Duah buah pedang tajam kini mengarah ke leher Kenanga dan Alif. Mereka dikelilingi beberapa lelaki bertubuh hitam sebab terkena pekatnya air rawa. Gadis bisu itu melihat semuanya, kemudian ia teringat dengan legenda pasukan hantu yang konon diceritakan oleh para tetua dulu. Mereka merupakan pasukan yang ditakuti Belanda sebab pergerakannya yang sangat rapi dan menakutkan. Belum berhadapan saja sudah banyak yang memilih mundur. Beberapa marsose juga dibiarkan gila daripada mati dengan mudah, katanya. Keringat mengalir deras di dahi Alif. Ia tak ingin melepaskan Kenanga, tetapi untuk menyelematkan mereka berdua pun rasanya sudah tidak bisa bergerak lagi. Sudah sangat jelas Alif dan Kenanga kalah jumlah. “Siapa kalian?” tanya suara lelaki bertubuh hitam itu. Alif diam tak menjawab, ia mey

