Satu kesempatan diantara luka

1213 Kata

Namun jauh di dalam batinnya, satu prasangka mulai tumbuh, prasangka yang bisa saja salah, tapi cukup kuat untuk melukai. Dokter Aditya melangkah cepat, membuka pintu ruang kerjanya. “Masuk,” ucapnya singkat. Azzam mengikutinya. Begitu pintu tertutup, suasana berubah drastis. Tanpa peringatan— BUGH! Tinju Aditya mendarat keras di wajah Azzam. Azzam terhuyung ke belakang, kaget. “Mas, apa—” Belum sempat Azzam menyelesaikan kalimatnya, Aditya kembali melayangkan pukulan. Kali ini lebih keras. Emosi yang selama ini ia tahan akhirnya meledak. Azzam refleks ingin membalas, tapi Aditya lebih cepat. Beberapa pukulan mendarat bertubi-tubi hingga Azzam terduduk di sofa, napasnya terengah. “Kurang ajar kamu, Azzam!” bentak Aditya dengan mata merah. “Kamu sakiti Sabrina tepat di hari perni

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN