Sang Malaikat Maut terduduk di sana, di atas salah satu akar pohon yang tak jauh dariku. Dia sedang bermain dengan sesuatu yang tampaknya adalah seekor anjing. Atau mungkin serigala?
Dari tampaknya aku langsung tahu bahwa dia bukanlah orang kulit putih. Fitur wajahnya itu mengingatkanku terhadap orang Mongolia. Kulitnya kecokelatan, dan dia jauh lebih pendek daripada apa yang kukira. Bahkan ketika dia duduk santai seperti itu, serigala di depan wajahnya masih tampak lebih tinggi daripada separuh tubuhnya. Rambut wanita tersebut panjang dan tak terawat. Di beberapa bagian aku bisa melihat ujung rambutnya menggimbal.
Malaikat Mautku mengenakan sebuah mantel abu-abu kumal yang sudah sobek di berbagai sisi. Pakaiannya itu tampak terlalu tipis untuk musim semi Australia. Namun, dia sama sekali tidak tampak kedinginan.
Setelah beberapa saat membuka mata, aku hanya bisa termenung di sana.
Aku tidak meyangka kalau sosok yang di dalam kepalaku yang selama ini kupanggil ‘Malaikat Maut’ akan terlihat begitu… nyentrik.
Aku berusaha menggerakan tubuhku, tetapi aku baru menyadari kalau separuh badanku kini telah terlumuri oleh adonan kasar yang berbau seperti rempah-rempah. Setelah memerhatikan, aku pun mengetahui bahwa sepertinya sesuatu yang telah dibalurkan ke atas tubuhku itu adalah hasil tumbukan tumbuh-tumbuhan. Aromanya yang menguar membuatku mendesah kasar. Aku tidak pernah menyukai bebauan yang terlalu menyengat.
Begitu aku membuat suara, Malaikat Maut langsung melompat dari tempatnya duduk, terkejut mengetahui bahwa aku sudah sadar. Serigalanya itu sudah memamerkan taring-taringnya yang tajam dan mengambil posisi di depan wanita tersebut dengan gestur tubuh siap siaga. Binatang liar itu mengeram buas, memaksa seluruh bulu kudukku untuk berdiri tegak.
Bayangkan kalau aku mati dicabik-cabik taringnya yang tajam.
Malaikat Maut hanya bisa memerhatikanku dari jauh. Sejatinya aku berusaha untuk duduk tegak, tetapi bahuku membunuhku. Jadi alih-alih menyapa, aku malah mengerang dan itu membuat serigala di depanku semakin menjadi.
Tercekat, aku berusaha berkata dalam Bahasa Inggris yang fasih, “Aku… aku hanya berusaha untuk—” Kalimatku terpotong lantaran kerongkonganku yang secara mengejutkan begitu kering. “Uh, aku—” Yang keluar dariku hanya embusan napas terputus-putus bak orang sekarat. Atau mungkin sudah bukan ‘bak’ lagi.
Separuh diriku berharap kalau aku tidak pernah bangun. Nyatanya, dengan terjaganya aku, semua tulangku kembali terasa ngilu dan aku bahkan tidak bisa bicara.
Malaikat Maut masih memandangiku dari tempatnya sebelum akhirnya dia berjalan mendekat. Satu hal itu kembali mengejutkanku: dia sama sekali tidak berjalan seperti manusia.
Ia menempelkan buku-buku jari kedua tangannya ke atas tanah; punggung melengkuk ke depan, dan kaki yang secara aneh mekangkang dengan terlalu lebar.
Dia bergerak layaknya simpanse.
Wanita itu mendekatiku, dan aku pun menggunakan kesempatan itu untuk mengamati wajahnya. Terdapat bintik-bintik hitam samar di sekitar hidung dan pipi bagian dalamnya. Freckles? aku bertanya dalam hati. Bibirnya itu pecah-pecah, dan giginya tampak kekuningan. Semua aspek dari penampilan dan gerak-geriknya membuat benakku bergemuruh dengan berbagai pertanyaan yang tak terjawab.
Kedua mata wanita itu sebening kristal. Kalau tidak mengerjapkan kedua mata untuk menepis pusingnya kepalaku, aku pasti sudah berpikir kalau dia itu hantu—kedua pupilnya berwarna abu-abu mendekati putih. Dan di saat itu pula aku mengetahui satu hal: itu tidak sepatutnya terjadi. Apakah dia punya gangguan pengelihatan? Tidak mungkin. Tatapannya itu tajam dan fokus, bahkan terlalu fokus sampai aku mengira dia sedang menelanjangiku dengan kedua matanya.
Nyatanya memang itu yang sedang dia lakukan: mengamati fitur wajahku dari jarak yang secara canggung begitu dekat. Namun, sama sekali tidak ada keraguan yang terbersit di dalam wajahnya. Bukan hanya memerhatikan, dia juga mengendusku. Mulai dari leher, d**a, bahkan hampir ke—
“Hey, hey!” teriakanku yang serak membelah udara. “Kau tidak bisa mencium bagian itu!”
Serigala yang tadi sudah mulai tenang di balik punggungnya langsung merangsek maju begitu aku berteriak. Yang tentu saja kembali membuatku memekik. Serigala itu sudah melonjak tepat ke atas pangkuanku, siap merobek kepalaku dari tubuhku.
Bukannya berusaha menolongku, wanita itu malah menjentikkan jari, dan eraman serigala di depanku sontak berhenti.
Hewan itu kembali ke tempatnya semula. Ia sempat berputar-putar mengejar ekornya sendiri sebelum akhirnya meringkuk di atas tanah seperi sebuah bola sepak. Entah mengapa, dia mengeluarkan suara ringikan yang membuatku berpikir kalau hewan itu ketakutan.
Apakah wanita ini baru saja melakukan…?
Aku berusaha berkata, “Apa yang—”
Tak sempat menyelesaikan pertanyaanku, tiba-tiba aja saja wanita itu sudah menjorokkan sesuatu ke depan wajahku: sebuah botol air yang terbungkus kain kulit yang sama-sama kumal seperti pakaiannya. Aku berusaha meraih benda tersebut dengan tangan kananku, tetapi aku segera berseru lirih lantaran sengatan rasa nyeri yang masih kurasakan di bahuku. Aku yakin seratus persen bahwa setidaknya ada tiga tulang patah di sekujur tubuhku.
Wanita itu tampak kebingungan karena aku telah membiarkan tangannya menggantung di udara terlalu lama. Dia memiringkan kepalanya ke samping. Mirip Fluffy—anjing peliharaanku—ketika dia sedang penasaran dengan sesuatu yang ada di hadapannya.
Aku berusaha menjelaskan diri, “Uh, tanganku tidak bisa kugerakkan.” Aku melirik ke arah bahuku sendiri. “Bahuku sakit.”
Entah mengapa, tampaknya hal itu menarik perhatiannya. Ia mendorong tubuhku kembali ke atas tempatku tadi berbaring. Ternyata tanah di bawahku sudah dialasi oleh dedauan besar yang disusun sedemikian rupa hingga mengingatkanku kepada matras.
Malaikat Maut menumpukan kepalaku ke atas tangannya, dan dengan tangannya yang lain dia mempertemukan bibirku dengan bibir botol miliknya. Sekalipun rasanya mirip air sungai—mungkin memang sudah bukan mirip lagi—aku tetap meneguk air tersebut dengan buas bahkan sampai ke titik darah penghabisannya.
Ia kembali meletakkan kepalaku ke atas dedaunan. Tanpa berkata-kata, wanita itu berjalan menjauh, masih dengan cara yang aneh. Dan serigalanya mengikuti. Mereka berdua kembali dengan membawa sesuatu yang kuyakini adalah beberapa buah apel merah. Aku tidak yakin apakah mereka betul-betul apel karena mereka memiliki semacam kerutan di permukaannya, yang membuatku berpikir untuk sesaat kalau mereka sudah busuk. Namun, warna merahnya yang segar jelas membuat mulutku berair.
Lagi-lagi aku berusaha untuk meraih, tetapi digagalkan lagi oleh rasa sakit. Wanita itu sudah menyantap buahnya dengan rakus bahkan hingga menimbulkan suara kecapan yang sangat nyaring di telinga. Aku mengerutu. Bagaimana pula dia bisa memakan sesuatu yang bahkan tidak bisa kusentuh?!
Aku membuka mulut untuk mengerutu. Di saat yang bersamaan Malaikat Maut sudah menarik tengkukku dan menghentakkan kepalaku ke depan. Sepersekian detik kemudian dia sudah mencuri empuknya bibirku. Aku berusaha membebaskan diri, tetapi aku terlampau lemah bahkan hanya untuk sekadar menggeliatkan tubuh. Kututup kedua mataku selagi sesuatu itu memasuki rongga mulutku. Bukan lidahnya, tetapi apel yang sudah dia kunyah.
Menjijikaaaan!
Sontak kugigit bibir bawahnya keras-keras dan dia memekik nyaring. Segera kumuntahkan apel di dalam mulutku ketika ia sudah membebaskanku. Dia langsung beringsut ke belakang dan bersembunyi di balik salah satu pohon. Serigalanya sudah ribut lagi, tetapi kali ini aku juga siap membuat kegaduhan!
“Kamu itu ngapain?!” teriakku dalam Bahasa Inggris.
Wanita itu mengintip dari balik pohon, dia tampak kebingungan. Sorot matanya terlihat sedih selagi ia mengusap-usap bibirnya yang berdarah dengan tangannya sendiri. Sebelum akhirnya dia melipat dahi dan kembali berjalan menjauh dengan bantuan buku-buku jarinya. Serigalanya lagi-lagi mengekor.
Ya, pergi saja sana! Siapa pula yang ingin berhadapan dengan manusia bar-bar sepertinya? Pergi—
Oh, ternyata dia sudah kembali. Kali ini dia memamerkan sesuatu yang tampaknya adalah batu yang telah diasah hingga ujungnya menjadi setajam belati. Dia meraih apel yang ada dan mulai memotong buah tersebut menjadi bagian-bagian yang kecil. Begitu ia selesai, wanita itu hanya mampu memandangiku dengan sepotong apel di tangan kanannya.
Dia menatapku. Secara mengejutkan ia terlihat sedikit ketakutan. Aku memutar bola mata, tetapi memutuskan untuk membuka mulut. “Masukkan ke sini,” perintahku. Dan ia menurut.
Beberapa menit selanjutnya diisi oleh suara mulutnya yang memamah apel bersamaku. Dia duduk di sisi kepalaku dan dengan sabar menungguku untuk selesai mengunyah dan menelan apel pemberiannya. Hingga aku rasa dia bosan—dia barusan menghembuskan napas panjang.
Aku berkata, “Maaf kalau aku yang sekarat ini membuatmu bosan.” Apa dia paham sarkasme?
Dia pun akhirnya memilih untuk tidur di atas tanah, tepat di sampingku. Dia berbaring di atas pundak kirinya, menghadapku dan masih mengamatiku tanpa lelah. Dari jarak sedekat ini kedua matanya besar itu masih dengan sabar menunggu. Sesekali dia menyentuh pipiku, entah untuk alasan apa. Sekalipun dia sedang berbaring, ia masih menilikkan kepala seolah-olah sedang mengagumi sesuatu—yang tak lain adalah aku.
Bukankah aku yang seharusnya melihatnya dengan tatapan seperti itu? Maksudku, yang tidak normal di sini adalah dia, bukan aku. Yang berpakaian ala-ala tarzan adalah dia, bukan aku. Dan yang berjalan layaknya kingkong itu dia, bukan aku!
“Bisa tidak kamu berhenti menatap saya seperti itu?” tanyaku selagi mengunyah.
Kendati demikian, kedua matanya yang abu-abu masih tak bergeming. Pada akhirnya aku menggerang kesal. Harus dengan bahasa apa aku perlu bicara agar dia mengerti?
*