"Eh, ada baby Leon. Baby ngapain sih nanyai mereka berdua, mendingan nanyai keadaan aku aja yang jadi seperti ini karena ulah mereka nih," ucap Keiza, sambil bergelayut manja di lengan Leon.
"Kamu itu apaan sih, lepasin!" ucap Leon sambil berusaha melepaskan tangan Keiza.
"Baby Davin, gimana kalau kita pergi aja dari sini?" tanya Jesellyn dengan bergelayut manja di lengan Davin.
"Lepasin tangan kamu sekarang juga dari lengan aku," ucap Davin dingin.
"Ih, baby kamu kok gitu sih," ucap Jeselly masih dengan nada manjanya.
"Aku sudah bilang lepasin tangan kamu dari lengan aku, sekarang juga!" ucap Davin masih menggunakan nada dinginnya.
"Nanti aku bilangkan ke papimu, kalau kamu membentakku," ancam Jesellyn.
"Emang lo itu siapa sih? Kenapa gue harus peduli, kalau lo bakal bilangin ke bokap gue?" tanya Davin dengan menggunakan nada dinginnya.
"Akukan calon tunanganmu, baby," jawab Jesellyn.
"Gue gak akan pernah mau tunangan dengan lo!" balas Davin.
"Tapi papimu kan menjodohkanmu denganku," ucap Jesellyn.
"Tapi sayangnya opa dan oma gue gak setuju, mami gue apalagi," ucap Davin.
"Tapi aku gak peduli, yang penting papi kamu kan setuju," balas Jesellyn.
"Oh ya, kita lihat saja. Di pertemuan berikutnya, katanya opa juga menginginkan untuk menjodohkanku sama cucunya teman opa. Kita lihat aja nanti, aku akan tunangan denganmu atau tidak. Kalau aku sih yakin yang dipilih opa lebih baik dari pada yang dipilih papi, secarakan papi belum tau kebusukkanmu. Dan jangan lupa di pertemuan nanti adalah penentuan siapa yang akan bertunangan denganku, siap-siap lo malu kalau sampai lo gak jadi tunangan dengan gue!" ejek Davin.
"Ya ampun Davin, Davin gimana lo bisa yakin kalau cucu teman opa lo lebih baik dari gue. Secara lo kan belum pernah bertemu, mendingan dengan gue yang sudah pasti aja," ucap Jesellyn.
"Sudahlah, Vin, orang gila kok kamu ladenin gak bakalan selesai sampai kambing jantan bisa melahirkan," sahut Leon.
"Iya, ayo kita pergi aja. Gak guna, lama-lama aku bisa masuk rumah sakit jiwa," ucap Davin.
"Kalian berdua, ikut kami sekarang!" perintah Leon.
Lalu Leon dkk beranjak pergi, Nic dan Clein pun mengekori mereka.
"Rio dan Iro kalian bisa mengantarkan Nic dan Clein pulang, 'kan? Karena kami masih harus melanjutkan acara sebagai panitia9" ucap Leon.
"Iya, Kak, kami bisa kok. Lagian kami kan hanya panitia acara ospek, gak ikut jadi panitia di pestanya," balas Rio.
"Kalian berdua pulanglah, Iro dan Rio akan mengantarkan kalian," Ucap Leon.
"Terima kasih, Kak, kami pulang duluan," pamit Clein.
"Iya," balas Leon.
Kemudian merekapun beranjak pergi dari pesta itu dan langsung menuju ke rumah.
"Kak Iro, gimana sehabis aku bersih diri kita pergi membeli martabak dan bakso yang ada di depan kompleks?" tanya Clein.
"Boleh, lagian aku juga gak suka di pesta. Berisik di pesta, setidaknya kamu dan Niclah yang menyelamatkan aku dan Rio. Kan daripada dipesta mendingan makan bakso sama martabak yang ada di jalan depan kompleks, kalau Kak Leon sama Kak Andro tau pasti bakalan marah-marah nanti sama kita," jawab Iro.
Kemudian mereka berdua tertawa membayangkan hal tersebut.
Tak lama setelah itu mereka telah sampai dirumah dan Clein pun segera bersih diri, begitu pula dengan Nic. Setelah selesai bersih diri Clein langsung menuju ruang keluarga, yang ternyata Nic telah ada di sana.
"Ayo kita berangkat!" ucap Clein dengan bersemangat.
"Oke, kita berangkat jadi satu mobil aja," ucap Rio.
Kemudian mereka berangkat menuju tempat jualan martabak dan bakso tersebut.
"Pak baksonya 4 porsi dan martabak keju 1, martabak coklat 1," pesan Iro.
"Iya, nanti di antar ke meja," balasnya.
Mereka menunggu sambil bercanda gurau, hingga makanan datang mereka langsung memakannya.
Mereka makan sambil berbagi cerita, setelah selesai makan mereka pergi ke cafe. Makan es krim terlebih dahulu, barulah mereka pulang jam 21:43 mereka sampai dirumah. Nic langsung berpamitan ke rumahnya dan yang ternyata papa dan mama serta kakak mereka telah pulang.
"Kalian bertiga darimana?" tanya Jasen.
"Pergi makan, Pa," jawab Rio.
"Kalian makan apa?" tanya Leon.
"Makan apa ya?" pancing Iro dengan smirk jahilnya.
"Pasti kalian makan bakso sama martabak!" tebak Leon.
"Iya, enak loh, Kak Leon," ucap Rio.
"Enak banget malahan," sahut Iro.
"Wah ..., jangan-jangan." Ucap Leon.
"Iya, memang," sahut Clein.
"Gak bawain aku pulang?" tanya Leon.
"Gak!" jawab Iro.
"Wuek, kalian kalian bertiga jahat. Pa, ma mereka gak bawain aku bakso sama martabak!" adu Leon, "Dan parahnya lagi, mereka nyuruh Princess bayarin mereka, Pa!"
"Ya kan kamu bisa beli, masak karena gak dibeliin bakso dan martabak aja jadi kayak anak kecil gini. Sayang yah, ini gak terjadi di sekolahan. Misalnya ini terjadi disekolahan, ntar mereka berfikir apa coba kalau ternyata ketua osis mereka perilakunya kayak anak kecil gini," ucap Jasen.
"Papa jahat banget sih, ini aku lagi sedih malah diledeki. Ma, papa jahat juga tuh!" ucap Leon.
Kemudian mereka pun tertawa, karena perilaku Leon yang seperti anak kecil itu. Dan Leon pun mengerucutkan bibirnya.
"Sudah, kids, sekarang waktunya kalian tidur. Sudah malam dan besok kalian masih harus sekolah," ucap Keyra.
"Yes, Mom," jawab mereka berempat.
Kemudian mereka pun beranjak kekamar tidur masing-masing.