengah.
"Sekarang juga kau harus masuk ke 'dark room'. Aku sudah lama tidak memberikanmu hukuman di sana. Karena hari ini kau sudah menjadi seorang istri yang tidak patuh, maka kau harus menerima hukuman dariku."
"Tetapi kau mengizinkanku, bukan?"
"Jawabannya setelah aku melihat seberapa kuat kau bisa menahan gelombang kenikmatanmu, dan aku sudah puas denganmu. Kau tahu peraturan bermainnya, bukan?"
"Tentu, Romeo."
Sebastian pun menurunkan tubuh Ravena dan menggenggam tangan sang istri untuk mengajaknya ke sebuah ruangan yang berada tepat di seberang ruangan berkumpul anak-anak buahnya itu, dan harus melewati lorong yang hanya diterangi beberapa lampu redup.
Dark room, tempat dimana Sebastian selalu memberikan hukuman dengan melakukan percintaan di luar akal sehat dan dari batas yang sewajarnya terhadap Ravena. Percintaan luar biasa yang dilakukan sepanjang malam hingga pagi itu membuat Sebastian tidak akan memberikan wanita itu sedikit saja waktu jeda untuk sekedar beristirahat apalagi bernafas walau hanya satu detik saja.
Dengan menekan angka-angka yang menjadi kombinasi kunci pada pintu yang hanya bisa dibuka oleh Sebastian saja, terdengarlah suara deteksi kombinasi angka yang benar dan pintu yang sangat canggih itu langsung terbuka. Setelah keduanya masuk ke dalam ruangan tersebut, pintu yang otomatis langsung tertutup lalu terkunci, bersamaan dengan nyalanya lampu-lampu redup yang menyinarkan warna orange gelap dan memberikan suasana begitu intim di sana.
Ditambah lagi dengan berbagai macam koleksi mainan dan alat bantu s*x yang terpajang rapi tidak jauh dari pandangan Ravena, langsung membuat wanita itu merasakan ketegangan. Ini memang bukan pertama kalinya bagi Ravena untuk merasakan dan mendapatkan hal yang sedang menantinya itu, tetapi entah kenapa kali ini dirinya merasakan ketidaksiapan dan ketegangan yang sangat tidak ingin ia rasakan.
"Duduk di atas ranjang," perintah Sebastian yang kini sedang menyalakan lilin-lilin pada candelabra yang berada di atas meja, di setiap sudut ruangan tersebut.
Setelah selesai dengan hal kecil itu, Sebastian pun menghampiri Ravena sambil membawa segelas air dan sesuatu yang berada di tangan satunya. Ketika berada di hadapan sang istri, pria itu langsung memasukkan dua butir obat ke dalam mulut Ravena dengan paksa.
"Habiskan," perintahnya setelah Sebastian memberikan segelas air mineral kepada wanita itu.
Tidak lama kemudian, Sebastian pun mengambil gelas yang airnya sudah habis dari tangan Ravena. Sambil menunggu reaksi yang tidak akan lama muncul dari obat perangsang yang diberikannya tadi, pria itu melangkah menuju sebuah meja untuk menaruh gelas yang ia bawa tadi sekaligus mengambil sebuah kain berbahan satin. Setelah itu Sebastian kembali menghampiri Ravena yang kini terlihat sudah mulai berkeringat dan gelisah.
"Apa kau ingin menjadi b***k yang baik untuk master-mu ini?" Ucap Sebastian sambil menutup mata wanita itu dengan kain yang ia ambil tadi.
"Ya, King."
"Bagus. Jika kau menuruti setiap perintah master-mu ini, maka kau akan mendapatkan yang kau inginkan."
Lalu Sebastian menarik tangan Ravena hingga membuat sang istri kembali berdiri. Lalu pria itu mulai mencumbu leher Ravena sambil menarik ke bawah resleting dress yang berada di punggung wanita itu hingga dress tersebut terjatuh ke lantai. Lenguhan pun mulai lolos dari bibir Ravena disaat pria itu semakin mempermainkan tubuh sang istri yang kini sudah polos.
"Mari kita mulai, Sugarboo." Bisik Sebastian tepat di depan bibir Ravena.
Diletakkanlah tubuh Ravena di atas ranjang dan diikatnya kedua kaki beserta tangan di setiap sudut ranjang tersebut hingga membuat wanita itu tidak bisa bergerak, menjadi permulaan percintaan panas malam itu. Di setiap gerakan pria itu yang terkadang kasar atau membuatnya merasa melayang, Ravena harus lebih menahan suaranya agar tidak banyak keluar. Karena dalam hal ini banyak sekali peraturan yang Sebastian berikan, dan jika sedikit saja Ravena melanggarnya maka wanita itu akan mendapatkan hal yang tidak nyaman dan sangat tidak diinginkan.
"Aku mohon," pinta Ravena dengan suara yang sudah sangat lelah.
Di pertengahan kegiatan mereka, sudah lebih dari empat jam waktu berlalu dan Ravena benar-benar tidak tahan lagi untuk menahan gelombang kenikmatan yang sejak tadi terus menerus dipermainkan oleh Sebastian. Ditambah lagi kedua tangan yang kini sedang digantung menggunakan rantai besi yang begitu tebal, dan kakinya pun yang juga tidak menyentuh permukaan, benar-benar membuat wanita itu menjadi sangat tidak berdaya.
"Kau ingin apa?"
"Aku tidak tahan lagi," balasnya dengan bergetar.
"Aku ingin mendengar suara teriakanmu dulu."
Bersamaan dengan ucapannya itu, Sebastian pun menuangkan panasnya cairan lilin yang ia ambil di dekatnya pada kedua buah d**a sang istri hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan. Kondisi Ravena dengan mata yang masih tertutup kain membuat wanita itu tidak siap karena tidak tahu apa yang sedang pria itu akan lakukan atau sudah dilakukan kepadanya.
"Aku menyukai suara teriakanmu, Sugarboo. Aku ingin mendengarmu yang memohon."
"Aku mohon."
"Aku tidak mendengar adanya nada memohon darimu," balas pria itu sambil melangkah menuju sebuah meja dengan berbagai macam alat cambuk di atasnya. "Katakan sekali lagi." Sambungannya.
"Aku mohon berikan aku kesempatan. Satu kali saja, Sebastian. Aku mohon."
Keberadaan pria itu yang kini di belakang Ravena dengan tangan dinginnya yang menyentuh perut wanita itu, membuat Ravena langsung bergidik di sekujur tubuhnya. Sentuhan kecil itu mampu membuat sang pemilik merasakan sensasi yang begitu luar biasa pada dirinya.
"Kau milikku, sampai selama-lamanya. Kau mengerti?" Bisik Sebastian tepat di telinga Ravena.
"Ya, aku milikmu."
"Sampai kapan?"
"Selama-lamanya."
"Kali ini kau benar-benar menjadi b***k yang baik untuk master-mu. Kau ingin mendapatkan yang kau inginkan?"
"Ya, aku sangat menginginkannya." Balas Ravena dengan nada putus asa.
"Satu kali aku mengizinkanmu mendapatkan gelombang kenikmatanmu. Tetapi kau harus mendapatkannya tepat pada cambukkan-ku yang ke sepuluh. Kau siap?"
"Y- akhh..." Teriak Ravena yang belum menyelesaikan ucapannya, namun Sebastian sudah mulai menjadikan bokongnya itu sebagai target pertama.
Rasa perih, nyeri dan sakit akibat ujung cambuk tersebut yang terbuat dari kulit dan ditambah lagi dengan bentuk banyak bercabang yang terasa begitu perih, membuat perasaan Ravena langsung bercampur aduk menjadi satu. Wanita itu hanya bisa berteriak kesakitan, dan ia semakin mencengkram kuat rantai besi yang mengikat kedua pergelangan tangan untuk menyalurkan rasa sakit yang ia terima di seluruh tubuhnya itu.
Dan sepanjang malam hingga pagi hari, hanya penyiksaan yang Ravena rasakan pada percintaannya bersama Sebastian kali ini. Seperti yang pria itu inginkan jika tidak ada kata istirahat pada kegiatannya itu, maka hingga langit di luar sana sudah terang pun ia masih tetap mengejar pelepasan yang belum ia dapatkan sejak semalam.
Sedangkan Ravena yang sudah hampir tidak sadarkan diri hanya bisa memeluk pinggang Sebastian dengan kedua kakinya dan ia pun juga mengumpulkan seluruh sisa-sisa tenaga, agar sang suami tidak merasa kecewa dengan dirinya. Suara desahan kenikmatan yang saling bersahutan dan bagaikan menggema di ruangan tersebut semakin membuat kedua insan itu tidak terkendali. Hingga pada akhirnya, pelepasan yang keduanya dapatkan pun mengakhiri kegiatan yang kurang lebih selama sepuluh jam lamanya itu berlalu.
Setelah melepaskan penyatuannya, Sebastian pun membuka kunci pada gembok yang mengikat tangan Ravena dengan rantai besi hingga tubuh wanita itu langsung jatuh ke dalam pelukan sang suami. Untung saja dengan sigap Sebastian menangkap dan menyanggah tubuh Ravena, jika tidak wanita itu sudah jatuh ke dinginnya lantai. Tenaga yang sama sekali sudah tidak dimiliki membuat wanita itu sampai tidak bisa berdiri dan menopang tubuhnya sendiri.
"Apa kau ingin membersihkan tubuhmu?" Tanya Sebastian sambil membuka kain penutup mata sang istri.
Ingin rasanya Ravena membuka mata untuk melihatnya kondisi tubuhnya yang pasti sangat memprihatikan. Namun jangankan membuka mata, membalas pertanyaan pria itu saja rasanya Ravena sudah tidak sanggup lagi.
"Tanganku sakit, seluruh tubuhku juga. Aku ingin beristirahat saja," balas wanita itu dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Kalau begitu tidurlah, aku akan membantumu memakai pakaian kembali dan setelah itu aku akan membawamu ke kamar." Ucap pria itu sambil membelai dan menciumi wajah Ravena.
"Benarkah? Terimakasih."
"Istirahatlah."
Tanpa menunggu lama lagi, Ravena langsung jatuh tertidur di pelukan Sebastian dengan nyaman. Ia sudah tidak mempedulikan dirinya yang masih tidak tertutup sehelai benang pun, karena saat ini tubuhnya benar-benar sudah tidak mampu lagi. Sedangkan Sebastian yang sudah memakai kembali pakaian miliknya dan begitu juga dengan wanita itu, ia pun langsung mengangkat Ravena ke gendongan dan membawa menuju kamarnya.
Ia mengerti dengan sang istri yang sedang benar-benar membutuhkan beristirahat setelah semalaman penuh mereka melewati malam yang menyenangkan dan menantang itu. Setidaknya pria itu masih memiliki sedikit sisi rasa kemanusiaan dengan mengizinkan Ravena beristirahat, setelah sebelumnya ia telah memperlakukan istrinya sendiri layaknya seorang b***k.
***
To be continued . . .