Skandal Terbesar di Awal Tahun
Yang namanya skandal di dunia hiburan itu selalu menyebar lebih cepat daripada kebakaran hutan. Lebih cepat daripada melayangnya sepatu Mama ke wajahku saat aku ketahuan pulang malam di sekolah dasar. Dan lebih cepat daripada turunnya pamor seorang penyanyi pas-pasan setelah melakukan sebuah settingan untuk melakukan panjat sosial.
Dari mana aku mengetahui semua ini?
Pengalaman pribadi, tentu saja.
Pengalaman apa itu lebih tepatnya?
Pengalaman ketahuannya diriku yang sudah lama menjadi seorang alkoholik.
Menjadi seorang aktor muda dengan karir cemerlang, ditambah dengan kecenderunganku untuk minum setiap kali aku stres bukanlah perpaduan yang baik. Konsekuensinya? Sejauh ini sudah ada puluhan kontrak agensi yang membatalkan kerjasama denganku. Belum lagi minimnya tawaran pekerjaan, dan juga menyusutnya pengikut i********:-ku yang awalnya dua puluh enam juta menjadi dua puluh lima. Satu juta orang mengubah pikiran mereka kurang dari satu malam. Mereka hanya menghilang begitu saja, bak jin transparan menembus dinding.
Kurang dari hitungan beberapa jam, semua prestasi gemilangku selama lima tahun belakangan seolah pupus dan hanya menjadi latar belakang yang sama sekali tidak menarik perhatian orang. Bagaimana dengan prestasi nasional dari saluran televisi besar tanah air yang kumenangkan beberapa tahun lalu? Terlupakan. Kalau masuknya aku dalam nominasi aktor se-Asia Tenggara terbaik versi stasiun televisi swasta Korea Selatan, bagaimana? Terlupakan. Bagaimana dengan kerjasama yang kulakukan dengan UNICEF? Oh, tentu saja terlupakan.
Bukankah memang ini yang menjadi kenyataan pahit para manusia? Bahwa reputasi kita semua memang bak nila setitik rusak s**u sebelanga. Semua kebaikan yang pernah kulakukan seolah menguap ke udara, dan satu-satunya hal yang masih eksis dari keberadaanku hanyalah fakta baru kalau aku adalah seorang ‘alkoholik’ yang ‘bolak-balik tidur dengan wanita panggilan.’ Ya Tuhan, mereka bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, kurasa memang inilah yang dinamakan dunia hiburan. Tidak akan ada satu apa pun yang tampak glamor tanpa rasa kesakitan. Dengan kejujuran penuh, aku merasa bodoh karena sudah sejak awal aku mengetahui konsekuensi ini. Akan tetapi, aku yang terlalu berpikiran positif ini malah berusaha untuk membohongi diriku sendiri dengan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Nyatanya tidak pernah satu kali pun di dalam hidupku di mana semua akan berjalan sesuai rencana.
Pada saat seperti ini aku jadi lebih sering membayangkan diriku sendiri apabila aku tidak pernah terjun ke dunia akting. Mungkin aku sudah menjadi seorang arkeolog yang setiap pagi dan malam mencari dan meneliti artefak-artefak kuno. Bisa saja aku tersesat di pedalaman hutan yang ada di Timur Tengah, lalu dimakan harimau atau dijarah suku setempat sampai aku akhirnya dibantai. Maksudku, itu memang terdengar sinting. Dan apa yang aku lakukan sekarang pun jauh lebih sinting dari ekspedisi arkeologis mana pun.
Aku melarikan diri dari rumah.
Mungkin aku tidak akan dihabisi oleh suku pedalaman, tetapi aku tahu hal secara pasti: Kinan—manajerku—pasti akan membunuhku sendiri dengan kedua tangannya kalau dia mengetahui di mana aku berada saat ini.
Aku sudah berada di Australia sejak beberapa hari lalu.
Apa yang kulakukan di sini? Mungkin melarikan diri dari tanggung jawab. Mungkin melarikan diri dari tekanan mental yang menderaku belakangan ini. Mungkin karena setelah sekian lama pada akhirnya aku bisa berjalan dengan bebas tanpa akan ada orang yang mengenaliku.
Hey, siapa tahu mungkin aku kemari karena memang sudah bosan hidup. Aku tidak mengira kalau dampak dari lengsernya reputasiku akan memberikan efek yang seperti ini. Bahkan belakangan aku sampai kembali bicara pada Dokter Rosa, psikiater yang kuanggap layaknya anggota keluarga sendiri. Barangkali Dokter Rosa sudah bosan mendengar ceritaku yang itu-itu saja. Terkadang aku pun heran, mengapa pula dia mau mendengarkanku, Mamaku, dan Papaku? Sebuah fakta itu pun baru kuketahui beberapa tahun belakangan: sejatinya Mama dan Papa pernah mengunjungi Dokter Rosa untuk mendapatkan bimbingan konseling perihal hubungan rumah tangga.
Kendati demikian, entah karena Dokter Rosa yang tidak cakap atau karena memang kedua orang tuaku itu yang tidak tahu cara menolong diri sendiri, agaknya konseling yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil dan akhirnya Mama dan Papa bercerai lima tahun lalu—tepat ketika aku mulai melalang buana di jagat hiburan tanah air. Dan sekarang lihatlah aku: mulai mengikuti jejak kedua orang tuaku yang bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Aku rutin mendatangi sesi psikoterapi dengan Dokter Rosa dua tahun belakangan ini.
“Jadi sekarang kamu di mana, Noah?” tanya psikiaterku.
Inilah yang menjadi kebiasaan baruku selama tinggal di Australia: tersambung melalui video dengan dokterku tepat setelah aku pulang dari pesta. Sesi ini kulakukan tiga kali seminggu. Dilihat dari intensitas pertemuan kami—yang Dokter Rosa sarankan sendiri—aku tahu bahwa dia pasti berpikir kalau aku berada di ambang hidup dan mati. Bagaimana mungkin aku yang awalnya hanya menemuinya sebulan sekali kini menjadi seminggu tiga kali?
Kalau itu namanya bukan kegilaan, entah dengan kata apa lagi aku harus menyebutnya.
“Kamu sudah kabari Kinan kalau kamu mau pergi?”
Aku menggeleng singkat.
Dari panggilan video itu kulihat Dokter Rose membuang napas. Ia terdengar lelah. Dia menuliskan beberapa hal ke atas kertas medisnya. Terkadang aku penasaran setengah mati dengan apa yang dia coret-coretkan di sana. Kisah hidupku bagian mana yang telah mencuri perhatiannya? Dan apa yang paling banyak dia catat? Keluhanku tentang sesama aktor yang bermuka dua? Atau curhatan mengenai betapa aku merasa kalau aku tidak berbakat?
Ingin rasanya kucuri kertas medis tersebut dan menelannya bulat-bulat agar rahasia hidupku kubawa saja sampai ke liang lahat tanpa perlu diketahui orang lain.
“Kamu tahu apa konsekuensi dari ini semua, kan?” tanya Dokter Rosa terdengar hati-hati.
“Saya tahu, Dok,” jawabku. “Tapi saya pergi setelah sudah menyelesaikan semua urusan yang saya punya, kok. Jadi seharusnya ga ada masalah.”
“Bertahun-tahun mengenal kamu, saya tahu kalau kamu adalah orang yang bertanggung jawab,” ujar Dokter Rosa. “Yang menjadi maksud saya adalah, apa kamu memikirkan bagaimana perasaan orang-orang terdekat kamu begitu mengetahui kalau tiba-tiba kamu hilang tanpa kabar?”
Menunduklah aku dalam-dalam.
“Memangnya apa yang membuat kamu memilih untuk tidak memberitahu mereka?”
“Saya cuma…,” aku tercekat, “ingin sendirian.”
Lagi-lagi suara hela napas panjang Dokter Rosa menjadi satu-satunya media percakapan kami. Dan suaranya itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa semakin buruk. Astaga, aku ini memang sudah sinting rupanya. Bagaimana bisa aku tersinggung hanya dengan mendengar helaan napas seseorang?
“Saya mengerti,” ujar Dokter Rosa setelah beberapa saat terdiam. “Belakangan ini stres sekali, ya, buat kamu?”
Aku tertawa mendengar pertanyaannya itu. “Bukan stres lagi, Dok,” ujarku dengan senyuman nanar. “Saya pingin mati rasanya.”
Oh, sialan. Apakah aku baru saja mengatakan hal itu keras-keras?
Dokter Rosa membuka mulut, tetapi aku sudah keburu menyambar duluan, “Dok, saya hubungi lagi nanti, ya?”
“Noah—”
“Selamat malam Waktu Indonesia Barat, Dok.”
Sambungan terputus. Sialan. Kalau Dokter Rosa sampai memberitahu Kinan apa yang baru saja terjadi, aku yakin kalau manajerku itu pasti tidak akan membiarkanku sendirian!
Aku membentur-benturkan kepalaku ke kemudi mobil. Di saat seperti ini, yang paling nikmat adalah… melepas stres dengan minum.
Begitu pemikiran itu terlintas di dalam benakku, aku langsung menggelengkan kepala kuat-kuat. Bagaimana bisa di saat seperti ini aku…?
Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak minum lagi. Setiap kali melihat minuman beralkohol, di dalam kepalaku sekarang terngiang-ngiang suara pembawa acara berita pagi yang mengumumkan kabar mengenai skandal yang menyeret namaku. Saat pertama kali aku menonton berita tersebut, kebisingan di sekelilingku mendadak teredam seakan aku ini berada di dalam sebuah ruangan kedap suara. Ingar-bingar tim manajemenku yang berteriak tak terima tidaklah menggangguku. Yang bisa kudengarkan hanyalah suara retaknya reputasiku yang runtuh bagai gemuruh terompet sangkakala.
Aku pingsan setelah menonton berita pagi yang pertama kali mengumumkan aib terbesarku tersebut. Semenjak kejadian hari itu, Kinan sama sekali tidak memperbolehkanku menonton televisi atau membaca berita dalam bentuk apa pun. Notifikasi dari ponselku sengaja dia nonaktifkan. Dia pun menghapus seluruh aplikasi media sosial yang kupunya. Awalnya aku masih memiliki akses kepada alamat surelku, tetapi seiring dengan maraknya ujaran kebencian yang ternyata mulai merambah surel agensiku, Kinan akhirnya terpaksa menghapus aplikasi surel juga.
Lalu apa yang ada di dalam ponselku saat ini? Hanya ada aplikasi pemesan makanan. Dan itu pun karena aku berhasil meyakinkan Kinan kalau setiap driver yang menjemput pesananku tidak akan menindasku tepat di depan pagar rumahku sendiri.
Hidup ini sungguh lucu, bukan? Satu kesalahan, dan aku langsung menjadi penjahatnya.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk berkendara tak tentu arah menyusuri jalanan kota Queensland. Aku terus menginjak gas bahkan hingga aku memasuki kawasan yang terasa tidak familier bagiku. Sebelum ini aku memang sudah beberapa kali mampir ke negara ini, tetapi hanya kawasan kota besarnya saja. Untuk kasus seperti ini, aku rasa aku tersesat.
Aku menghentikan mobilku tepat di tepi jalan yang diapit pepohonan oak di kanan dan kirinya. Ketika mengecek aplikasi peta, aku mulai menyadari betapa jauhnya aku dari rute yang biasa kulalui. Pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari dalam mobil untuk merokok sejenak.
Rute malam itu lengang. Jalanan yang ada di depanku sama sekali tidak tampak seperti aspal biasa. Ada sesuatu yang membuat tanah yang kupijak seakan seperti sedang menyala dan berpendar dengan warna ungu kebiruan. Aku mengerjapkan kedua mata.
Wah, aku tidak menyangka kalau penyakit mentalku sudah separah ini. Halusinasi kegilaan level keberapa yang baru saja kulihat?
Kujentikkan pemantik zippo milikku guna menyulut rokok yang terselip di sudut bibir. Namun, hela angin malam sekonyong-konyong berhembus tepat di sebelah telingaku, membuatku terasa seperti sedang ditepuk lembut tepat di wajah bagian kiri.
Aku terjengit kaget hingga batang rokok itu lolos dari mulutku. Begitu aku melihat sekeliling, aku baru menyadari satu hal: ada sesuatu yang tampaknya memerhatikanku.
Apa itu yang baru saja bergerak di seberang sana?
*