Binar yang Buat Merinding

1198 Kata
Ketika aku masih belia, aku selalu menghindari satu hal tanpa terkecuali: pelajaran pramuka. Mungkin ini salah kedua orang tuaku yang terlalu memanjakanku, tetapi aku bukanlah manusia yang bisa bertahan hidup di alam. Tidak peduli seberapa hebatnya nenek moyangku dalam bertarung dengan tangan kosong melawan singa, aku yakin aku akan langsung diare kalau meminum langsung air sungai. Atau mengalami infeksi kulit mematikan karena gigitan nyamuk seukuran biji jagung. Maksudku, hutan—sekalipun menjadi sebuah ekosistem tempat tinggal banyak spesies hidup—bukanlah lagi menjadi tempat tinggal yang layak bagi manusia. Kita semua sudah terlalu bergantung kepada kehidupan modern untuk bisa bertahan melawan kejamnya hukum rimba. Bukan begitu? Atau setidaknya… itu apa yang aku pikirkan sebelum aku menyeberangi jalan. Aku telah berusaha untuk termenung di samping mobilku sambil menajamkan pendengaran, kalau-kalau aku menangkap bebunyian yang mencurigakan. Akan tetapi, yang kudengar hanyalah desiran lembut angin malam. Apabila pendengaranku memang tidak salah, seharusnya tadi memang ada suara kasak-kusuk yang berasal dari seberang jalan. Sayangnya ketika aku berusaha untuk melebarkan telinga, keributan itu malah hilang ditelan gelapnya malam. Apa yang tadi itu hewan liar? Perompak berkulit putih? Apa-apaan itu tadi? Tanpa alasan yang jelas aku tertawa pada diriku sendiri. Maksudku, headline apa yang akan muncul di halaman pertama berita di lini massa kalau semisal aku memang mati diterkam singa? Apa khayalak luas akan langsung berkabung dan berpura-pura berbelasungkawa, padahal ketika aku masih hidup mereka semua hanya mampu mengatakan hal-hal yang membuatku sesak di d**a? Mungkin diterkam singa asyik juga, ya? Terkekehlah aku dalam gelap. Sebelum aku melakukan hal-hal yang kusesali nantinya, aku pun kembali memasuki mobil dan menginjak gas dalam-dalam. Aku harus keluar dari hutan ini. Pohon-pohon yang ada di sini seolah berbisik padaku bahwa sesuatu yang ada di sini semakin lama akan semakin membuatku kehilangan akal. Mobilku berpacu dengan kecepatan tinggi tanpa aral lintangan berarti. Tepat ketika aku berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja, sekonyong-konyong sesuatu berkelebat cepat di depan kaca mobilku. Tanpa pikir panjang, aku langsung banting setir ke kanan. Bukannya berhenti ketika aku menginjak rem, mobilku malah tergelincir semakin dalam ke memasuki hutan. Suara gesekan dahan pepohonan yang rimbun dengan badan kendaraanku seakan menjadi irama terakhir yang secara perlahan mengantarkanku menuju ajalku yang sejati. Inilah akhir dari semua ini. Akhir dari 27 tahun hidupku. Begitu kusaksikan jurang di depan sana, rem di bawah kakiku telah berhenti bekerja. Bagian depan mobilku tersangkut di antara akar pohon yang menjuntai hingga ke pinggir jurang. Bersamaan dengan tersangkutnya moncong mobilku, hentakan yang ditimbulkan dari penghentian mendadak itu mengirimku menembus kaca depanku sendiri hingga aku melayang dan terjun bebas ke dasar jurang. Para kakek-nenek moyangku, akhirnya aku akan bertemu kalian. Ketika kita minum teh dengan penuh kekeluargaan di alam baka, aku akan memberitahu kalian kalau menjadi aktor adalah kesalahan terbesarku. Dan mungkin kalian akan memberitahuku kalau melahirkan nenek dari nenekku dari neneknya nenekku adalah keputusan yang salah pula. Nyatanya, kalau kalian tidak pernah ada, aku pun tidak perlu repot-repot melompat indah menuju ambang kematianku. * Seumur hidupku aku sama sekali belum pernah mengalami sakit yang terlalu serius. Boro-boro sakit kronis, saking paranoidnya aku, biasanya aku langsung ke UGD begitu aku mengalami keluhan terkecil sekalipun (aku pernah melarikan diriku ke rumah sakit karena  mengalami flu yang ternyata sembuh setelah minum obat warung pemberian Kinan.) Sekarang, bayangkan bagaimana reaksiku ketika sekujur tubuhku telah dibumilebamkan oleh bebatuan yang ada di dasar jurang. Sebelum kehilangan kesadaranku aku sempat merasakan deraan rasa nyeri yang berasal dari atas kepala hingga bawah kakiku. Tulang-tulangku seakan hancur berkeping-keping, dan aku terlalu kesakitan bahkan hanya untuk berteriak meminta pertolongan. Darah mengalir dari kepalaku dan aku tak lagi bisa menggerakan bahuku barang sejengkal pun. Betapa congkaknya aku ketika aku berpikir kalau Tuhan akan memberikanku kematian yang mudah. Tentu Dia akan menyiksaku terlebih dahulu, kan? Tentu Dia tidak akan memberikanku apa yang kuinginkan dengan mudah, kan? Lagipula, aku ini sudah terlampau berdosa. Aku yakin Tuhan tidak akan sudi mendengarkan doa-doa yang kupanjatkan dengan putus asa. Dengan kesadaranku yang tinggal seujung jari, kedua telingaku menangkap suara sebuah lonceng. Apakah ini adalah musik latar masuk surga? Atau bahkan neraka? Dengan pandanganku yang mengabur, aku melihat sekelebat makhluk raksasa yang perlahan-lahan mendekatiku. Seekor gajah? Di punuknya telah duduk seseorang yang dengan tenang mengamatiku dari tempatnya berada. Sosok tersebut melonjak turun dari atas binatang tersebut dan berhamburan ke arahku. Tidak kusangka malaikat maut memiliki wujud seorang wanita. * Sejujurnya, aku pernah mengalami koma. Ini terjadi ketika aku tanpa sengaja jatuh dari atas tangga di rumahku sendiri karena aku setengah mabuk dan lupa menyalakan lampu. Terjeremebablah aku hingga terkapar di bagian bawah tangga. Entah bagian mana saja yang terbentur, tetapi berdasarkan informasi dari Kinan, aku koma selama kurang lebih tiga hari. Lucunya, aku malah tidak menyadari kalau aku sedang berada di ambang antara hidup dan mati. Aku mengira kalau aku sedang tertidur panjang dengan mimpi yang tidak berkesudahan. Setelah terbangun dari koma itu pun aku menyadari kalau satu-satunya indera tubuhku yang masih berfungsi adalah pendengaranku. Aku masih bisa mendengarkan Kinan yang bercakap lembut di sebelahku; suara Mama yang menangis lirih selagi meminta maaf entah tentang apa; dan suara helaan napas Dokter Rosa yang ternyata sempat menjengukku. Kupikir itu semua adalah bagian dari bunga tidurku, tetapi ternyata setelah terbangun pun, orang-orang di sekitarku bisa mengonfirmasi kalau apa yang telah aku dengarkan itu benar adanya. Oleh sebab itu, aku tahu benar kalau kali ini pun aku tidak salah. Inilah yang mengagumkan dari manusia. Saking gigihnya tubuh kita ini untuk berjuang agar bisa meneruskan hidup, ketika salah satu indera kita hilang, maka indera yang lain akan ‘mengompensasi’ kehilangan tersebut. Cara kerjanya seperti kekuatan indera yang dirampas itu akan mengamplifikasi kinerja indera yang lain. Contohnya adalah apa yang terjadi kepadaku. Aku tidak bisa melihat atau menggerakan tubuhku sama sekali. Namun, sebagai gantinya aku jadi mampu mendengar berbagai macam bebunyian selama aku tertidur. Dari suara gemericik air yang menetes-netes; suara kicau burung; teriakan monyet yang mengobrol dengan satu sama lain… semua macam bebunyian yang ada di hutan itu seolah terpatri ke dalam memoriku. Adalah satu suara yang setiap saat tidak pernah berhenti kudengarkan secara terus menerus: kelentingan lonceng yang sepertinya melambai-lambai di tiup udara. Suara lonceng itu juga pasti dibarengi oleh kehadiran sosok malaikat maut. Suara napasnya itu terdengar kasar dan kelelahan. Aku pun memerhatikan kalau dia cenderung bernapas lebih cepat ketika udara sedang dingin. Berulang kali dia meniup-niup sesuatu yang kurasa adalah kedua tangannya sendiri. Ini sering terjadi ketika dia menyalakan api unggun. Yang paling mengejutkanku adalah fakta bahwa dewi kematian ternyata juga bisa tertawa. Ia malah terdengar begitu merdu ketika sedang terbahak. Ada sesuatu dari suaranya yang mengingatkanku dengan masa mudaku. Masa di mana hidupku masih tenang tanpa masalah ataupun gejolak yang berarti. Masa di mana aku tidak perlu memalsukan senyuman bahkan ketika aku sedang perlahan-lahan mati dalam hati. Tawa malaikat mautku mengingatkanku kepada masa di dalam hidupku ketika semuanya… baik-baik saja. Di dalam tidurku aku tersenyum membayangkan sesuatu yang mungkin telah membuatnya tertawa. Apakah ada sesuatu yang sebegitu jenaka hingga dia terpingkal bebas seperti itu? Atau sejatinya dia juga segila diriku ini yang menggunakan tawa sebagai salah satu pelipur lara? Aku ingin melihatnya. Aku ingin tahu apa yang sudah menggelitik benaknya dengan jenaka. Aku ingin tertawa bersama dengannya. Tanpa kusadari, jari-jemariku perlahan bergerak dari tempat mereka semula. Mengerjaplah kedua mataku terbuka. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN