Saat kebenaran datang terlambat

1824 Kata

Lampu kamar menyala temaram, tapi suasananya dingin. Kirana sudah berbaring membelakangi pintu sejak tadi, pura-pura tidur. Aksha berdiri di ambang kamar cukup lama, menatap punggung istrinya yang kaku. “Kirana,” panggil Aksha akhirnya. Tidak ada jawaban. Aksha menutup pintu, melangkah mendekat. “Kita harus ngomong.” Kirana menarik selimut lebih tinggi. “Aku capek, Mas.” “Itu alasan kamu setiap hari,” suara Aksha mulai meninggi. “Sejak kapan kamu sejauh ini sama aku?” Kirana diam. Aksha menghela napas kasar. Dadanya naik turun. “Kamu berubah. Dingin. Menjauh. Nolak disentuh. Nolak ditemani. Jangan bilang aku nggak boleh curiga.” Kirana bangkit duduk seketika, menatap Aksha dengan mata tajam. “Maksud kamu apa?” Aksha menelan ludah, tapi emosinya sudah telanjur naik. “Apa kamu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN