Di lorong rumah sakit, langkahnya melambat.Di kejauhan, ia melihat sosok perempuan berhijab yang sangat ia kenal. Jantungnya berdegup kencang. “Sabrina!” Azzam berlari kecil, lalu menepuk bahu perempuan itu pelan. Perempuan itu menoleh. Bukan Sabrina. “Maaf,” ucap Azzam cepat. Perempuan itu tersenyum maklum, lalu berlalu. Azzam berdiri diam beberapa detik. Dadanya terasa sesak. Ia menghela napas panjang. Entah kenapa, ke mana pun ia melangkah, pikirannya selalu kembali pada satu nama. Sabrina. Seolah perempuan itu menetap di setiap sudut pikirannya, dalam sunyi, dalam harap, dan dalam rindu yang tak terucap. Azzam Langkah kakiku menyusuri lorong ini terasa lebih berat dari saat aku datang. Padahal yang kubawa hanya tas dan ponsel. Tapi entah kenapa, rasanya seperti meninggalkan

